Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Tuesday, 21 February 2017

Pendidikan, Jawaban untuk Gampong

Aula Andika Fikrullah Albalad
Kepingan opini di Harian Rakyat Aceh

Indonesia Mengajar (IM), adalah program yang diinisiasi oleh Anies Baswedan pada 2009 ini telah berhasil mengirim para pengajar muda ke seluruh pelosok Indonesia untuk mengajar dan mengubah pola pikir anak-anak di berbagai daerah.
Tak mau ketinggalan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejak tahun 2011 juga mengeluarkan program “serupa” yakni SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar Terdepan dan Tertinggal) yaitu program yang mengirim para sarjana muda lulusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan ke daerah-daerah yang berada dikawasan 3T seperti Papua, NTT dan Aceh dll.
Alhamdulillah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah adalah satu-satunya LPTK di Aceh yang mendapat wewenang untuk melaksanakan penyeleksian para sarjana untuk ikut berpartisipasi di SM-3T.
Pada dasarnya kedua program ini memiliki visi dan misi yang sama yakni, mengirim pendidik muda untuk mengajar, berbagi pengalaman dan mencerdaskan anak bangsa di seluruh pelosok negeri.
Apa yang dilakukan oleh para sarjana dan pengajar muda ini tentu lah sangat merefleksi akan kalimat yang pernah diungkapkan oleh seorang pejuang diskriminasi asal Afrika, yang kemudian menjadi presiden berkulit hitam pertama, siapa lagi kalau bukan Nelson Mandela yang dimasa hidupnya pernah berkata “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Pernyataan ini begitu mengambarkan pentingnya pendidikan.
Pendidikan di gampong.
Jika kita berbicara tentang gampong, yang biasanya terpantri dalam ingatan kita adalah ketertinggalan dan kemiskinan. Iya, harus diakui memang gampong adalah penyumbang daftar orang miskin terbesar di republik ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada maret 2010 menyebutkan bahwa 64.32 persen dari total 31.02 juta penduduk miskin di Indonesia tinggal di gampong.
Oleh harian Kompas, (19/07) juga menguatkan akan data yang disampaikan oleh BPS ini dengan kembali mengeluarkan data yang menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin per maret 2016 berjumlah 28 juta jiwa atau 10,86 persen dari total penduduk Indonesia. Jika melihat data ini, maka bisa disimpulkan bahwa jumlah kemiskinan penduduk digampong hampir dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal dikota. Sebut saja DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia yang jumlah penduduknya hanya 9.992.842 jiwa (BPS)
Melihat data diatas dan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Muni’ sebagaimana tersajikan dalam al-Shakhawi, al-Ajwabah al-Mardhiyah, Dar al-Rayyah, Hal. 606  “اكفر يكون ن أالفقر كاد” yang artinya “kemiskinan itu rentan dengan kekufuran” penulis menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan, kemiskinan dan kekufuran.
Sebagai individu yang tinggal dan besar di gampong, penulis mengamati akan fenomena yang selama ini berkembang di masyarakat gampong yakni pendidikan bukanlah prioritas utama.
Orang tua beranggapan bahwa sudah mampu membaca dan menulis maka sudah dianggap berpendidikan, dibandingkan mereka (orang tua) yang buta akan baca dan tulis. Sungguh disayangkan akan hadirnya pola pikir seperti ini, karena pada akhirnya ekonomi keluarga menjadi taruhan.
Padahal jika melihat esensi pendidikan yang sebenarnya lebih dari sekadar hanya mampu menulis dan membaca. Filosof asal Inggris, John Struart Mill, menyatakan bahwa esensi pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya, yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.
Ketidakseksian isu pendidikan dikalangan masyarakat gampong, disebabkan oleh banyak faktor diantaranya factor ekonomi dan status “pengacara” yang disandang oleh para sarjana. Mereka yang berasal dari ekonomi kalangan bawah tak jarang langsung menikahnya anak-anak gadisnya sebagai upaya untuk meringankan tanggungan bagi mereka. Dikotomasi semacam ini tentu akan melahirkan sumber daya manusia yang slowdown. Yang berakibat pada kemunduran negera.
Berbicara masalah di gampong memang takkan pernah ada habisnya. Berbagai solusi yang selama ini telah ditawarkan untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan digampong tak kunjung membuahkan hasil. Penulis menyatakan bahwa hal ini tak olah dikarenakan pola pikir masyarakat yang masih mengesampingkan pendidikan.
Untuk menyelesaikan berbagai persoalan dimasyarakat gampong, hanya akan dapat dicapai apabila masyarakatnya berpendidikan. Jika hari ini, kita selalu mengandalkan program-program yang ditawarkan oleh pemeritahan saja, penulis rasa bukanlah pilihan yang tepat. Butuh kontiniutas dan perhatian yang besar dari masyarakat dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Nah, untuk mendapatkan itu pendidikan adalah solusi satu-satunya.
Perubahan yang fundamental terhadap pendidikan di gampong memang sangat dibutuhkan. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah dalam mengelola pendidikan dan masyarakatnya. 
Apa yang dilakukan oleh negera ini bisa dijadikan contoh. Norwegia, Australia dan Swiss sebagai negara dengan indeks pembangunan masyarakat terttinggi di dunia adalah negara yang menepatkan pendidikan sebagai fokus utama. Negara ini memberi akses dan kesamaan hak untuk memperoleh pendidikan yang sama bagi warganya. Bahkan saking penting pendidikan, Firlandia mengratiskan pendidikan bagi seluruh warga negaranya. Tak tanggung-tanggung, di negara ini, masyarakatnya bebas menikmati sekolah gratis hingga S-3. Kita semua berharap, pendidikan masyarakat di gampong akan mampu mengubah dan mendorong hidup mereka menjadi lebih baik. Hingga citra gampong sebagai gudang kemiskinan mampu tergantikan menjadi gampong pusat inovasi dan inspirasi akan kemajuan republik tercinta. Aamiin.


*Tulisan ini pernah dimuat di Koran Harian Rakyat Aceh. Selasa, 21 Februari 2017.

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib