Beginilah Cara Pemerintah Boston, Massachusetts Menghargai Sejarah dan Wisata





REVOLUSI Amerika yang terjadi pada 1775-1783 menjadi kenangan yang tak terpisahkan bagi rakyat Amerika. Peristiwa ini menjadi cikal bakal lepasnya Amerika dari genggaman Kerajaan Britania Raya, Inggris.

Kota Boston, yang terletak di negara bagian Massachusetts pun menjadi saksi bisu dari beberapa peristiwa besar selama Revolusi Amerika berlangsung. Sebut saja, pembantaian Boston. Peristiwa ini terjadi pada 5 Maret 1770. Yakni, pada saat sekelompok penduduk Amerika meneriaki para t
entara Inggris yang sedang berjaga di Rumah Pajak Boston. Kapten Kolonial Inggris yang bernama Thomas Preston saat itu menjadi penanggung jawab terhadap Rumah Pajak. 



Suasana di dekat Old Meeting House
Karenanya, ia memerintahkan beberapa pasukannya untuk memasang bayonet dan berjaga di luar Rumah Pajak. Pemrotes yang geram dengan kebijakan baru yang dibuat oleh kerajaan Britania Raya ini melempari para tentara yang sedang berjaga di luar gedung menggunakan bola salju dan aneka benda lainnya. Tak alang, prajurit pun dibuat marah akan kejadian ini. Dan penembakan terhadap kerumunan pemrotes pun tak terelakkan. Akibat dari peristiwa ini, lima orang tewas dan tiga lainnya terluka. Tragedi pembantaian terhadap masyarakat Amerika ini memancing kemarahan yang besar. Protes besar-besaran dan perang pun  dengan tuntutan mengusir tentara Inggris pun terjadi.

Boston Harbour

Tiga tahun berselang. Peristiwa bersejarah lainnya pun terjadi. Pemerintah Inggris yang berkuasa di Boston menetapkan kebijakan yakni masyarakat Amerika diwajibkan untuk membeli teh dan membayar pajak. Kebijakan ini diberlakukan untuk menstabilkan ekonomi Inggris. Karena sebelumnya, kegagalan melawan Perancis dan India di awal tahun telah menyebabkan keterpurukan ekonomi yang mendalam bagi Inggris. Oleh sebabnya, The King of George II bermaksud mengenakan pajak pada koloni di Amerika untuk menutupinya. Tiga kapal teh yang tiba di pelabuhan (Harbor) Boston memicu kemarahan yang besar bagi masyarakat. Tepat pada 16 Desember 1773, sekitar 7000-an penduduk Amerika mencari keberadaan kapal dilabuhkan. Sebuah rapat massa digelar siang itu dengan keputusan kapal-kapal penggankut teh tersebut harus meninggalkan pelabuhan. Lalu sebuah komite diutus untuk membicarakan hal ini. Tak ayal, kebuntuan pun terjadi. Puncaknya, pada sore hari masyarakat menyeludup ke kapal yang memuat teh dan membuang semuanya ke laut. 
 Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Boston Tea Party. (history.com)

Pemerintah Massachusetts sepertinya tau dengan baik bahwa sejarah adalah bagian terpenting dari peradaban. Terbukti, saat saya dan tiga mahasiswa Lehigh University lainnya berkunjung ke Boston, Massachusetts beberapa hari lalu. Kami masih bisa dengan mudah menemukan bangunan-bangunan yang tua nan bersejarah ini.
Cocok untuk oleh-oleh 

Old South Meeting House contohnya. Rumah yang menjadi tempat rapat para petinggi Boston saat Boston Tea Party ini masih berdiri tegak diantara bangunan pencakar langit lainnya. Rumah tua ini berlokasi di Boston Freedom Trail di sudut Jalan Washington dan Milk. Keasrian banguan ini tampak begitu nyata. Seperti merah yang dipancarkan dari batu bata, kondisi jendela, pintu, dan teropong asap yang tak begitu panjang menjulang menjadikan bangunan ini tampak seperti saat pertama dibangun.  Kini, bangunan yang tak lebih dari 10* 12meter ini telah beralih fungsi sebagai museum. Di dalamnya, pengunjung bisa menikmati aneka peninggalan Boston Tea Party jaman dulu. Berdasarkan data yang dilansir dilaman www.boston-tea-party.org disebutkan bahwa bangunan ini merupakan bangunan tertua nomor dua di Amerika.

Old South Meeting House, Boston

Selain Old Meeting House, kami juga menghabiskan waktu di Kota Boston dengan berkunjung ke Pelabuhan Boston. Atau lebih terkenal dengan sebutan Harbor Boston.  Ratusan perahu berlayar tampak berjejer di dermaga ini. Kapal Fery pun mondar-mandir memanjakan para turis yang ingin menikmati Harbor Boston. Cukup mengeluarkan 40dollar maka pengunjung sudah bisa duduk dengan manis sambil menikmati desiran ombal kecil yang menghantam kapalnya. Berdasarkan pengamatan saya pagi menjelang siang itu. Volume pengunjung yang hadir semakin lama semakin ramai. Tapi, menariknya tak ada kegaduhan yang terjadi. Semua tertib mengantri menunggu giliran masuk ke kapal. Begitu juga hal yang terjadi saat berpaling 30° ke arah utara. Rumah makan yang persis terletak di belakang ticket center ini. Tak peduli, muda atau tua. Semua ikhlas menunggu gilirannya masing-masing.

Tim yang masya Allah. Right to the left: Qasim, Ali, dan Ibrahim asal Pakistan.

Massachusetts, Amerika memang selalu menawarkan cerita yang unik dan menarik untuk terus dikuliti. Bukan karena dikota ini terdapat universitas kelas dunia seperti Harvard University, Massachusetts Instistute of Technology, Boston University dan lain-lain. Melainkan kesadaran baik wisatawan maupun penduduknya yang menjadikan kota ini indah, bersih, tertib, sejuk dan nyaman untuk ditempati.

Jika mereka saja bisa menghadirkan kota yang ramah akan wisatwan dan sadar akan kearifan lokalnya, tentu saya yakin, masyarakat Aceh jauh lebih mampu menghadirkan Aceh yang unggul dalam mengelola peninggalan sejarah/budaya dan tempat wisata lainnya. Bukankah orang Aceh terkenal sangat membanggakan sejarahnya yang agung?


Image may contain: 2 people, including Aula Andika Fikrullah Albalad, people smiling
Cuplikan Harian Serambi Indonesia, Sep 18, 2018
Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Cara Boston Hargai Sejarah dan Wisata:  http://aceh.tribunnews.com/2018/09/18/cara-boston-hargai-sejarah-dan-wisata.  

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

0 Comments:

Posting Komentar

Thank you for read and comment on my blog.