Header Ads

Bikun Coffee, Kedai Kopi klasik ala Universitas Indonesia. Unsyiah juga bisa kok!



Pagi menjelang siang tadi, saya ke Universitas Indonesia via Stasiun Manggarai. Awalnya ke Stasiun Cikini, tapi berhubung ada kereta anjlok jadinya saya terpaksa naik transportasi online lagi untuk sampai di Stasiun Manggarai.

Kurang lebih 20 menit, kereta dengan tujuan Bogor yang saya tumpangi ini meluncur dengan mulus dan mendarat dengan nyaman di stasiun Universitas Indonesia. Sayapun bergegas turun menuju ke masjid Ukhuwah Islamiyah (UI)  Univ Indonesia (UI) untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur. Saat kaki melangkah ke masjid UI kuadrat ini, pikiran saya terbawa ke empat tahun silam. " Gak banyak perubahan yaaaa" gumam saya dalam hati. Kau masih seperti dulu, indah dan menawan. Tambah saya.

Pustaka, masih berdiri tegak di kanan gerbang masuk ke masjid. Wudhu wanita juga masih setia di sampingnya. Adapun tempat wudhu pria masih tetap di posisi dulu, kiri gerbang utama. Sempurna menunaikan wudhu, sayapun melangkah ke dalam bangunan penuh keberkahan ini. " Silakan Pak" ucap dua orang mahasiswa yang dari perawakannya sepertinya mahasiswa angkatan oertama ini. " boleh tolong geser ke kiri lagi, supaya sempurna" ucap saya. " Allahu Akbar... Assalamu'alaikum, assalamualaikum. Alfatihah" tutupku dan orang di belakang saya itu pun komat kamit dan menghilang.

Tujuan saya ke UI kali ini, selain mengobati rindu akan kenangan empat tahun silam. Juga pengen melihat suasana UI setelah tak lagi dipimpin oleh pak rektor. Selanjutnya, saya pun menuju ke perpustakaan utama UI yang terletak tepat di belakang masjid ini. Gak banyak perubahan juga.

Asyik menikmati suasana perpustakaan dan selesai mengerjakan list agenda yang harus dikerjakan di sini. Saya pun bergegas pulang, takut bila bikun dan kereta arah Cikini tidak ada lagi. Pemandangan berbeda justru datang saat saya pulang. Bikun Coffee, wah menarik ini. Saya pun kembali ke cafee dengan ikon bis ini. 

Saat melihat dengan jelas kedai ini, saya teringat pada kendaraan kebanggaan mahasiswa Aceh, yakni Robur. Seandainya, replika robur juga dibuat sedemikian rupa tentu akan menjadi warna tersendiri bagi warung coffee di Univ Syiah Kuala ini.

Berbicara tentang robur, dalam buku " The Public Transportation Stories" yang saya tulis dua tahun lalu. Saya mengusulkan agar kendaraan bersejarah ini tidak digeletak begitu saja di halaman biro rektorat. Tapi, wajib disediakan tempat khusus dan di awal tiap tahun ajaran baru, ia harus dikenalkan kepada para mahasiswa bagaiamana legendnya kendaraan itu. Sehingga, kenangan indah robur akan senantiasa menghiasi ranah akademik di univ kebanggaan rakyat Aceh ini.


Tapi, itu hanyalah wacana seorang anak ingusan di siang hari. Gumaman itu lepas dan hialng menelusuri tenggorokan serta berakhir ke tanah. Meskipun ide itu pernah saya sampaikan kepada petinggi kampus, rektorat via wakil rektor, tapi belum juga ada wacana yang mengarah ke sana. Secara pribadi, saya hanya menakutkan bahwa generasi muda Univ Syiah Kuala tak mengenal apa itu Robur dan bagaiamana sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan di Aceh. Padahal jika dilirik dengan tajam, robur telah melahirkan generasi emas untuk Aceh dan Indonesia..