Indahnya Central Park New York

By Aula Andika Fikrullah Albalad - Agustus 26, 2018


Potongan tulisan di Harian Serambi Indonesia


Meski masih summer, suhu di Kota New York siang (12/08) itu tidaklah terlalu menyengat. Aplikasi weather yang saya gunakan menunjukkan suhu di kota metropolitan Amerika ini berkisar di angka 93 derajat FahrenheitJika dikonversi ke celsius maka berada di angka 33,3 derajat celsius. Ya, tidak begitu panas untuk saya yang berasal dari Aceh. Di mana, biasanya suhu di Aceh lebih di atas 35 derajat. Tapi tidak bagi pak Nanang, Bu Lenny dan mbak Irena, warga Amerika asal Indonesia yang sudah menetap di Amerika puluhan tahun ini. Bagi mereka suhu ini tidaklah normal. Oleh karenanya, air conditioner mobil diturunkan sejak mobil kami ini memasuki kota New York.


New York merupakan pusat ekonomi dan bisnis untuk Amerika. Di tahun 1785 hingga 1790 New York sejatinya berperan sebagai ibukota Amerika, namun berdasarkan rekomendasi Kongres AS dan setelah mendapatkan izin dari Konstitusi Amerika Serikat pada tahun 1970. Maka sejak itu pula, New York menjadi kota ekonomi dan bisnis. Adapun ibukota Amerika berpindah ke bagian negara yang baru yakni Washington DC. (finance.detik.com)

Oleh karenanya, sangat mudah mendapatkan sejumlah kantor-kantor perusahan sejumlah perusahaan besar seperti 21st Century Fox, Avon Producst, CA Technologies, dan lain-lain. Sejumlah perusahaan ini terletak di avenues Times Square. 

Selain Times Square yang menjadi salah satu ikon Kota New York, ada beberapa tempat lainnya yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, yakni Central Park. Central Park merupakan sebuah taman  yang terletak di tengah kota New York tepatnya di kawasan Manhattan, New York City. Taman yang terbentang luas hingga 315 hektar ini didirikan pada tahun 1857. 

Central Park selalu menyedot perhatian pengunjung tertinggi. Saya rasa wajar jika Central Park menjadi kawasan favorit di Kota New York, selain taman ini sering masuk dalam latar film-film box offices. Central Park juga menawarkan kenyamanan dan kesejukan alami diantara gedung-gedung pencakar langit yang berada di sekelilingnya. 

Sebagaimana yang saya rasakan pada Sabtu (11/08) siang, taman seluas itu ditata dengan sangat rapi dan indah. Tidak ada tumpukan sampah, parkir yang sembrawut, penjual makanan yang sembarangan membuka lapak. Semuanya tertata sangat rapi. Sejauh pandangan mata saya memandang, pengunjung membawa sampahnya masing-masing jika mereka belum menemukan tong sampah. Sepertinya semua sadar bahwa sampah dan membersihkan tempatnya adalah tanggung jawab semua orang. Meskipun saat itu, saya melihat ada satu orang yang menurut prediksi saya dia adalah petugas kebersihan. Tapi, keberadaan petugas kebersihan tidak menjadikan pengunjung malas dan membuang sampah secara sembarangan di area taman ini. 

Namun, hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat kita, di Aceh khususnya. Membuang sampah sembarangan terutama di arena publik masing menjadi kebiasaan sehari-hari. Sebut saja, saat perhelatan akbar Pekan Kebudayaan Aceh VI. Berdasarkan keluhan teman-teman penulis di beberapa group WhatsApp , postingan Facebook, Instagram dan Twitter. Sampah merupakan pemandangan yang mudah ditemui di arena PKA.  Padahal, jika kita melihat kembali ajaran Islam, maka kebersihan sangat dijunjung tinggi. Hal ini terbukti dengan adanya hadist yang menyampaikan bahwa Kebersihan Sebagian dari Iman. Hadist ini, penulis rasa sudah sejak sekolah radar dan bahkan Tingkat Kanak-Kanak diajarkan ke kita semua. Namun implementasi dari hadist tersebut dalam kehidupan sehari-hari belumlah sempurna.

Selain sampah, penulis juga tidak melihat tumpukan kendaraan yang parkir sembarangan. semua mobil pengunjung terparkir secara rapi di bahu jalan. Tidak ada tukang parkir berompi "Parking service" apalagi suara peluit di sana. Pengemudi cukup memarkir mobil di samping jalan dan memencet mesin parkir sambil memasuki beberapa koin dan jumlah jam yang diinginkan untuk memarkir mobilnya. 

Begitu juga dengan pejual makanan, sejauh mata penulis memandang penjual makanan di Central Park juga disediakan tempat khusus. Mereka berada di hampir semua sudut taman, jadi tidak perlu khawatir akan lapar setelah berkeliling. Kerapian vendor-vendor portable yang menjual makanan ini membuat Central Park semakin rapi dan indah dipandang mata. 

Di arena Central Park sendiri, ada jalan utama yang bisa dilintasi oleh kendaraan beroda empat. Ada pula jalur untuk sepeda, track khusus pejalan kaki, dan kereta. Hal ini membuat pengunjung merasa sangat dimanjakan.

Tak hanya itu, taman yang didesain ole Calvert Vaux dan Frederick itu, juga memanjakan pengunjung dengan aneka wahana khusus sebut saja Heckscher Playground, Chess Checkers House, Carousel, dan Central Park juga memiliki danau besar di tengahnya. Siang itu, terlihat beberapa pengunjung menaiki kereta bebek mengelilingi danau yang ukuran hampir 500 meter kubik ini. 

Summer merupakan musim yang sangat dirindukan oleh masyarakat Amerika. Karenanya, libur summer ini begitu dimanfaatkan oleh pengujung Central Park. Sebut saja, di west 110th Street penulis melihat ada pengunjung yang berbaring sambal membaca buku, bercengkrama dengan anggota keluarganya, sebagian anak muda bahkan menikmati summer di Central park ini dengan bermain baseball. Beralih ke sisi lain, terlihat panggung-panggung kecil yang menampilkan beberapa group music. 

Luas Central Park yang mencapai ratusan hektar ini membuat banyak pengunjung kelelahan. karenanya, pengunjung juga dapat memilih untuk menyewa kereta kuda yang tarifnya 50 dollar per menitnya untuk mengelilingi taman. Saya sendiri, siang itu lebih memilih berjalan kaki selain untuk berhemat juga karena tidak mengabadikan setiap sudut Central Park dengan baik. 

Tak takut tersesat untuk pengunjung yang memilih berjalan kaki. di tiap persimpangan. ada loket yang menyediakan peta Central Park. Cukup mendatangi petugas yang berjaga dan memintanya. Namun biar lebih kelihatan elegan, silakan saja memulai dengan menanyakan beberapa hal seperti di mana toilet dan pertanyaan kecil lainnya. Setelahnya, baru meminta peta. Cara ini saya rasa cukup ampuh untuk seorang wisatawan. Karena di Amerika khususnya, memulai suatu diskusi dengan small talk adalah sesuatu yang biasa.

Keindahan, kerapian dan kenyaman yang ditawarkan ole Central Park tentu berbanding terbalik dengan sejumlah taman di tanah air. Tentu tidak adil rasanya jika melalui tulisan ini penulis membandingkan Central Park dengan sejumlah taman yang ada di Aceh. Namun, dari lubuk bati terdalam penulis berharap bahwa suatu hari nanti penulis bisa menikmati dan menemui Central park edisi Aceh yang menawarkan kenyamanan, kebersihan, kerapian dan tentunya tidak melupakan local wisdomnya. Semoga saja, mimpi ini akan menjadi kenyataan tahun mendatang. Insya Allah, Allah akan selalu memudahkan langkah dan urusan kita semua. Amiiin. 


*Tulisan ini teal dimuat pada Kolom Citizen Reporter Harian Serambi Indonesia, Sabtu 25 Agustus 2018.

Link ke Tribunnews (Serambi Indonesia)


  • Share:

You Might Also Like

2 Comments