Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Tuesday, 15 August 2017

Meraih Damai Aceh

Aula Andika Fikrullah Albalad
www.google.com

November, 2015 silam. Amukannya seakan hendak merobohkan seluruh bangunan dan perpohonan yang ada di depanku. Sesekali, petir menyapaku yang saat itu tengah menanti kabar yang tak pasti. Angin yang bertiup kencang seakan memberi arahan agar segera ku kembalikan lipatan baju itu ke dalam lemari. Tapi, apa boleh dikata. Janji yang sudah terukir dua minggu sebelumnya tak mungkin terbatalkan, daerah –Aceh Besar— akan menjadi taruhannya. Dan aku tidak mau jika itu terjadi.

Di tengah kerisauanku yang semakin mendalam. Tetiba, Nokia X3-02 yang ku beli sejak 2011 silam itu berbunyi. “DW Ka Nanda” muncul di layarnya. “Yang mana, kakak udah sampai di depan meunasah ini” tanyanya dengan sedikit berteriak.

Depan lagi kak, ada batang mangga di depannya” sahutku. Tak lama, berdirilah sebuah mobil Avanza di seberang jalan. Genangan air yang merendam hampir seluruh taman rumah membuat sepatuku basah. Tak ada celah untuk menghindar saat itu. Amukan dari atas semakin menegaskan aku tidak usah ikut.

“masya Allah, hujannya lebat sekali” ucapku kala menutup pintu mobil.
“Iya, tidak berhenti-henti sejak dari tadi pagi. Kita mau lewat mana nih” Tanya sang supir, yang pada akhirnya aku tau bahwa itu adalah ayahnya ka Nanda.

“Terserah papa aja” sahut ka Nanda yang duduk tepat di bangku belakang.

Lima menit berlalu.

Sampailah kami di depan Hotel Meurah Mulia, Lamnyong, Banda Aceh. Jalanan yang masih becek tak mungkin bagi kami berjalan seakan-akan kami sedang berada di atas red carpet. Tak ada table manner apalagi eleganitas. Lenggok-lenggak sebagaimana terpaparkan selama ini di layar kaca. Hilang. Akibat hujan yang menghadap. 

Kami tak tau, apakah ini akan berpengaruh pada hasil akhir atau tidak. Ntah lah, meskipun sore itu. Kami dengan bangga menyatakan bahwa kami adalah perwakilan kabupaten Aceh Besar dalam pemilihan Duta Damai provinsi Aceh. Yang dipuncak perhelatan nanti, kami akan mendampingi Wakil Presiden Indonesia, Bapak Yusuf Kalla. Di Taman Ratu Saifuddin dalam rangka 10 Tahun MoU Helsinki. 
Kalla, tentu sangat dekat dengan acara ini. Betapa tidak, saat penandatanganan dokumen ini 12 tahun silam, Kalla adalah perwakilan Indonesia yang hadir ke sana. Meskipun, bukanlah Kalla yang menjadi tokoh perdamaian Aceh.

Hujan yang terus menguyur kota Banda Aceh, membawa efek bagi semua, peserta pemilihan Duta Damai Provinsi Aceh. Kasur dan pisang goreng tentu padanan yang pas kala itu. Lagi-lagi apa mau dikata. Hujan membawa menghalangi semuanya. 

10 tahun Aceh damai. Ini kali pertamanya, Aceh memiliki Duta Damai. 
Menjadi seorang Duta Damai bagi daerah yang konflik berkepanjangan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak regulasi kebijakan dan pelajaran yang harus diambil dan dipelajari. Berat, pasti ku rasa. Tapi beban berat hanya akan terasa berat jika dipikirkan namun jika dijalankan dengan ikhlas, tentu akan terasa ringan sendirinya. 

Ini pesan singkat yang terus ku ingat, kala mengikuti setiap kegiatan. 

Pemilihan Duta Damai Aceh ini, diikuti oleh 34 pemuda/i perwakilan kabupaten/kota dan mahasiswa berprestasi asal universitas ternama di Aceh --Unsyaih, UIN ArRaniry, Abulyatama Serambi Mekkah etc--. 

Ku perhatikan satu persatu wajah, ah sebagian besar adalah pemuda/i berprestasi nanggroe. Spritiku kala itu, sempat surut as usual. Tapi kukembalikan pada target awal. 

Aceh Besar, sebagai daerah yang ku wakili tak boleh kecewa. Namanya harus kembali bergaung sebagaiamana bergaung dalam ke pemilihan Duta Wisata Aceh, yang selempang duta wisata Aceh. Kala itu diberikan kepada perwakilan Aceh Besar, Meriza Akbar. 

Ada beban moral besar, memang. Tapi aku mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Perjalanan hari pertama sampai dengan hari ketiga, dihiasi dengan penyampaiannya materi oleh sejumlah pakar, sebut saja materi tentang MoU Helsinki, Syariat Islam, Kepemerintahan, Adat Istiadat dan lain-lain. 

Aku berasa bersyukur bisa hadir dalam forum ini. Sekurang-kurangnya ada ilmu dan teman baru yang ku dapat. Nah, bagaiamana dengan juara? 

Tetap, ia fokus yang utama. Tapi tidak mengesampingkan nilai pertemanan yang terbangun. Bagiku, friend tetap penting. Meskipun, pada saat itu kami sedang berkompetisi satu sama lainnya. 

Namun, siapa sangka. Badai sore selasa, 10 November 2015 silam telah mengantarkan kami sebagai pendamping orang nomor dua di Indonesia. Mahkota sebagai pribadi yang membawa kedamaian dan mampu menjadikan Indonesia yang lebih baik dengan bekerja sama telah tertoreh di kepala ku.

Wakil 1 Duta Damai Aceh, puncak dari segala perjuangan.
                            Klik link ini
    Duta Damai Aceh 2015








Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib