Sepiring Nasi Padang Kalibata

By Aula Andika Fikrullah Albalad - Februari 18, 2018


source:www.google.com

Kekecewaan akibat batalnya operasi, terobati kala pesan singkat yang terkirim melalui aplikasi Whatsapp terbalas. " Kita ketemu di sana saja yaa, insya Allah jam 3 sudah di tkp."

Tanpa pikir panjang, dari Rumah Sakit Menteng Afia, Jakarta Pusat saya lantas memesan Gobike ke lokasi yang disebutkan dalam pesan singkat itu. Tak butuh waktu lama untuk tiba di lokasi. Gedung mewah bertahta "persoalan" mahkota tersajikan di depan mata. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan sang supir, saya bergegas masuk ke lokasi di mana sebelumnya telah melakukan registrasi pada petugas keamanan yang bertugas di pintu masuk. 

Udara di Jakarta memang sedang tak bersahabat, sehingga hanya terpikirkan masjid sebagai destinasi utama. Tak berapa lama kemudian,  masuk pesan singkat dari beliau yang dengan rasa kecewa beliau meminta izin agar saya bisa hadir ke lokasi lainnya, karena lokasi yang pertama tidak begitu baik untuk sekadar melepas kangen. Saya mereply "get."

Hampir 60 menit menunggu kehadiran gobike, dan butuh waktu 30 menit mencapai lokasi ke dua. Itupun dengan sedikit paksaan kepada sang driver, bahwa saya sedang di tunggu meeting oleh rekanan.

Alquran kecil terlihat terselip di tangan beliau saat saya mengucapkan assalamualaikum. Beberapa botol mineral water merek ternama pun tersajikan di atas meja bertaplak putih. Di sudut kursi panjang yang digunakan olehnya, terlihat smartphone yang sedang tercas, tumpukan alquran kecil serta terjemahan dan beberapa majalah ternama.  First expression saya semakin bangga dengannya. 

Sembari mencicipi segelas air mineral dan membahas beberapa kabar teraktual. Beliau mengatakan " Aula ayo kita ke Warung Padang di belakang, nasi di sana enak, " ucapnya sedikit memaksa. 

" Aula baru saja makan Ketoprak di depan gerbang, Ust. " balasku

" Ah, ayo. Lekas naik ke mobil." 

" Baik." manutku. 

" Mas, saya pesan nasi tambah telur bulat, sayur dan es teh. Aula mau makan apa.. "

" Saya, nasi, sayur dan pergedel aja ya mas. Terima kasih"

Hidangan kita pun tersajikan di meja yang tak lagi putih itu. 

" Aula tidak perlu khawatir, gunakan semua kesempatan yang ada dengan baik. Hubungkan semua jejaring yang ada di sana terutama sekali yang bisa mendatangkan dan menguatkan marwah dan martabat serta kekuatan denganNya. Meskipun saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa ada satu atau dua yang cara pandang mereka tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya. Tapi, jika kita selektif dalam memilih diskusi, mengetahui dengan baik dan bijak akan apa yang dibicaraan, pandai dalam bertutur. Insya Allah, kita bisa survive."

"Ibrah kehidupan sejatinya tidak didapatkan dari hanya menangadahkan tangan tapi juga perlu kerja keras untuk menemukan semua itu. Benteng diri itu menjadi tameng utama siapa dan di manapun kita berada. " tambahnya sambil menyentuh tiap butiran nasi itu. 

" Satu hal yang ingin disampaikan sama Aula, as the talented person I have ever seen. Tangan yang menerima akan sulit untuk memukul. Bek karena hana meoh, akhirnya kita jadi meh moh.  This is what actually happen di negeri kita. Dont be the one, Aula."

"Selain itu, kadang kala argument memang penting. Tapi, ada hal-hal yang argument tidak dapat dipaksakan. Karena ada qadar Allah di dalamnya. Sebagai orang pesantren, Aula sudah sangat paham akan hal itu. Masyarakat di sana selalu mengutamakn rasionalitas. Nah, ini peluang bagi kita. Strategi yang bisa kita gunakan adalah, gunakan rasionalitas itu sebagai alat dan senjata bagi kita " untuk berperang" dengan mereka. Insya Allah, kita bisa melanjutkan segala perjuangan yang kita bina di sini. Lon sajan Aula, bek yoo! Mas, tolong hitung punya kami, tapi sebelumnya tolong ambilkan foto kami berdua."

Siang itu, memang tampak sangat istimewa. Siapa sangka, perbincangan yang bermula dari segelas air mineral dan sepiring nasi Padang. Mampu menguatkan tali-tali perjuangan akan kemashalatan ummat. 

Sudah lebih dari lima tahun kami bersama. Gagasan dan idenya selalu tercurahkan dengan baik, lewat majelis yang ada.
2013 menjadi awal semua ini. Di ruang ganti gedung AAC Dayan Dawood, Univ Syiah Kuala, Banda Aceh. Kalimat itu tersematkan dengan jelas "Baca Doanya bagus sekali yaa."

" Minta izin untuk photo bersama, boleh? "

" Mari." ajaknya. 

Siapa sangka, sosok yang tanggas dalam menjawab pertanyaan Najwa Shibab ternyata tetap sama jika berhadapan dengan anak muda ingusan kala lagi pilek ini. Tak ada rasa angkuh apalagi kesombongan. Yang selalu tertampilkan adalah rasa tentram nan bersahaja dalam balutan asma-asmaNya. Masya Allah, sungguh indah mempunyai sosok seperti ini. 

Lirih do'a pun terpanjatkan kala mobil hitam bercat hitam melaju ke persimpangan jalan. " Ya Allah, semoga Engkau ridhai setiap langkah yang dia dan hamba kerjakan. Sehingga kehidupan kami ini selalu membawa manfaat untuk ummat manusia. Aaamiiiin"

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments