Masjid Kwitang, Pembawa Islam Pertama ke Jakarta?

Pintu masuk utama masjid

Wajah Jakarta memang tidak bisa dilepaskan dari gedung tinggi, kemewahan, kemacetan hingga berakhir pada pencemaran udara ( polusi) adalah keseharian bagi ibukota Indonesia ini.
Namun, dibalik gegap gempitanya kota yang dipimpin oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ini. Ada segudang kisah religius yang sangat patut untuk dikisahkan kembali.
Beberapa jamaah yang sedang menunaikan shalat sunnah

Ruang utama masjid
 Saya mulai kenalan dengan Jakarta sudah sejak 2010. Saat itu ada hajatan Kemah Juara Nasional Rumah Zakat, saya didapuk sebagai salah dua dari perwakilan Aceh saat itu. Alhamdulillah dari 1000an peserta yang hadir dari seluruh Indonesia. Saya berhasil masuk lima besar sebagai peserta terbaik, meskipun tidak menang sebagai juara utama.
Selepas 2010 itu, perjalanan di Jakarta ini terus hadir. Saban bulan di tiap tahun sejak 2010 itu, undangan untuk ke sini selalu datang silih berganti. Sehingga beberapa sudut Jakarta seperti Tanah Abang, Monas, Kali Ciliwung sudah menjadi barang yang akrab.
Pintu masuk ke makam
 Sejarah Habib Ali Kwitang
Beliau bernama asli Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau akrab dengan sebutan Habib Ali Kwitang. Lahir di Jakarta pada hari 20 Jumadil awal 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1870 M, dan wafat hari minggu 20 Rajab 1388 H atau 13 Oktober 1968.
Majelis Habib Ali Kwitang
Salah satu tanda bahwa seorang itu baik adalah, ia senantiasa menebar kebaikan dan manfaat untuk semua orang. Tak peduli ia masih hidup atau sudah kembali ke hadapanNya. Habib Ali mungkin salah satu dari itu. Jika selama hidupnya beliau aktif berdakwah menyebarkan agama Islam dan menjadi cikal bakal berdirinya sejumlah organisasi keislaman di Jakarta. Maka sesudah ia kembali ke hadapanNya, Habib Ali juga masih menebarkan sejumlah manfaat untuk ummatnya. Salah satunya Majelis Habib Ali Kwitang yang tiap minggu pagi dilaksanakan.
Saya berada di kepala sang Habib.

 Pagi itu (07/01), tidak seperti biasanya. Selepas menunaikan ibadah shalat subuh di masjid Ummu Sakinah. Saya tidak melanjutkan untuk membuka buku atau laptop melainkan menyiapkan tas, mengisi botol minum, mushaf dan beberapa potong snack yang tersimpan di dalam lemari. Setelah semua siap, aplikasi go ride menjadi idaman buat anak kosan.
Pagi ini, saya akan berwisata ke tempat yang tidak biasa. Jika umumnya, masyarakat Jakarta lebih memilih Dufan, Ancol, Ragunan, Monas dan mall untuk mengisi hari liburnya. Tempat itu adalah kuburan. Ya, kuburan! Tidak biasa bukan? padahal Jakarta menyajikan banyak kesenangan dunia yang lain, lantas kenapa saya memilih masjid dan kuburan?
Berkunjung ke mall, dan tempat selayak di atas sudah sangat mainstream untuk dilakukan, dan pasti tidak akan ada banyak hal abru yang bisa dipelajari. Ini menjadi alasan bagi saya memilih tidak melakukannya.
Wisata yang saya tuju kali ini adalah Masjid Kwitang dan kuburan Habib Ali Kwitang di pinggir kali di Kwitang kelurahan.
Pengunjung yang bersilaturahim ke makam Habib Ali Kwitang

Kaos berpesan kebaikan. Menarik ini! Cuma 50 ribuan loh.

Pedagang yang membanjiri area masjid

Penting untuk dibaca dan diingat.

Sejauh yang saya amati, ratusan jamaah selalu memenuhi tempat. Sebagai buktinya, bahu jalan selalu terpakai untuk parkir jamaah. Meranjak ke bagian dalam, ternyata semua bahu jalan sudah terisi penuh. Saya tidak mengetahui kitab apa saja yang diasuh di majelis ini. Insya Allah, jika ada kesempatan akan saya ulak akan kajiannya. next time yaaaa
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

0 Comments:

Posting Komentar

Thank you for read and comment on my blog.