Header Ads

Secuil Kenangan Bersama Anyak, Santriwati dan Guru Pesantren Assasunnajjah Yang Menjadi Korban Tragedi Gempa Bumi dan Tsunami Aceh 26 Desember 2004

"Menginap saja semalam" kata emak dalam bahasa Aceh.
"Sayang sekali, tadi minta izinnya hanya untuk pulang sebentar Mak, tidak minta izin untuk nginap sama Bunda" jawabnya
"Baiklah, salam aja untuk Bunda nanti. Sebentar! Mak siapkan beberapa bekal. Beras, ikan asin, tomat, gula, garam masih ada? " tanya emak
"Alhamdulillah masih ada mak" jawabnya
"Alhamdulillah kalau masih ada, ini ada sedikit uang untuk Anyak" kata emak sambil menyerahkan tiga lembar uang lima ribu kepadanya.
Senyum yang terpancar diwajahnya sangat lah Indah. Tak pernah aku melihat senyum seindah itu sebelumnya.
Sembari menerima uang pemberian emak, Anyak pun pamitan sambil salam takhdim seperti biasanya saat ia tiba dan akan pergi dari rumah dan mencium kedua pipi mamak.
Aku yang saat itu masih kelas 5 SD pun tak lupa ia cium. 


"Anyak pergi dulu yaa" sapanya kepada ku. 



"Get" jawab ku


Dia memeluk ku dengan sangat erat siang menjelang sore itu. Dan tak seperti biasanya, dia melambai tangan saat akan meninggalkan rumah. Aku tidak memiliki firasat sedikit pun bahwa ungkapan, lambaian tangan dan pelukannya itu adalah isyarat sebuah perpisahan darinya untuk kami semua.

Sabtu siang, 25 Desember 2004 adalah hari perpisahan aku dengan kakak ku yakni Rini Nur Ismi Binti Ridwan Kr Bin Ismail. Santriwati sekaligus dewan guru Pesantren Assasunnajjah, Lampuuk, Aceh Besar, ini pergi untuk selama-lamanya. Dan hingga kini pun, kami tak pernah mengetahui keberadaan kuburnya.

Pict by: www.google.com

Minggu, 26 desember 2004 gempa berkuatan 8,9 skala richter menghentak bumi Aceh ini. Pagi yang takkan pernah terlupakan itu. Saat gempa mulai mengayung ayung kan bumi Aceh ini, hanya ada aku, ka Rosni dan Ka Mis dirumah. Kami sangat ketakutan. Mamak tidak ada dirumah. Beliau seperti biasanya, sedang berbelanja di Pasar Aceh. Hanya kalimat tayibah yang keluar begitu deras dari mulut ku dan kedua kakak ku. Kami duduk diruang tengah sambil memeluk satu sama lain. Aku yang saat itu masih sekecil bawang merah menjadi target utama perlindungan kedua kakak ku hingga mereka mendekap ku begitu kencang dalam pelukan mereka. Kami ketakutan terlebih tidak ada laki-laki yang dituakan dirumah kala itu. 
Ketakutan itu memuncak kala sebuah sepeda motor dengan kencangnya melaju didepan rumah sambil meneriakkan "Air laut naiiiiiiiiiiiiik, Air laut naiiiiiiiik" teriak pengendara itu.

"Air laut naik? Ya Allah. Mak kak. Mak masih dipasar Aceh" kata ka Mis 

"Iya, mak" kata ka Ros dengan muka penuh kebingungan.

"Ie laot ka di eeeek, pluuuuung pluuuuung (Air laut naiiiiik, lariiiiiiiii, lariiiiiiiii)" teriak seorang perempuan dari dalam sebuah mobil labi-labi yang suaranya begitu akrab ditelinga kami. Iya, ternyata itu suara emak.

"Pluuung, pluuung ju u gle, ie laot ka di ek!. (lariiiiiii, lariiiii terus ke gunung, air laut naik!)" teriak mak lagi. Sayur mayur yang dibawa pulangnya beliau lempar begitu saja keatas meja, mengunci pintu rumah dan kedai serta langsung mengambil komando untuk secepat mungkin lari ke gunung yang persis berada hampir 500 meter dibelakang rumah ku.

Tanpa sadar, pagar setinggi 1,75 meter yang mengelilingi perkarangan rumah kami itu berhasil kami lompati tanpa ada kesulitan dikit pun. Rawa-rawa yang airnya hitam pekat melebihi pekarnya kopi yang semakin meninggi pun berhasil kami lewati hingga saat langkah kaki menjelajah bebatuan digunung itu, Tetiba, mata ku memandang ke arah pantai Ulee Lheu, melihat pohon-pohon kelapa yang semakin lama semakin tertutupi oleh air laut nan pekat itu. 

Saat itu pula, aku berteriak "Anyaaaaaaak, emak anyak di Lampuuuk Mak".

"Naik terus, insya Allah anyak tidak apa-apa" teriak emak yang masih dibawah ku.

26 desember 2004 aku rasa adalah akhir dari segala kehidupan di bumi ini. Anyak, begitu kami menyapanya sehari-hari adalah kakak ku yang hadir memenuhi panggilan sang Rabbi yang dijemput oleh gempa dan tsunami. Anyak, sosok setengah sempurna yang tiap kali pulang ke rumah selalu membawa kan ku roti Unibis, terkadang ia sebungkus mie santrimie. Meskipun kalau aku bertanya "Kok mie, gak ada roti kayak biasanya?" dengan penuh cinta ia menjawab "Anyak kebetulan sedang tidak banyak uang, jadi cuma cukup beli mie untuk Aula. Insya Allah nanti kita beli roti itu lagi" hiburnya selalu hadir penuh cinta.

Anyak, sosok kakak setengah malaikat yang Allah kirimkan untuk keluarga Alm Pak Ridhwan Kr bin Ismail ini. Ia begitu cerdas. Sejak SD, SMP hingga SMA angka yang menghiasi rapornya adalah angka 1 (SATU), Iyaaa rangking satu. Tak pernah ada dua, tiga,empat apalagi enam dirapornya. Berbeda jauh dengan ku yang SD hanya mampu mempertahankan angka 2 (kelas 1 hingga kelas 5) dan 1 (kelas 6), SMP angka 1 (kelas 1) dan 2 (kelas 2 hingga kelas 3) serta SMA 2 (kelas 1), 3 (kelas 2), 4 dan 6 (saat kelas 3) 
Anyak, ia tak pernah les, namun ia mampu berkomunikasi lebih dari 2 bahasa asing. Belajar darimana? ntah lah. Aku tidak pernah mendapatkan jawabannya hingga detik ini.  
Perjuangan dia menuntut ilmu agama diimbangi dengan ilmu dunia demi menuntaskan kemiskinan dalam keluarga begitu memotivasi hingga ku hingga saat ini. 
Aku masih teringat. Kala ramadhan tiba, selepas shalat tarawih berjamaah di meunasah. Aku kerap membantu dia menyuci piring di belakang rumah. Saat itu pula ia sering memberi ku ceramah-ceramah kehidupan berinti sari sebuah ketakwaan dan ketaatan.
Sebuah pesan yang disampaikannya saat aku masih kelas 3 SD dan masih ku amalkan hingga saat ini adalah "Dek, usahakan sebelum tidur untuk baca Bismilillah 21 x, dilanjutkan surah Al-fatihah, Surah An-nas, Surah Al-falaq sebanyak 1 x  dan Al-ikhlas sebanyak 3 kali serta ayat kursi dan syahadat yaaaa"
 "Memang faedahnya apa Nyak?" tanya ku dan 
dia hanya menjawab
"Insya Allah, suatu hari Aula akan tau dan tau oleh sebab mencari tau oleh diri sendiri itu jauh lebih berbekas dibandingkan Anyak kasih tau sekarang. Termasuk pertanyaan Aula dua hari lalu tentang kenapa wanita boleh untuk tidak shalat itu. Insya Allah, Aula akan dapat jawabannya. Dont stop learning pesan Anyak yaaa" tutupnya sambil membilas piring-piring bekas kami buka puasa itu. 

"Kenapa gak jawab aja pertanyaan-pertanyaan Aula itu Nyak?  Apa lagi itu, bahasa Aceh aja. Gak paham Aula bahasa itu" brontak ku.

"Hahaha," ketawanya kecil "Udah bawa masuk piring ini" perintahnya.

Berbagai misteri itu, satu per satu terkuak setelah bertahun.
Bahasa Inggris, apa itu haid, kenapa selesai magrib dan subuh jangan tidur tapi diisi dengan membaca alqur'an dan lain sebagainya telah aku dapat semua alasannya.

Terima kasih atas cinta, kasih dan sayang dari mu Anyak.
Insya Allah, kubur mu yang ntah dimana akan selalu mendapat kuncuran berkah dariNya. Doa adik mu ini tak pernah lepas sedetik pun.  Semoga Allah lapangkan kubur mu, hilangkan azab kubur mu, dibuka segala pintu hingga harumnya surga membanjiri istirahat panjang mu dan tak lupa Allah bangkitkan kita kelak bersama para Nabi dan RasulNya.
Aaaamiiiiin.


*Bunda: adalah pimpinan asrama santriwati Pesantren Assasunnajjah, Aceh Besar.