Header Ads

Meneropong Keindahan Kota Takengon dari puncak Pantan Terong


" Besok kita sudah di lobi jam 6 yaa" ujar mas Haris.
" Siap" sahut ku bersama yang lain. Sambil menanyakan dalam hati ke mana yaa tim ini akan berlabuh esok, pagi pulak nto. Bakal ngeganggu waktu jalan-jalan ke pasar nih.


Saat akan kembali ke kamar, bang Yudi si blogger koyok yang sudah terlebih dahulu terlelap sejak sore itu ku coba bangunkan. " bang besok sudah harus di lobi jam 6 yaa, kita akan ngeexplore terong " terang ku.

Setengah sadar iya menjawab " heem" dan kembali menarik selimut tebal milik Bayu Hill itu.

Sambil mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat isya. Aku bertanya " Terong, what kind of place that" sesampai di mesjid yang jaraknya hanya 200 meter dari hotel, aku juga masih mencoba mencuri info dari jamaah. Mana tau mereka akan mengeluarkan kalimat yang aku inginkan itu. Ah, ternyata tidak. Tak satu pun dari jamaah yang notabennya lebih tua dari ku itu yang membahas tentang terong.

"Sudah lah, besok pagi akan kita lihat seluas apa dia. Ia tak lebih dari kebun terong yang saking luasnya oleh pemerintah menjadikannya sebagai salah satu objek wisata yang wajib di kunjungi kala ke Takengon, Aceh Tengah." gemuruh batin ku.

Biasanya, selepas shalat subuh aku sering memanfaatkan waktu untuk keliling ke sekitaran hotel sambil menikmati hujan kabut yang begitu eksotis. Tapi, pagi ini rutinitas itu tidak ku jalankan mengingat jam 6 sudah akan berangkat. Jadinya langsung kembali ke kamar dan bergegas kembali ke lobi.

Saat turun ke lobi tidak ku temukan satu orang pun anggota tim pesona Indonesia ini. "Pada kemana yaaa, jangan-jangan udah pada go" kata ku.  Lirik ke jam dinding hotel. What, ternyata masih jam 5:40. Hahahaha. 

Akhirnya ku putuskan kembali ke kamar, ya lumayan untuk menghangatkan diri dari ancaman kedinginan. Yang suhu di pagi ini mencapai 15 derajat kisar ku.

Rasa was-was takut telat membuat ku hampir tiga kali naik turun ke lantai satu untuk memastikan apakah tim sudah siap dan pada giliran yang ke empat akhirnya terlihat lah bang Andi, bang Haris dan bang Ucok sudah steady dengan aneka peralatan elektroniknya.

" Yudi mana? " sapa bang Haris.
" Masih di kamar bang, tadi udah aku bangunin. Mungkin sedang di kamar mandi bang, coba aku cek lagi yaa" kata ku

Naik lagi ke kamar, rasanya betis ku makin Ade Rai saja hari ini akibat naik turun lantai 2 ke lantai 1. Lift ada, tapi tidak ku gunakan. Hitung-hitung olahraga sih, hehehe. 

Menunggu hampir 30 menit, akhirnya semua anggota tim sudah siap melaju bersama Avanza dan Axio putih.

Dalam perjalanan mengintari kota Takengon ini, aku masih saja penasaran. Apa yang ditawarkan oleh tempat ini yaaa, sehingga tim wonderful Indonesia ini harus bergegas begitu awal untuk ke sana.
Jalanan yang tak begitu padat membuat lenggak lenggok mobil yang di supiri oleh bang Agus ini, begitu nyaman untuk di nikmati. Jalanan yang sudah teraspal hitam semakin menambah rasa kantuk. Berasa seperti sedang di ayun-ayun jadinya. Belum lagi ditambah gigitan udara yang begitu lembut menyentuh relung tulang.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, jalanan mulai berubah sedikit menanjak tapi masih cukup nyaman untuk melanjutkan tidur, namun ku katakan tidak, aku tidak mau melewatkan pemandangan yang begitu indah ini. Hamparan kebun kopi, batang pisang dan pohon mangga serta kicaun burung begitu semangat menyapa matahari yang malu untuk menampakkan wujudnya.

Tiba saja, mobil yang aku, bang Haris dan bg Andi tumpangi ini berhenti!
" Tak kuat naik ini, kita pakai avanza saja yaaa. Jadinya dua kali trek. Silakan lanjut dulu rombongan yang pertama, setelah sampai di puncak nanti jemput lagi." ungkap bang Agus.

Pemberhentian yang tiba-tiba itu ku manfaat kan untuk mengakrabkan diri dengan sekitar.


Tak lupa, kamera Lumic Panasonic dan Asus Zenfone 5 ku keluarkan dari tas untuk mengabadikan keindahan yang Allah ciptakan ini.


Menunggu hampir 5 menitan, aku dan rombongan kembali melanjutkan ke tujuan.
Hamparan dedaunan yang hijau muda ditambah embun yang masih belum mau lekas darinya sungguh telah membuat mata ku terhipnotis.
Pemandangan seperti ini takkan pernah bis aku dapatkan jika kembali ke ibukota.  Macet, knalpot kendaraan, bunyi klakson, pelanggar lalu lintas rasanya sejenak terlupakan.


"Kita tiba! " ucap bang Agus
"Mana kebun terongnya" tanya ku dalam hati.


Pantan Terong, begitu lah masyarakat biasa menyebutnya. Tidak ada terong apalagi terasi di sekitar sini. Yang tersajikan di depan mata sekarang adalah sebuah pemandangan alam yang sangat indah. Danau Laut Tawar, Bandara Udara Rembele, Pancuan Kuda Belang Bebangka dan seluruh kota Takengon akan terlihat jelas dari sini.Tempat ini berada di ketinggian 1.830 meter di atas permukaan laut dan udara yang begitu sejuk. Ketinggian ini yang menyebabkan gumpalan awan begitu lembut menyapa kedatangan tim pesona takengon ini. 
Danau Laut Tawar ditutupi awan




Pantan Terong telah berbenah. Iya, 2013 silam. Tempat ini tak lebih dari hutan belantara. Terlebih kala gempa yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah 2013 silam semakin menambah kesan buruk tempat ini. Alhamdulillah, Agustus 2014 tempat ini kembali menjadi primadona wisata alam di Aceh Tengah. Eksotisme Aceh Tengah dan Bener Meriah akan dengan mudah terlihat dari tempat ini.






Untung saja, baterai kamera dan smartphone telah terisi dengan penuh. Sehingga alam indah yang Dia ciptakan ini tidak luput dari cepretan. Terima kasih alam, engkau mengajarkan ku banyak hal. Keindahan yang Kau siapkan ini telah membuat diri ini semakin sadar bahwa alam diciptakan bukan untuk di rusak melainkan untuk di jaga. Ketika kita mampu berdamai dengan alam, sungguh alam juga akan berdamai dengan kita, yang lambat laun ia akan mengajari kita akan pentingnya bahwa Dia lah Sang Maha Pemberi Pembelajaran.