Header Ads

Donor Darah, Siapa Takut!

Saya masih aktif sebagai salah satu pengurus (dulu) PEMA (Pemerintahan Mahasiswa) sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala dengan presidennya adalah Furqan.

Pagi menjelang siang itu, ada salah satu pengurus yang menyatakan bahwa ada koleganya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh dan membutuhkan beberapa kantong darah bergolongan O.

Saat itu saya sudah mengetahui golongan darah saya, karena semenjak kecil kak Rosniati (kakak perempuan pertama yang sangat aktif diberbagai organisasi kemanusiaan salah satunya PMI) sudah sangat sering membawa saya ke Unit Tranfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cab Banda Aceh ini.

Sehingga saat mendengar hal itu saya refleks "Saya O bu, tapiiii.."

"Pas kali pak Aula, ayoo bantu saya yaaa. Gak seseram itu kok. Malah nanti Bapak akan ketagihan untuk donor. Yuuuk pak. Butuh cepat ni" ajaknya sedikit memaksa.

"Yuk.." jawab saya

Jreng jreng jreng, ditemani si greng saya meluncur ke UDD PMI Cab Banda Aceh.

Sesudah memarkir motor kesayangan ini, saya diajak masuk ke ruangan sejuk untuk melakukan cek darah dan cek kondisi HB. Tahapan ini saya lakukan setelah sebelumnya saya dibantu rekan PEMA ini mengisi form pendaftaran donor darah yang didalamnya memuat informasi kondisi calon pasien seperti jenis-jenis penyakit yang pernah diderita dan lain-lain.

Ruang donor darah UDD PMI Banda Aceh

"HBnya cukup dan golongan darahnya tepat seperti yg telah disebutkan yakni O. Silakan bawa ini ke dalam untuk cek tekanan darahnya" sebut ibu berpakaian putih yang saya taksir adalah dokter ini.

Selesai melakukan cek tekanan darah yang lagi-lagi aman untuk melakukan donor darah. Saya diajak masuk ke ruangan yang lebih sejuk dan bersih.

Sebuah tv yang menjunlang tinggi hampir menyentuh plapon, kursi tidur bersayap disisi kanan kirinya dan meja serta beberapa bungkus-bungkus plastik bening yang akhirnya saya tau bahwa itu adalah kantong darah adalah barang yang menghiasi ruangan itu.

"Sudah pernah donor darah sebelumnya dek" sapa si dokter dengan ramah

"Gak ingat dok, ntah ini yang keberapa" jawab saya.

"Wah hebat! kuliah dimana, ini agak sakit sedikit yaaa" katanya

"Saya di Universitas Syiah Kuala dok, baru masuk" saya merasa ada semut yang gigit lengan kanan saya. Ketika hendak mengusir keberadaan semut itu saya melihat ternyata ada jarum yang ukurannya sebesar paku 4 den, lumayan besar yaaa,  sedang menepi urat nadi dilengan kanan saya.

"Kenapa-kenapa" tanya si dokter dengan sedikit heran

"Saya pikir tadi ada semut dok" sahut saya

"Hahahahah, ooo mungkin itu saat jarum saya suntik. Ada pusing?" tanyanya

"Tidak, ohya dok ini fungsinya untuk apa yaaa dan berapa banyak darah yang akan diambil tiap x seseorang melakukan donor darah. Terus, disimpan dimana ini darahnya dan apa bisa langsung dipakai setelah ini" tanya saya berlagak wartawan senior ternama.

"Oooo, ini fungsinya untuk menyimpan darah yang baru saja diambil di pendonor" sambil menunjukkan kantong darah.

"Adapun jumlah darah yang diambil hanya 250-350 ml dan itu tergantung kesehatan di pendonor, setelah ini bisa langsung dipake kok"

"Wah, ternyata dikit ya, jadi seandainya saat donor seperti ini darahnya tidak terkumpul sebanyak 250-350 ml apakah ada pengaruh?"

"Iya, besar sekali pengaruhnya. Kemungkinan tidak bisa dipakai" Jelas si dokter sambil melipat kantung darah.

"Oke sudah selesai, silakan masuk ke ruangan itu dan silakan cicipi minum dan makanannya ya"

Tak terasa darah transfusi darah sudah selesai dilakukan. Tak ada rasa sakit sedikit pun, jauh seperti apa yang disampaikan orang-orang selama ini bahwa donor darah itu sakit karena jarumnya sebesar jarum untuk suntik gajah. 

Merasakan begitu nyamannya saat melakukan donor darah dan ringannya kondisi tubuh. Maka sejak saat itu saya mulai rutin melakukan donor darah tiap 75 hari sekali dan 15 februari 2017 nanti pegawai UTD PMI Cab Banda Aceh menyampaikan bahwa saya telah melakukan donor darah sebanyak 23 x.

Sungguh tidak terasa, jika saya sudah melakukan sebanyak itu. Rasa-rasa baru kemarin melakukan donor darah. Hanya satu hal yang selalu saya ingat ""semoga kontributif untuk umat". Beliau yang saya cintai selalu menyampaikan hal ini. Ya Allah, semoga hamba mu ini bisa terus melakukan yang terbaik untuk diri dan masyarakat.

Ada rasa kepuasan yang besar dalam diri karena bisa berbagi walau hanya setetes darah yang jika dikalkulasi, jumlahnya tentu tidak jauh beda saat seekor lintah menyerebot badan kita selama 30 menit.

Rasa kepuasan itu semakin jelas terukir saat melihat pancaran kebahagiaan diwajah para pasien yang mengetahui ada kantong darah untuknya. Kecil memang dan bahkan tidak sangat tidak bernilai bagi sebagian kita. Tapi diluar sana ada begitu banyak orang-orang yang mengantungkan hidupnya pada sekantong darah. Sebut saja para penderita Thalasemia yang sangat bergantung pada sekantong darah. Sekatong darah layaknya minuman bagi mereka. Tanpa melakukan transfusi darah penderita Thalasemia hanya akan tinggal nama dan batu nisan.

Kawan, hidup ini sekali. Lantas jika hidup tidak digunakan untuk kebaikan bersama sungguh akan sangat rugi dan salah satu cara untuk bermanfaat untuk orang lain itu adalah dengan melakukan donor darah. Jangan pernah takut, donor darah tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, yakni yang menerima darah kita. Tapi donor darah juga sangat bermanfaat untuk kesehatan diri si pendonor itu sendiri. Jadi, mari galakkan donor darah. Karena setetes darah kita menyelematkan banyak jiwa.

Donor darah, cara ku berbagi.
Ayo Donor!!

Donor darah di kantor FBA