Senin, 08 Januari 2018

Sarasehan BNPT di Yogyakarta: Cerdas Melawan Hoax



Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak pernah kehabisan cara untuk memerangi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Maret, 2017 lalu saya mendapat undangan untuk memenuhi pertemuan nasional atau sarasehan bersama pegiat dunia maya se-Indonesia. Alena Convention and Hotel menjadi tempat berkumpulnya para duta damai dunia maya ini.
Penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia tidaklah membuat saya, Fitri dan Ade merasa bosen. Saat kedua sohib yang turut diundang oleh BNPT sibuk dengan selfie. Saya sendiri seperti biasa selalu disibukkan dengan buku, dan buku. Singkat cerita, saat sampai di lokasi acara atas antaran abang supir dari Adi Sucipto bandara. Kami langsung melapor ke panitia dan untuk mendapatkan kunci kamar dan segera  bergegas untuk welcoming dinner di ruang utamanya. Kemeja biru dengan paduan songket di bagian dada, yang dijahit oleh Mimi Moda Fashion, celana bahan hitam, sepatu lipat dan tas kecil bermotif Aceh yang saya lipat sedemikian rupa menjadi sebuah dompet merupakan setelan yang saya pilih untuk makan malam bersama duta damai dunia maya lainnya. Sejauh mata memandang, hampir 100 orang hadir di malam itu. Dan bahagianya saya karena semua dari mereka adalah pegiat dan aktifis dunia maya yang selama ini turut membantu BNPT dalam menyajikan bahan bacaan dan kampanye akan bahayanya radikalisme dan terorisme di Indonesia.


Sarasehan kedua yang dilaksanakan oleh BNPT kali ini, sebelumnya di Jakarta, mengangkat tema yang sangat special , yakni Sarasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Penggiat Dunia Maya dan judul Cerdas Dunia Maya di hadiri oleh kontributor jalandamai.org pengguna aktif damai.id dan perwakilan duta damai 2016. Saya sendiri berada pada golongan pengguna aktif/kontributor damai.id.

Sebagaimana disampaikan oleh Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT. Bapak Mayjen TNI Abdur Rahman Kadir maksud dan tujuan dikumpulkannya kami ini tidak lain untuk persiapan menghadapi merebaknya konten hoax dan bernada kekerasan di dunia maya.

Klik ini untuk video full di youtube

Hari pertama sarasehan, panitia memulainya dengan diskusi yang dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dihadiri oleh Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Drs Hamidin, Anggota dewan press, bg Nezar Patria dan Ketua Komunitas anti Hoax Indonesia, bang Septiaji. Diskusi sesi kedua diisi oleh Kasubid Pengawasan dan Kontra Propaganda, Bapak Letkol Pas. Drs. Sujatmiko.

Salah satu poin penting yang menjadi titik pembahasan dari kedua sesi itu adalah dari arah mana saja hoax datang. Setidaknya ada empat poin arah datang dan berkembangnya hoax, yakni media cetak, media sosial, tv dan media online. Di antara empat itu, media sosial dan media online adalah lingkaran yang paling sering mendatangkan hoax.

Saya mengatakannya wajar jika kedua platform ini berhasil menyaring pemirsa paling banyak. Laporan Tetra Pak Index pada tahun 2017 mencatat ada 132 juta jiwa pengguna internter di Indonesia dan 40%nya adalah pengguna media sosial. 

Lantas, hal apa yang bisa kita lakukan untuk membendung penyebaran konteks yang tidak jelas kebenarannya itu?

Pertama, kenali situs yang menyediakan berita. Catat track record laman tersebut. Salah satu laman kredibel anti hoax seperti www.aulaandika.com,hehehehe dan  jalandamai.org miliknya BNPT dan lain-lain.

Kedua, tabayyun sebelum menyebarkan berita. Jika kamu mendapati suatu berita, ada baiknya untuk mentabayyun atau melakukan cek & ricek terlebih dahulu ke situs lainnya. Akhir ini, terutama kala pemilik media terjun ke dunia politik, acap kali media mereka tidak --lagi-- menyediakan berita yang menyehatkan publik. Berita yang mereka muat semata-mata untuk keperluan partai semata. Memang disayangkan sih, masyarakat jadi korban, tapi apa boleh buat.

Ketiga, tanya pada diri sendiri apakah berita yang anda baca itu cukup untuk diketahui oleh anda atau memang sangat perlu untuk disebar luaskan. Kalau memang cukup untuk dikonsumsi oleh diri sendiri yaudah, gak perlu disebar. Tapi kalau memang membawa manfaat untuk orang lain, sila disebar.

Tiga hal di atas, hanya salah satu dari sekian banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sarasehan bersama BNPT di Yogyakarta, lalu. Sebagai generasi muda dan duta damai provinsi Aceh dan duta damai BNPT. Saya bahagia diberi kesempatan belajar bersama di Alana Convention Center, Yogyakarta ini. Semoga, akan ada lagi events national and international bagi kami pegiat dunia maya BNPT ini. Mungkin akan di bawa ke Afganistan, Belanda dan Amerika mungkin oleh BNPT untuk bisa belajar banyak lagi. Insya Allah saya gak akan menolaknya. kok. Hehehehe
Reactions:

3 komentar:

  1. keren! ijin cuplik bbrp data sebagai referensi di tulisan yg berhubungan dengan ini ya nanti :) Dukung anti hoax ya, bahkan hoax yg membangun *gamasukakal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, silakan mba. Semoga bermanfaat. Ayuuk, kita membangun hoax yang baik dengan cara yang benar. Wkwkwkw

      Hapus
  2. Bener banget. Orang Indonesia jaman sekarang bahkan baru baca judulnya, belum baca isinya, eh langsung share beritanya aja.

    Lalu banyakborang yg malas untuk komparasi berita. Kalau judulnya dianggap cocok dengan opininya dia, maka dengan cepat tombol share ditekan.

    Semoga situs2 seperti damai.id dan teman2 gk pernah bosan ya melawan hoax.


    Semangattttt

    BalasHapus