Header Ads

Lomba Blog Elevenia 2017: Jawaban Atas Doa Ku Dalam Menyiapkan Kado Untuk Bapak

13 tahun ia pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Saat itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan belum tau dengan baik makna dibalik kata meninggal. Ibu dan saudara-saudara ku hanya mengatakan "Bapak ada keperluan, harus pergi dan tidak bisa tidur di rumah lagi. Ini tempat tidurnya sekarang" sambil menunjukkan tumpukkan tanah yang sudah mengering itu.

Hari-hari terus ku jalani tanpa belaian kasih, cinta dan perhatian seorang bapak. Kepergiannya yang begitu mendadak membuat ku sepi. Hal ini berbeda dengan mereka yang selalu bisa bermesraan dan bermanja ria dengan orang tua laki-laki mereka.

Aku tidak!!

Acap kali rasa iri dan cemburu muncul pada mereka yang tiap lebaran tiba selalu merenggek meminta di belikan baju baru "Pak, adek mau baju model kayak gini, kapan bapak beli? " lontaran kalimat seperti itu hampir sepanjang ramadhan ku dengar.

Berbanding terbalik dengan ku, hampir tiap kali lebaran hanya mampu memakai baju bekas sumbangan orang lain. Baju baru merupakan barang mewah bagi ku dan keluarga.

Dalam lamunan yang berkepanjangan, aku sering memimpikan " Bapak, andai engkau masih ada. Ingin sekali ananda mu ini membelikan baju baru untuk mu yang dengannya akan membuat urat-urat dan kulit sawo matang mu tertutup. Tapi itu tidak pernah mungkin akan terwujud, sosok itu telah pergi dan takkan pernah kembali".

Walau demikian, aku tidak pernah berhenti berharap untuk dapat menghadiahkan sepotong baju untuk laki-laki bernama bapak itu.

Sepeninggalan bapak di awal 2004 silam, aku terus memanjatkan doa " Ya Allah, aku tau orang tua ku tidak akan mungkin bisa hadir lagi di muka bumi ini. Oleh karenanya izinkan Rasul Saw Yang Mulia itu hadir membimbing ku dalam menggapai ridha Mu Yang Maha Suci". lafad itu tidak pernah berhenti dari serantaian doa-doa yang ku panjatkan.

Hingga aku merasa, Allah bosen mendengar repetan ku dan menghadirkan sosok yang selama ini ku impikan itu. Beliau adalah, Prof. Dr. H. Mustanir. M. Sc, guru besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.


Abi dan keluarga di hari wisuda ku

Sejak 2012 silam, saat pertama kali ku bertemu dengan beliau. Aku melihat aura yang sangat berbeda di wajahnya.  Aura yang dapat membimbing ku dalam mengapai ridha Ilahi. Pancaran air wajah ketulusan yang terus mampu membuat ku bergairah dalam menjalani hari-hari. Sosok yang begitu siap menegur  kala aku berbuat silap, baik dari dalam bertutur kata maupun perbuatan.

Kala itu aku tidak berani, langkah dan bibir ku terasa kaku. Adapun jalan keluar yang ku tempuh adalah dengan tetap bermunajat kepada Allah agar aku tidak salah memilih.  Ini berbekal dari setumpuk pengalaman yang ku alami sebelumnya.

Iyaa, saat duduk di bangku SMP dan SMA, aku pernah mengidolakan beberapa sosok. Namun, akhirnya aku mendapati sebuah hal yang membuat ku menyimpulkan bahwa mereka itu adalah orang tidak dapat mendekatkan diri ku kepada Sang Pencipta dan tidak bisa mendukung ku untuk terus berbagi dan berbuat baik untuk masyarakat. Tapi malah akan menjauhkan ku dariNya dan membuat ku apatis terhadap lingkungan di sekitar ku.

Di pertengahan 2014. Aku menemukan akun facebook prof  dan memberanikan diri untuk mengirim pertemanan.

Saat aku mengenal beliau lebih dekat, sosok yang kini ku panggil dengan sebutan  abi ini, membawa ku kembali ingat akan mimpi ku dulu. Yakni, ingin sekali  menghadiahkan baju untuk orang tua laki ku.

Seperti biasanya, di setiap awal tahun aku selalu membuat resolusi yang wajib ku capai dalam tahun itu. Maka, di awal januari 2016 silam. Salah satu resolusi yang ingin ku gapai, sebagaimana tertera di no 10 di kertas A4 yang ku tempel di dinding kamar ku adalah membeli baju baru untuk Abi Prof hasil lomba atau kerja.


List target di 2016 silam

Untuk mengapai mimpi tersebut, puluhan aplikasi lomba dan lamaran kerja ku lempar. Namun hingga 2016  berakhir, aku belum mampu mengapai mimpi itu. Lomba-lomba yang ku ikuti tidak satu pun menunjuk ku sebagai juaranya, lamaran kerja yang ku lempar ke aneka perusahaan pun tak juga mendapat kabar bahagia. Aku merasa setengah gagal, sepotong baju saja tidak mampu ku persembahkan untuk dia yang ku cinta.

Tapi, kegagalan itu tidak membuat ku menyerah begitu saja. Malah membangkitkan semangat yang lebih. Maka, dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang hebat. Kembali ku cantumkan dalam list mimpi yang wajib di gapai di 2017 ini adalah menghadiahkan sepotong baju dan sebuah jam tangan untuk Abi.



List target  di 2017

Abi adalah sosok yang berjibaku dengan berbagai pertemuan penting, baik formal maupun non formal. Hadiah baju yang ingin ku persembahkan selain untuk memenuhi mimpi kecil ku, juga untuk menghadirkan kehangatan agar beliau selalu fit dan baik penampilannya dalam berbagai situasi serta sebagai sebuah tanda sayang ku untuk nya. Adapun pilihan jam tangan, jatuh karena aku mau Abi untuk selalu bisa hadir dalam berbagai kegiatannya tepat waktu. Ilmu dan buah pikirannya sangat ditunggu oleh masyarakat saat ini, sehingga dengan jam ini Abi bisa selalu membuat banyak orang bahagia.


Aku merasa Allah telah menunjukkan jalan yang tepat bagi ku agar tahun ini bisa mewujudkan mimpi yang sempat tertunda itu.

Kehadiran lomba blog 2017 oleh Elevenia ini adalah jawaban atas segala doa yang selama ini ku panjatkan. Apalagi, saat aku tau bahwa salah satu topik kategorinya adalah Fashion. Aku berharap, tahun ini, di ulang tahun  Abi yang ke 51 juni mendatang. Aku bisa menghadiahkan sebuah kado yang di dalamnya berisikan baju

Aku tidak mau, mimpi ku itu tidak kembali terwujud di 2017. Meski aku sadar, se hebat apapun manusia berbuat, jika Allah tidak merestui maka tidak akan pernah ada hasilnya. Karena Allah jauh lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hambaNya..

Aku sangat percaya, Elevenia bisa membantu ku dalam mewujudkan mimpi itu. Oleh karenanya, wajar jika ku ucapkan terima kasih.