Sangat Mudah Menemukan Makanan Halal di New York City, Amerika.



Salah satu tantangan yang sering dihadapi pelancong muslim di luar negeri adalah makanan halal ( halal food ). Tak jarang ada yang rela membawa makanan dari rumah, sekadar memakan roti dan bahkan menahan lapar demi menghindari makanan yang dilarang dalam agama (bangkai binatang, babi, atau anjing).

Namun, kekhawatiran itu tak berlaku saat saya berkunjung ke Kota New York, Amerika Serikat. Meski penduduk muslim di pusat ekonomi Amerika ini hanya 1,1 persen dari total populasi umat beragama, bukan berarti makanan berlabel halal susah didapat. Soalnya, gerai kecil berlabel halal food sangat mudah ditemukan di sepanjang ruas jalan.
Pengalaman ini turut saya rasakan langsung sesaat sesudah rapat dengan agenda yang begitu menguras pikiran dan emosi, bersama Duta Besar Ukraina dan Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di masing-masing kantornya.  Saya bersama UN Youth Representative yang masing-masing terdiri dua pemuda asal Rusia dan dua pemuda asal Amerika memilih mencari camilan di sekitar gedung PBB yang terletak 1st Avenue New York City, Amerika.
Ukraine Ambassador for UN houses/doc pribadi
 Awalnya salah satu di antara kami ingin menikmati sepotong pizza di salah satu kedai. Namun, saya dan Tamerlan, pemuda asal Rusia, yang beragama muslim menawarkan kedai dengan label halal sebagai destinasi dan penghangat perut kami semua di tengah dinginnya kota New York siang itu. Tak butuh waktu lama untuk kami menemukan kedai berlabel halal. Sebuah mobil box berukuran 3x10 meter cat hitam dengan balutan stiker kebab ala Middle East, dan tulisan arab bertuliskan halal di setiap sudut mobil bagian belakang tampak sedang terparkir di seberang jalan yang sedang kami lalui. Tapi, ketiadaan zebra cross di area itu menghalangi kami untuk ke sana. Tak jauh kaki melangkah, sekitar 50 meter dari mobil itu terparkir, kembali terlihat sebuah mobil dengan ukuran lebih kecil berdiri di tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan. Tulisan halal dan kalimat Masya Allah berbahasa Arab sangat mudah terdeteksi oleh mata saya. Saya pun menawarkan itu kepada teman lainnya.
Rusia Ambassador for UN



 Lantas, kami memilih mobil ini untuk menikmati beberapa sajian makanan. “Assalamualaikum, akhi” ucap saya kepada seorang pria berperawakan 40 tahunan itu. “wa’alaikumussalam warahmatullah wabaraka. Alhamdulillah,.” jawabnya sambil menawarkan beberapa makanan yang ia miliki. Terlihat dari logat ucapan salam yang dijawab olehnya dan bahasa Inggris yang digunakannya tampak bahwa pria ini keturunan timur tengah. Hal ini semakin terbukti dari varian makanan yang tersedia umumnya berciri khas negara padang pasir. Sebut saja kebab ayam, nasi ayam kari, dan lain-lain. Hal yang membuat saya semakin bersyukur adalah harga yang ditawarkan untuk satu porsi makanan sangat lah murah untuk kota sebesar New York, yakni satu porsi dihargai sebesar $5 atau 72 ribu dan paling mahal $6. Harga ini tertinggal jauh jika kita makan di restoran yang mana harganya bisa mencapai ratusan dolar sekali makan. Selain murah, jumlah yang disediakan oleh pemilik gerai halal ini pun sangatlah banyak. Sebagai orang Aceh, saya sampai kewalahan menghabiskannya.
Di dalam gedung UN memakai syal Palestina.

Di dalam gedung UN, New York, Amerika.
Mudahnya menemukan kedai berlogo halal di New York secara tidak langsung telah menjadi destinasi wisata tersendiri bagi New York. Hal ini terbukti, hampir di setiap gerai halal yang terparkir di pinggir jalan kota New York selalu dibanjiri oleh pembeli. Sebagai buktinya, saat saya mencoba menelusuri key word halal food maka mesin pencari Google akan memberikan ribuan pilihan tempat.

Bersama Muhammad asal Tunisia di Times Square, NYC

New York bukanlah kota yang didominasi oleh penduduk muslim. Walau demikian, makanan halal sangatlah mudah dijumpai di sini. Hampir setiap sudut avenue akan terlihat kedai berlabel halal.
Mengamati apa yang terjadi di lapangan. Saya berkeyakinan besar bahwa pertumbuhan muslim akan semakin pesat di New York ini, dan tentunya gerai-gerai halal akan semakin membanjiri kota ini.
Walau demikian, saya masih tetap optimis bahwa pusat makanan halal dan industri wisata halal tidak akan beralih ke daerah lain selain Aceh, tanoh lon sayang. Ayo, kita bersama-sama membantu pemerintah Aceh dalam memajukan destinasi wisata halal Aceh.


Tulisan ini telah terbit di Tabloid Iqra Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Aceh dengan judul "Mudahnya Menemukan Makanan Halal di New York".
Tabloid dilaunching pada Tanggal 3 Desember 2018 bertempat di AAC Dayan Dawood. Di hadiri oleh Kepala Perpusnas Indonesia, Pak Syarif Bando, Kadis Arpus Aceh, Direktur Aksaramaya Jakarta dan Plt. Gubernur Aceh serta 1500 undangan.




Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

0 Comments:

Posting Komentar

Thank you for read and comment on my blog.