Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Monday, 16 October 2017

A man behind of #AyokeAcehBesar

Aula Andika Fikrullah Albalad


Tak pernah terpikirkan sebelumnya, saya akan hadir di dunia duta. Betapa tidak, masyarakat masih terlalu sering menghujat dan menghardik segala yang berlabel dengan duta. Sebut saja, kala salah seorang, yang mengakunya, wartawan sebuah media online dengan gamblangnya menyebutkan bahwa duta itu tak lebih daripada cuma benda pajangan berselempang semata tanpa ada aksi nyata.
Jujur saja, saya sangat sakit hati kala membaca berita yang di forward oleh teman ke dalam group itu. Si wartawan ini saya kenal dengan baik kepribadiaannya. Tapi saya tidak menyangka bahwa ia akan menulis berita semurah itu.

Tahun 2014 adalah awal saya terjun di dunia penuh glamour ini. Diangkatnya sebagai Duta Promosi Pariwisata kab Wakatobi, Sulawesi Tenggara, oleh Bapak Bupati Ir Hugua. Memberi saya sejumlah pengetahuan baru bahwa kolaborasi setiap insan adalah kunci utama berhasilnya sebuah promosi wisata.

Selempang Duta Wisata Wakatobi, adalah selempang duta pertama yang saya miliki. Sehingga sepulang dari Wakatobi, akhir Mei. Saya memberanikan diri mendaftar Raja Baca Provinsi Aceh 2014. Ceritanya lengkap tentang Raja Baca Aceh 2014 ada di sini.

Selang setahun menjalankan amanah sebagai Raja Baca Aceh 2014. Di pertengahan 2015, bermodal ajakan teman lantas kembali saya mendaftar pemilihan Agam Inong Aceh Besar. Awalnya saya tidak mau mendaftar pemilihan ini. Dengan alasan bahwa saya tidak mumpuni di duta-duta, meskipun sudah dua selempang duta saya dapatkan. Tapi akhirnya, tiga jam sebelum deadline pengembalian berkas. Saya lantas berpikir dengan tajam. "Aku selama ini sedang mempromosikan pariwisata orang lain dengan sangat baik dan gencar. Di berbagai kesempatan, lokal, nasional dan internasional ajakan untuk melihat indahnya dunia bawah air Wakatobi tak pernah luput dari bahan pembicaraanku padahal aku bulan putra daerah itu. Tapi, apa yang sudah aku berikan untuk Aceh Besar sebagai tanah kelahiranku? " munculnya pertanyaan ini menjadi modal terbesarku untuk segera mengisi dan menyerahkan berkas pendaftaran kepada panitia di Asrama Mahasiswa Aceh Besar di Lamnyong, Darussalam.

Pagelaran pemilihan Duta Wisata Aceh Besar 2015, kala itu di mulai. Serangkaian proses seperti tes tertulis, tes wawancara tahap satu dengan baik saya ikuti. Hingga kemudian panitia mengumumkan nama-nama yang lolos ke delapan besar dan Aula Andika Fikrullah Albalad terpampang dengan baik kala itu.

Jadilah saya kembali mengikuti sesi karantina yang diisi dengan serangkaian kelas, seperti beauty class, wawancara bersama juri profesional, pemotretan hingga sampailah pada malam puncak penobatan.

Sehari sebelum malam puncak niat dan semangat saya untuk menuntaskan serangkaian acara ini tumbang. Secara sepihak saya sampaikan kepada ka Oja, yang saat itu dipasangkan dengan saya bahwa saya tidak bisa hadir di malam penobatan. Kepada ka Oja, kala itu saya sampaikan bahwa alasannya karena saya tidak bisa ada halangan. Tapi sejujurnya alasan utama saya tidak mau hadir di malam penobatan tidak lain karena saya tidak memiliki sejumlah uang untuk menyewa baju adat Aceh. Hemat saya, pemenang Duta Wisata sudah ada. Lantas jika saya harus menyewa baju dan perlengkapan untuk malam grand final lantas siapa yang akan membayarnya. Adapun uang beasiswa bidikmisi belum akan cair dalam waktu dekat. Menyampaikan ke keluarga tentu akan mengalami kebuntuan. Utang sama teman, bukan solusi. Sehingga kemudian saya coba menyampaikan hal ini kepada Wakil Rektor III Univ Syiah Kuala tapi tidak ada pencerahan yang saya dapatkan. Dalam diskusi via wa itu, saya hanya menyampaikan bahwa saya kemungkinan tidak akan meneruskan perjuangan saya di malam final tanpa menyebutkan alasan utama itu. Dan beliau hanya menyayangkan hal itu. Awalnya saya berharap bahwa beliau akan menanyakan why, but it was not happended.

Dengan segala pertimbangan lain, seperti kacaunya koreografi tanpa kehadiran saya, gagalnya ka Oja untuk presentasi, dan malunya panitia karena tidak lengkap peserta dan alasan lainnya. Akhirnya dengan setengah hati. Sayapun mencoba menyewa baju adat Aceh super murah untuk bisa hadir di malam itu.

For your information, kawan. Baju yang saya dapatkan malam itu tidak lebih dari 100.000 ribu. Jauh dibandingkan teman-teman, yang menyewa hampir mendekati angka 1 juta..

Malam penobatan


Tampilan koreografi dan pengenalan masing-masing peserta adalah dua acara sebelum pemanggilan lima besar. Beberapa menit setelah pengenalan peserta, master of ceremony (mc) memanggil lima besar agam dan inong untuk menjawab pertanyaan dari juri secara langsung di atas panggung. Jarak saya berdiri dengan mc berdiri malam itu tidaklah jauh, sehingga secara tidak sengaja saya melihat kertas yang dipegang oleh mc. Di urutan ke dua, saya melihat nama yang agak panjang dibandingkan dengan yang lainnya. " kataknya nama ku ini" cetus saya dalam hati.

Eh, benar saja. Ternyata posisi ke dua lima besar Duta Wisata Aceh Besar 2015 adalah saya. Ini menandakan bahwa sebentar lagi saya harus siap untuk menjawab juri professional secara langsung. Di depan ratusan orang yang hadir di gedung BPKP LUBUK, Aceh Besar.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh dewan juri yang kala itu diberikan oleh Ampon Man, adalah " apa yang akan kamu lakukan sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2015 dalam memajukan dunia wisata? "

Tanpa diberi waktu untuk berpikir, saya lantas menjawab " Assalamualaikum wr wb, terima kasih untuk pertanyaan bapak. Yang akan saya lakukan jika saya terpilih sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2017 adalah saya akan mengajak seluruh komunitas yang ada di Aceh Besar dan Banda Aceh untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam memajukan dunia pariwisata yang ada di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Terima kasih" tutup saya.

Kala menyelesaikan pertanyaan ini, saya masih terbayang dengan baik muka hadirin yang hadir di malam itu. Semuanya termangun dan setengah sadar hingga akhirnya gemuruh tepuk tangan dan teriakan "mantap, best, keren" menggelegar seantero ruangan.

Tak lama setelah sesi tanya jawab lima besar berlangsung adalah momen pengumuman masuk ke tahap tiga besar. Saya yang masih di back stage kala itu tertegun setengah sadar. Kala Aula Andika Fikrullah Albalad kembali dipanggil oleh mc sebagai nominator tiga besar Duta Wisata Aceh Besar. Saking tidak percayanya, saya terdiam untuk sekian menit hingga kemudian saya ditegur oleh panitia bahwa nama itu adalah nama saya.


Majulah saya ke stage depan dengan muka yang masih belum sadar. Hal ini kembali berlanjut saat mc mengumumkan Juara Tiga Duta Wisata Aceh Besar yang kala itu diberikan kepada Izwar. Bukan nama saya yang dipanggil.

Itu artinya kini posisi saya berada di dua besar. What a great expectation. Hanya ada saya dan Akbar yang belum jelas selempang mana yang akan tersemat di sisi kanan bahu kami. " Dan Duta Wisata Aceh Besar 2015 diberikan kepadaaaaaa" kala suara mc mengatakan hal ini saya sudah berfirasat bahwa ia akan menduduki bahu si Adoe Meriza Akbar. Pria kelahiran Aceh Besar yang tinggal dan besar di Sigli, Pidie.

Tersematnya selempang itu menandakan bahwa saya terpilih sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015. Tidak pernah terpikir bahwa posisi ini ada di pundak saya. Saya memprediksi bahwa posisi tiga besar itu akan diduduki oleh Meriza Akbar, Agus dan Lupa namanya. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Terpilihnya saya sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015 tidak lantas menjadikan saya malas. As the second winner, saya kemudian memikirkan bahwa ide dan gagasan saya haruslah menjadi cikal bakal awal terdongkraknya dunia pariwisata di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Bermodal itu, tanpa pikir panjang kemudian saya memosting sebuah foto di akun instagram dengan menyertakan hastag #AyokeAcehBesar.

Hastag ini saya munculkan pertama kali sebagai program literasi media social pertama. Alhamdulillah, tim duta rayeuk tempat perkumpulan para duta wisata Aceh Besar setuju dengan langkah ini. Hingga kemudian, saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini sebagai ajang promosi dunia wisata di Aceh Besar.

Kepada Akbar, selaku pemenang utama saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini untuk keperluan kamu di berbagai kesempatan. Baik itu di ajang PDWA dan lain-lain. Alhamdulillah, kehadiran #AyokeAcehBesar kala itu membawa berkah bagi semuanya. Akbar perwakilan Aceh Besar kembali terpilih sebagai Juara 1 Agam Aceh. Saya rasa, hastag #AyokeAcehBesar menjadi cikal bakal akan lahirnya sejumlah hastag bernada yang sama seperti #AyokeAcehlagi jargon Akbar saat mengikuti PDWI di Jakarta. Dan munculnya sejumlah hastag lainnya seperti #AyokeAcehSelatan, #AyokeAceh, #AyokeAcehSingkil, #AyokeAcehsabang, #AyokeAcehjaya, #AyokeAcehBarat, dan lain sebagainya.

Lastly, saya tidak mau mengatakan bahwa pencapaian #AyokeAcehBesar adalah murni dari saya semata, meskipun pada kenyataan memang demikian heheheh, tapi saya tetap ingin menyampaikan bahwa #AyokeAcehBesar lahir karena adanya support, masukan dan bimbingan dari setiap mereka yang bernaung baik di bawah @dutarayeuk maupun di luar itu.

Semoga saja, tanpa menanggalkan culture Aceh sebagai basis syariah, wisata di Aceh semakin baik ke depannya. Aaamiin.

AyokeAcehBesar 

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

7 Comments:

  1. Wah kerennn..tp jawabanmu itu mantap mas. Krna memajukan wisata g bisa sendirian kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Iya, saya hanya mengambil esensi atau makna dari manusi sebagai makhluk sosial

      Delete
  2. Wah hebat bgt pengalaman nya jadi duta. Ga setiap orang bisa lho. Pemakaian Hastag terbukti bisa jadi alat bantu promosi wisata. Salam kenal

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, aaaamiiin. Saya banyak belajar dari para blogger, mas. Alhamdulillah ini bekerja dg baik. Terima kasih sudah berkunjung

    ReplyDelete
  4. Sungguh perjuangannya untuk mencapai wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar, grup berat juga ya, Aula.
    Semoga wisata Aceh semakin maju. Amin

    ReplyDelete
  5. Sungguh perjuangan yang luar biasa, saya juga belum sempat main ke Aceh nih. Semoga suatu saat ada kesempatan kesana :)

    Salam kenal!

    Regards,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete
  6. Jujur aja saya mikirnya sama kayak orang kebanyakan. Tapi dr tulisan ini jadi tau ya sama aja perjuangannya susah. heuheu. Jadi duta gak cuma modal tampang & senyum. Jauh dr itu, mesti juga bergerak lebih cerdas. Mantap!

    ReplyDelete

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib