Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]


Suasana setelah shalat Idul Adha di White Hall (Masjid)

Syeikh Muhammad Al Habib As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al-Maliki pernah berkata, tidaklah layak bagi seorang yang berakal bertanya mengapa memperingati Maulid Nabi Muhammad saw karena seolah-olah dia bertanya “Mengapa kalian bergembira dengan lahirnya Rasullullah Saw?”.
Penggalan kalimat yang disampaikan oleh pengarang kitab Huwa Allah dan Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil ini begitu tajam dan menusuk akan golongan-golongan yang kurang setuju akan merayakan hari kelahiran baginda Nabiyullah Muhammad Saw.


Di lain sisi, berbagai bukti telah menyebutkan bahwa bumi dan langit berselawat kala rasul yang agung dilahirkan ke muka bumi ini. Bahkan mulai malam di tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awal sebelum kelahiran Rasulullah ke muka bumi ini, ada 12 peristiwa yang mengagumkan dan menarik perhatian yang dirasakan oleh Sayyida Aminah sebagaimana diurai dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii yang salah satunya adalah Aminah mendapatkan kedamaian dan ketentraman dari Allah dan malaikat ramai mendatangi rumahnya untuk mengabarkan bahwa kelahiran kekasih Allah semakin dekat.



Seusai shalat Idul Adha 1440 H
Tampak plat nama masjid
Tentu, rasa gembira akan hadirnya Rasul ke muka bumi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Arab 1440 tahun lalu bahkan kita pun yang saat ini tidak pernah bertemu, berbicara, dan beribadah bersama Rasul Saw pun turut merasakan kenikmatan dan keberkahan akan hadirnya. Maka wajar jika kemudian umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakannya dengan berbagai macam bentuk acara. Sebut saja mulai dari khanduri maulod dengan mengundang berbagai sanak saudara, ceramah maulid, dan aneka perlombaan. Sebagaimana yang lazim terlihat di Aceh, Seuramoe Mekkah.

Kemeriahan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw pun tidak luput dari perhatian masyarakat di lingkungan Kota Bethlehem, Pennsylvania, Amerika tempat saya menempuh Pendidikan pascasarjana saat ini.

Bethlehem merupakan sebuah kota di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat yang didirikan lebih dari 250 tahun lalu tepatnya pada tahun 1741 oleh sebuah kelompok keagamaan di Amerika. Sebagaimana masyhurnya Bethlehem di Jerussalem, Israel, kota ini juga dijuluki dengan nama Christmas City. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya gereja di seluruh penjuru kota.

Walau menjadi minoritas, kami kemudian tak lepas melupakan hari paling bersejarah dalam peradaban manusia ini. Didukung oleh Direktur of Muslim Student Life dari Lehigh University, kami pun turut memeriahkan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.


Grup Nasyid Al Firdaus asal negara Granada menjadi tontonan utama malam itu. Kitab Barzanji yang menjadi kitab induk dari peringatan maulid tak lupa disandungkan. Dilanjutkan dengan bacaan Qasidah Burdah dan aneka pujian-pujian akan kegembiraan ummat akan diutusnya Rasul Saw. Saya yang duduk di kursi deretan kedua dari panggung utama begitu menikmati kesyahduan syair-syair yang dilantunkan oleh mereka. Walau tak serratus persen sama meriahnya dengan perayaan maulid di Serambi Mekkah, setidaknya mampu membangkitkan rasa rindu akan junjungan alam.

Jamaah saling menyapa satu sama lain.

Hadirin yang hadir malam itu sungguh menikmati sajian yang sarat akan makna itu. Bahkan beberapa keluarga non-muslim dan Yahudi pun turut merasakan kehebatan syair-syair qasidah ini. Di tengah-tengah acara, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang yang di akhir diskusi baru terindentifikasi bahwa mereka tidak beragama Islam.


Walau identitas mereka bukan Islam, mereka begitu menghayati akan makna yang dibalik tiap syair yang dibacakan oleh grop Al Firdaus ini. Syekh yang melantunkan salawat-salawat ini tampaknya paham betul akan apa yang dibacanya dan hadirin yang hadir di malam itu. Sebelum menandungkan syair, ia terlebih dahulu menjelaskan asbabun nuzul dari bacaan yang akan dibacanya. Sebut saja: saat membaca Ya Nabi salamu’alaika, dijelaskan bahwa syair ini bercerita tentang agungnya Nabi Muhammad Saw dan disunnahkan untuk berdiri tiada lain untuk memuliakan apa yang diagung yakni Baginda Saw. Menjelaskan tiap syair yang dibaca ini tentu akan membuat pendengar lebih menikmati dan menghayati apa yang didengarnya.

Suasana shalat Jumat


Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan malam itu ternyata membuat pemuda-pemuda yang berdiskusi dengan saya pada malam itu sangat tersentuh akan perjuangan dan keindahan akhlak Nabi Muhammad Saw. Mereka bahkan sampai meneteskan air mata kala mendengar bahwa Rasul Saw pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh ummat di masa itu namun nabi tetap tersenyum kepada pelaku dan mendoakan agar Allah segera memberi hidayah kepada mereka.


Allahumma shalli’ala sayyidina wa maulana Muhammad, sungguh begitu mulia dan sempurna akhlak yang ada pada diri buah hati dari Abdullah dan Aminah ini. Semoga kita dapat mengaplikasikan perbuatan dan perkataan sesuai dengan apa yang Rasul terapkan semasa hidupnya. Tentu, dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya hidup ini akan lebih tentram dan nyaman. Praktik-praktik tidak terpuji seperti korupsi, zina, dan perbuatan tercela lainnya tidak mekar dalam hidup ini. Insya Allah, kita semua yang hari ini bahagia dan bersuka cita akan lahirnya Nabi Saw akan mendapatkan syafaat di yaumil akhirat kelak. Amiin. 


Tulisan ini telah terbit di Harian Serambi Indonesia dengan judul: Maulid Nabi di kota Bethlehem. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for read and comment on my blog.

Bottom Ad [Post Page]