Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Thursday, 12 January 2017

Mewujudkan masyarakat Aceh membaca

Aula Andika Fikrullah Albalad
Artikel saya di Harian Rakyat Aceh, Rabu, 28 Desember 2016

Maret 2016, oleh Central Connecticut State University melalui studinya “The World’s Most Litterate Nations (WMLN)” merilis data, Indonesia menduduki peringkat ke-60 sebagai negara dengan minat baca terendah. Adapun peringkat pertama hingga ketiga ditempati oleh Finlandia, Norway dan Iceland (webcapp.ccsu.edu).

Selanjutnya United Nations Development Programs (UNDP) tahun 2005 menyebutkan bahwa angka melek huruf di republik  ini hanya 65,6% dari total penduduk  yang hampir mencapai 255 juta jiwa. Sedangkan selebihnya 35,4% masih berada dalam kondisi buta huruf (republika.com).

Melihat prestasi ini sungguh menyayat hati. Disatu sisi, kita selalu mengagungkan kehebatan yang dimiliki oleh Indonesia. Seperti kekayaan alam yang mampu membuat negara -sehebat Amerika-, iri hati sehingga “menyelinap –secara sembunyi-sembunyi- untuk mengeruknya” (Indonesiamembunuh.net), dan kekuatan militer tentara Indonesia yang ditahun 2015 menduduki tingkat ke 12 dari 126 negara dunia  sebagai kekuatan militer terkuat di dunia berdasarkan penilaian oleh Global Fire Power (GPF), (militerone.com).

Tetapi dilain sisi, human development kita masih diambang keprihatinan. Padahal  untuk membangun sebuah peradaban yang maju, sumber daya manusia merupakan faktor pendukung utama dan untuk mewujudkan SDM yang baik salah satu caranya melalui membaca.  

Mewujudkan masyarakat Aceh membaca  bukanlah sebuah keniscayaan walaupun jujur kita katakan bahwa membudayakan “Aceh” membaca tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena bagi masyarakat kita membaca masih menjadi sesuatu yang membosankan. Umumnya mereka lebih memilih menghabiskan waktu luangnya dengan menonton televisi dan bersosial media dibandingkan dengan membaca. Hal ini terbukti dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa waktu yang dikeluarkan oleh anak-anak di Indonesia menonton tayangan televisi jauh lebih banyak dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika, Kanada dan Australia yang masing-masing 300 menit, 100 menit, 60 menit, 150 menit. (bps.go.id)

Beberapa hal yang membuat dunia membaca di Indonesia wabil khusus di Aceh lesu diantaranya. Pertama, Pola asuh yang kurang tepat. Masyarakat kita umumnya lebih membiasakan memperdengarkan cerita-cerita kepada anak-anaknya dibandingkan meminta sang anak membaca sendiri. Padahal si anak sudah mampu membaca. Sehingga wajar, jika dikemudian hari, kita menjadi pendengar yang baik dalam berbagai kemajuan yang berhasil dicapai oleh orang lain. Membiasakan membaca layaknya buang air besar, jika kita sudah terbiasa buang air besar pada pagi hari maka setiap pagi tanpa ada paksaan kita akan ke kamar mandi untuk buang air besar. Begitu juga dengan membaca, jika sudah dibiasakan membaca terlebih sejak usia dini, maka sudah dapatkan dipastikan saat dewasa hal itu akan terus dilakukan. Bukan kah kaidah “Lazat lazem kayeem biasa” sudah sangat familiar dalam masyarakat kita?

Kedua, Bullying. “Ah sok rajin”, “Cie kutu buku?”, segelintir ucapan bernada negatif ini kerap terlontarkan saat melihat orang lain membaca. Penulis sendiri menjadi salah satu korban. Kebiasaan bully ini sudah sepatutnya dihilangkan dalam tatanan berkehidupan berbangsa dan beragama. Karena dengan membaca kita sudah menjalankan perintahNya sebagaimana diwahyukan pertama kali kepada Rasul Saw, yakni Iqra’.

Ketiga, disadari atau tidak, kemajuan teknologi bagaikan pisau yang apabila disalahgunakan maka akan menjadi malapetaka bagi penggunanya. Kemudahan mengakses internet telah menyebabkan budaya baca menjadi rendah. Generasi saat ini cenderung menggunakan kemajuan teknologi untuk bermain game dan mengakses media social dibandingkan untuk membaca.  Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi, Ismali Cawidu, disebuah pertemuan di Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, april silam, menyebutkan bahwa saat ini ada sekitar 124 juta pengguna menggunakan seluler berbasis Android untuk mengakses media sosial. Walaupun  kominfo telah melakukan sejumlah upaya berupa himbauan untuk masyarakat agar tidak sering menggunakan internet untuk mengakses media sosial melainkan untuk melihat dan mengakses konten lain yang lebih kearah pendidikan. Himbauan kominfo ini hanya berupa angin yang berlalu, sebab data yang disajikan oleh Opera Mediaworks and Mobile Marketing Association (MMA) kembali menyebutkan bahwa  pengguna mobile di Indonesia lebih sering mengakses situs media media social dengan jumlah persentase mencapai 38 persen (liputan6.com).

Faktor keempat adalah sarana prasarana. Kemudahan menemukan perpustakaan yang memadai di Aceh ini tidaklah semudah menemukan warung kopi. Jika pun ada maka tidak mampu memuaskan hasrat pengunjungnya. Perpustakaan yang dikelola oleh dinas terkait yang selama ini ada di Aceh khususnya, lebih tercitra sebagai tempat nongkrong para PNS dengan segelumit birokrasi yang aduhai.

Seyogyanya, pustaka  haruslah menjadi tongkrongan favorit untuk masyarakatnya. Namun yang justru terjadi malah sebaliknya, para pengujung pustaka mengomentari lingkungan perpustakaan yang tidak eye catching, petugas yang kurang ramah, sistem pelayanannya yang sembrawut (peminjaman buku, pengembalian, proses pembuatan kartu anggota, jadwal berkunjung) dan koneksi internet yang lelet. Sehingga wajar, jika hari ini, warung kopi lebih diminati dibandingkan perpustakaan.

Belajar dan harapan baru- 

Jepang, sebagai negara maju telah membudayakan  membaca sebagai gaya hidup. Negara matahari terbit ini telah mencanangkan program 20 minutes reading of child and mom yakni  gerakan yang mengharuskan seorang ibu mengajak anaknya membaca selama 20 menit sebelum tidur. Tentu hal ini sangat bagus untuk ditiru sehingga wacana mewujudkan masyarakat Aceh membaca bukanlah isapan jempol belaka.

Momentum PILKADA yang sebentar lagi akan kita rayakan sejatinya adalah pundak harapan dari segala kerisauan. Kita semua berharap, mereka yang terpilih nanti adalah pribadi yang siap dan punya perhatian besar dalam mewujudkan masyarakat Aceh membaca. Sehingga, melihat masyarakat yang antri di atm, duduk di ruang tunggu sambil membaca buku bukanlah sebuah pemandangan yang aneh dibumi Seramoe Mekkah ini. Aamiin.


Artikel ini ditulis oleh
Aula Andika Fikrullah Albalad, S.Pd
 Raja Baca Aceh 2014, Ketua  Humas Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh 2016-2018, alumni Pendidikan Fisika Unsyiah dan santri Dayah Raudhatul Mubarakah, Aceh Besar.
Aulafa07@gmail.com


*Artikel ini sudah terbit di koran Harian Rakyat Aceh, Rabu 28 Desember 2016.

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

2 Comments:

  1. Udah mantap kali artikelnya dek, 1000 like lah buat Aula. Kakak ngerasa banget pengalaman jadi bullying kayak point no 2, salah saja kita diantara mereka jika kita pegang buku. Insyaallah klu kk jadi orang penting di negEri ini, point no 4 itu akan mewajibkan cafe atau warung kopi ada buku di setiap mejanya. "Gerakan membaca di warung kopi" namanya. Amin.., bermimpi boleh sajakan! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, makasih ka Yell, masih tahapan belajar selalu nih.
      Budaya bullying memang masih belum bisa dipisahkan dalam kehidupan kita, sayang sekali. Padahal bukan budaya yang baik bagi mereka.
      Amiiiiin, semoga kita menjadi orang yang selalu baik dimana dan apapun profesi kita nanti.

      Delete

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib