Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Sunday, 1 January 2017

Surat Cinta untuk bapak, sebagai kado terindah 2016

Aula Andika Fikrullah Albalad
My biologist father. Alm Ridhwan Kr ibn Ismail. 
Rabu, 16 November 2016 lalu menjadi hari yang takkan pernah terlupakan. Sepatutnya, hari dan tanggal itu tersematkan dalam bingkai berlian bergebokkan emas mutiara. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah dan salawat serta salam kepada baginda tercinta Nabiyullah Muhammad Saw.

Masih teringat dengan jelas dalam ingatan ku. Pagi minggu 2002 silam, ayahanda tercinta alm Ridhwan Kr. Is duduk disamping ku. Seumur-umur tak pernah beliau lakukan hal itu, tapi pagi itu beliau menemani ku yang sedang makan ubi rebus plus parutan kelapa yang emak masak selepas subuh. 

Beliau memulai percakapan " Kiban sikula nek ( gimana sekolahnya nak)? "

"Alhamdulillah get Pak (Alhamdulillah baik Pak) " jawab ku


"Jrouh, bek seudeh nek beh tip uroe Aula hanya bisa pajoh ubi rebus campu dengoen saka atau sira dan peng jajan yang kadang na  dan tan. Bek sampe putoh seumangat untuk jak sikula dan meutemee rangking. Karena hanya dengan pendidikan geutanyoe akan bermartabat. Insya Allah,  doa Pak ke aneuek-aneuek Pak,  semoga man mandum beuberhasil. Pak hawa that keuneuk kalon aneuk-aneuk pak jak kuliah dan insya Allah deungon boh ubi nyoe Aula akan meutemee jak sikula yang manyang

( Baik,  jangan sedih nak ya tiap hari hanya bisa makan ubi rebus dilumuri dengan gula atau garam. Dan uang jajan yang kadang ada dan lebih sering tidak. Jangan sampai putus semangat untuk pergi sekolah dan dapat rangking. Karena hanya dengan pendidikan kita akan bermartabat. Insya Allah,  doa Bapak untuk semua anak Bapak,  semoga semuanya berhasil. Bapak pengen sekali ngelihat anak-anak Bapak kuliah dan insya Allah dengan ubi rebus ini,  Aula akan mendapat kesempatan untuk kuliah setinggi mungkin) " ucapnya sambil memeluk tubuh ku.

Tahun berganti begitu cepat. 2 tahun setelah engkau mengucapkan itu kemudian engkau pergi tanpa terlebih dahulu berpamitan kepada anak-anak mu ini Pak dan hanya ada selembar klise photo yang tak sengaja engkau simpan dalam dompet kusam mu sebagai kado perpisahan kami.

Saat ucapan itu kau lontarkan,  aku belum begitu paham. Yang ku ingat hanya "belajar yang rajin dan saat ujian selesai di rapor ku wajib bertuliskan RANGKING 1 ATAU 2" cuma itu saja. Pesan itu terus ku pegang hingga aku duduk di bangku SMA. Meskipun saat kelas 3 SMA,  rangking ku turun ke angka 4 dan 6. Masih teringat satu peristiwa Pak, selepas aku menamatkan SMA dengan capaian nilai ku menduduki peringkat ke-3 tertinggi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banda Aceh kala itu. 

Aku mendapatkan undangan untuk melanjutkan kuliah ke universitas negeri di Indonesia. Sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh semua siswa dan orang tua. Tapi, tidak bagi ku Pak!!

Selepas diumumkan oleh guru bahwa aku salah satu penerima undangan yang kala itu bernama Undangan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) aku lari kesudut ruangan kantor pengajaran sekolah. Air mata ku menetes tiada henti Pak. 

Saat itu aku risau dan takut Pak apakah undangan ini aku terima atau tidak?
Jika aku terima lantas siapa yang akan membayar semua kebutuhan ku selama kuliah?
Kau sudah tidak ada, ada pun ibu yang hanya berjualan sayur didepan rumah sungguh tak mampu untuk membayarnya. Tapi disisi yang lain, aku bahagia pak. Doa mu dulu seakan diijabah olehNya.


Lantas dengan berat hati, aku sampaikan sama guru di pengajaran " Bu, saya tidak menjawab pertanyaan ibu sekarang saya harus konsul dengan orang rumah dulu. Insya Allah paling cepat senin akan saya kabari jawabannya" kata ku.

"Gak bisa Aula, keputusannya harus sekarang karena nama-nama ini akan dikirim ke kelapa sekolah untuk disetujui bla bla bla" balas si ibu. Aku tidak ingat dengan baik, penjelasan si guru ini.

Selang dua hari..

Sambil memungut buah pinang yang engkau tanam dulu Pak, ada satu orang warga kampung kita yang menanyakan "pat meujak kuliah Aula? (Mau kuliah dimana Aula) "tanyanya.


Tanpa ada keraguan aku menjawab " Insya Allah Unsyiah bu".

Lantas si ibu ini pun menimpa " bek harap meutemee jak kuliah bak Unsyiah, jika hana ureueng dalam dan peng (jangan harap bisa kuliah di Unsyiah jika gak ada orang dalam dan uang)".

Jlep, semangat ku dirobohkan..

Hina sekali keluarga kita ya Pak, hingga semua yang kita lakukan begitu mudah diremehkan dan bahkan dihina oleh orang lain. 

Lantas dalam hati aku menjawab " Kita lihat bu, siapa yang akan kuliah di Unsyiah anak anda atau saya seorang dari kampung ini. Keluarga kami boleh saja tidak ada uang dan kolega di Unsyiah. Tapi kami masih punya akal dan otak".

Alhamdulillah. Juni 2011. Aula Andika F.A dinyatakan lolos di Jurusan Pendidikan, FKIP, Universitas Syiah Kuala. Pak,  anak mu kembali merealisasikan mimpi mu. Empat koma sembilan bulan pun berlalu pak. Tepat 16 November 2016, sehari sebelum umur ku genap 23 tahun. Anak bungsu mu ini diwisuda dari Universitas Syiah Kuala,  universitas yang paling bergengsi bagi masyarakat Aceh dan Indonesia ini.


Pak,  anak mu telah mewujudkan cita-cita mu pak. 

Memakai baju toga dan berijazah S1.


Kebahagiaan tak terbendung dihari itu Pak.

Disaat yang bersamaan juga air mata ku tumpah tak tertahankan.
Aku wisuda tapi tak ada sosok pria berambut kriwil yang berdiri dengan wajah tersenyum dalam ruangan itu. Tak ada sosok pria berkulit coklat kehitaman yang menyapa ku Pak.

Siang istimewa itu, tubuh yang pertama kali ku peluk dengan sangat erat bukan lah tubuh orang tua kandung ku yang menjadi wali ku yakni engkau pak, melainkan tubuh laki-laki yang tak ada hubungan darah sedikit pun dengan ku. Namun tanpa malunya aku menyebut beliau dengan sebutan ABI sebagai bentuk hormat dan takdhim serta cinta ku padanya sebagaimana cinta dan takdhim serta hormat ku pada mu Pak. 

Dua hari sebelum wisuda,  aku datang menghadapnya untuk menanyakan beberapa nasehat Pak. Iya, belakangan ini air mata yang mengalir diwajah ku ini sering dilap oleh beliau. Semangat yang kerap kendor sering dikuatkan olehnya. Kala ku jatuh, beliau yang sering membangunkan ku dan kembali meminta ku untuk berlari.

Semenjak kau pergi, retetan kalimat yang ku panjat selepas salat lima waktu adalah semoga Allah izinkan HabibullahNya untuk membimbing ku menuju jannahNya. Meskipun aku tau, diri yang kotor ini tak pantas untuk bertemu apalagi mendapat bimbingan dari manusia yang paling sempurna itu. Tapi tak pernah ku hentikan doa ku itu Pak. Hingga kemudian, Allah hadirkan beberapa hamba-hambaNya (seperti Abu Mudi, Habib Ali Zainal, Abon Seulimum, Abu Tumim, Waled Seulimum, dan beberapa pimpinan pesantren lainnya) yang saleh dalam tiap mimpi ku. Dan tak lupa, sosok yang ku panggil dengan sebutan abi itu adalah sosok yang paling sering kali hadir diantara ulama-ulama itu Pak.
 Aku tak tau dengan pasti makna apa yang tersembunyi dibaliknya. Telah ku buka beberapa literatur kitab, namun tak ku dapatkan dengan baik takbir akan mimpi-mimpi itu. 

Karena tau beliau begitu sibuk,  tanpa berharap banyak aku hanya menanyakan apakah beliau dihari rabu (16/11) ada di Banda Aceh? 
Beliau lantas menjawab bahwa beliau harus mengisi sebuah acara di sebuah kampus di Aceh dan setelahnya harus langsung terbang ke Jakarta untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai salah satu anggota majelis badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)  Indonesia.

Mendengar jawabannya itu,  putus sudah harapan ku yang tadinya menginginkan dihari wisuda ku aku ingin beliau hadir mengantikan diri mu Pak.

Tapi, kekhawatiran itu tidak sempat punah Pak. Saat beliau menyatakan bahwa akan menolak undangan sebagai pemateri di universitas  dan akan menunda keberangkatannya ke Jakarta demi menghadiri wisuda di tanggal 16 November 2016. 

Subhanallah walhamdulillah walaillahaillah wallahuakbar, sungguh rabu 16 November 2016 adalah kado terbesar dan terhebat yang pernah ku terima dalam sejarah menjelang ulang tahun ku. Pak, meskipun wujud mu tak hadir di 16 November 2016 lalu. Tapi itu tidak mengurangi sedikit pun kebahagiaan ku dihari itu. Senyum bahagia yang terpancar diwajah mak, kakak Rosni dan suaminya, dan abang cut lem, ka Mis, para cucu mu dan yang tak kalah penting kehadiran ABI mampu menghapus segala kesusahan, kekecewaan dan penhinaan yang selama ini aku dan keluarga kita terima.


Hari ini (1/1) tepat 13 tahun engkau percaya  meninggalkan kami semua Pak. Semoga, lantunan syair-syair doa yang tiap selesai salat ananda lantunkan kepada mu Allah kabulkan Pak.
Hingga dalam istirahat, sebelum kita dibangkitkan di yaumil qiyamah kelak. Kubur mu dipenuhi oleh limpahan keberkahan berupa lapangnya kubur mu, terangnya kubur mu dan dibukakan celah disetiap sudut hingga tercium aroma surga serta yang tak kalah penting hilang azab kubur. Aaaaamiiiiin.


Untuk mu yang tercinta, Ridhwan Kr bin Ismail bin Adam.

Dari ananda mu Aula Andika Fikrullah Albalad, S.Pd

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib