Header Ads

Cerita Rakyat dari Aceh: Putri Pucuk Geulumpang

" Kandungan ku sudah tujuh bulan kanda, " sebut sang istri
" Baiklah, saya akan berangkat hari ini. Jika anak kita sudah lahir, tolong bunyikan rantai tembaga jika jenis kelaminnya perempuan dan bunyikan rantai perak jika ia laki-laki. Aku akan pulang mendengar isyarat itu" kata sang bangsawan sembari menunggangi kuda miliknya.
Ucapan bangsawan ini merupakan inti hasutan yang disampaikan oleh dua temannya, Lesamana dan Pedanelam. Yang menginginkan sang bangsawan melenyapkan keturunannya. Terlebih jika itu adalah anak perempuan.

Dua bulan berlalu.
Sang permaisuri kini telah dikaruniai seorang anak. Alis dan rambutnya nya hitam dan tebal, matanya yang kebiru-biruan serta kulitnya yang putih langsat semakin melengkapi kecantikan sang Putri.
Duduk sambil membelai sang anak, si ibu tetiba teringat akan kandungan yang tersirat dalam amanat suaminya.
Rantai perak adalah isyarat bahwa sang suami akan memenjarakan anaknya. Adapun rantai tembaga adalah isyarat bahwa ia akan membunuh sang anak.
Dalam lamunan panjangnya, istri memikirkan jalan yang akan ia tempuh untuk menyelamatkan sang anak.
Rasa keibuannya itu menghantarkan ia sebuah jalan keluar.
Anaknya yang cantik itu dibawa ke dengan hutan yang lebat. Dipertengahan jalan ia menemukan sebatang pohon geulumpang yang besar. 
Berderaian air mata ia memancat pohon itu dan meletakkan sang buah hati di sana dan berbisik ke sang phon agar menjaga dan merawat anaknya dengan baik.

Di perjalanan pulang, ia menangkap seekor kambing dan menyembelihnya. Daging kambing itu dimasak menjadi gulai. Adapun kepalanya dikuburkan di dekat perapian.
Setelah semua selesai. 
Ia pukul rantai tembaga yang telah ia siapkan dengan sangat kencang. 
Bunyi pukulan ini terdengar hingga ke pulau pinang, tempat sang suami berniaga.

Mendengar loncengan tembaga, sang bangsawan bergegas mengemasi barangnya dan pulang.
Sesampainya di dalam rumah Bangsawan buru-buru menemui istrinya, “Di mana anak kita?” Ujarnya dengan muka merah padam.
Anak kita telah hamba sembelih, Kanda. Inilah dagingnya sudah dibuat gulai untuk kita makan bersama-sama. 

Bagus! Mari kita makan bersama-sama!” Bangsawan Besar mengajak pengiringnya untuk makan bersama.
Mereka makan dengan lahap.

Saat sedang lahap menyantap gulai kambing yang dikira adalah daging putrinya. Terdengar dari luar " klik klik klik, mereka bukan makan daging manusia. Klik klik klik, mereka makan daging kambing" sebut suara sambil menghilang terbawa angin
Bangsawan curiga takkala suara itu kembali terdengar ke sekian kalinya. Kecurigaan itu semakin besar saat ia melihat kepala kambing di dekat perapian.
" Kau bawa ke mana anak ku atau ku bunuh kau" tanya sang bangsawan kepada istrinya dengan lantang.
Dengan muka pucat basi dan badan gemataran si istri pun menjawab " Dia ada di hutan"
" Bawa pulang ia sekarang juga" perintah sang bangsawan.
Tertatih si istri berjalan menuju tempat persembunyian sang anak.
Sesampai di pohon Geulumpang tersebut ia memanggil sang anak dan mengatakan " Anak ku, turun lah. Ayah mu sudah pulang dan membawa perhiasan untuk mu"
" Ibu katakan pada ayah, bahwa aku belum bisa bertemu dengannya. Aku sedang menanam kapas saat ini" jawab sang anak.
Permintaan pertama, kedua, dan ketiga sang anak masih belum mau menemui sang bangsawan.
Hal ini memancing amanah sang bangsawan hingga ia meminta teman-temannya menyiapkan dua puluh bilah pedang yang telah di asah tajam dan soit berserta anak sumpitnya. 
Sesampai di hutan, maka di susun lah pedang-pedang tadi hingga berbentuk menyerupai anak-anak tangga.
" Anakku, ibu datang bersama ayahmh. Kami menjemputmu. Turunlah anakku. Ini tangga sudah  dipasang oleh ayahmu. " bujuk sang ibu dengan suara lirih.
Mendengar suara ibunya dari bawah. Sang anak bersiap-siap turun menemui kedua orang tuanya. Tetapi sebelum melangkahkan kaki menelusuri anak tangga. Ia berpamitan dan mengucapkan terima Kasih kepada sang pohon karena selama ini telah menjaga dan merawatnya.
Saat kaki menyentuh tangga pertama, sumpit yang ditembak dari bawah oleh sang bangsawan mengenai sanggul sang Putri.
" Apa ini Bu? tanya Putri itu.
" itu tusuk sanggul yang dibawa oleh Ayah mu dari Pulau Pinang" Jawab ibunya.
Di tangga ke dua, sumpit itu mengenai telinganya. 
Ditangga ketiga, lehernya. 
Setiap anak tangga yang di injak oleh sang Putri, maka sumpit itu mengenai dada, pinggang, perut, paha dan kaki sang Putri.

Dan di tiap tangga itu pula ia menanyakan " Apa ini bu? "
Ibunya pun selalu menjawab " itu oleh-oleh sang ayah untukmu"
Saat kaki sang Putri menyentuh tanah, tidak sedikitpun tubuhnya terlukai oleh sumpit sang bangsawan.
Mengetahui, cara ini belum berhasil. Di temani kedua temannya, sang mengatur strategi untuk membawa pulang sang Putri ke rumah dengan maksud akan membunuhnya di sana.
Rencana sang bangsawan sedari awal telah tercium oleh sang Putri. Maka dengan tegas ia nyatakan " Ayah, jika engkau mau membunuh ku maka dirikan pohon pisang  di sebelah kiri ku. Karena bila ayah memancung ku secara langsung, sungguh ayah tidak akan sampai hati melakukannya"
" kalau begitu saran mu, aku terima. "
Dibantu oleh Lesamena dan Pedanelam, sang bangsawan menyiapkan sebatang pohon pisang dan disisi kanan berdiri sang Putri.
" Ayah, tolong minta kan kedua teman mu untuk pergi. Aku hanya mau melihat wajah mu saja dan tolong pejamkan mata mu juga" ucap sang Putri.
Sambil memejamkan mata, ia mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat. Disaat pedang berada diatas kepala, sang Putri menyangkut baju dan celana yang ia tenun di ujung pedang tersebut. Setelahnya ia lari dan bersembunyi di semak belukar di sekitarnya.
Ayungan pedang sang bangsawan telah berhasil menghembas Batang pisang menjadi dua. Seketika, ia melihat baju dan celana yang ditenun oleh sang Putri. Dengan muka penuh penyesalan ia memanggil sang Putri " Anakku, Anakku maafkan aku anakku. Aku tidak pernah memberi mu segelas air dan sesuap nasi. Tapi kau memberiku hadiah ini. Betapa setianya engkau. Aku menyesal anakku. Maafkan aku. Hati ku telah tertutup hingga nau mendengar hasutan setan berwajah manusia itu. Kembalilah anakku. "Teriaknya menyesali perbuatannya.
Sambil menangis ia mendatangi Lesamana dan Pedanelam. " Ini untuk mu" sambil menghunus pedang tersebut. 
Setelahnya ia mengayuhkan pedang itu kepda dirinya sendiri

Sang Putri yang bersembunyi di semak belukar tak dapat mencegah ayahnya.



*foto oleh googledotcom