Header Ads

Mengenal Lebih Dekat Ibnu Taimiyah dan Fatwa-Fatwanya

Hari ini, 10 Rabiul Awal adalah hari dilahirkannya Ahmad Taqiyuddin,  Abdul Abbas bin Syihabuddin,  Abu Mahasin Abd Halim bin Majduddin,  Abil Barakat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Ustman al Khadar bin Muhammad bin Al Khadar bin Ali bin Abdillah atau yang lebih masyur di telinga kita dengan nama IBNU TAIMIYAH.

Dalam buku  yang dikarang oleh KH Sirajuddin Abbas hal 220 disebutkan bahwa dari keterangan yang disampaikan oleh Ibnu Bathuthah menyebutkan bahwa;
1. Ibnu Taimiyyah menganut Madzhab Hambali,  tapi ia banyak menyeleweng dalam fatwanya.
2. Ia dua kali dimajukan ke muka pengadilan yang akhirnya dihukum penjara hingga akhirnya meninggal disana (dalam penjara).

Selain itu,  dalam buku karangan Dr Muhammad Yusuf Musa,  terbitan Daruts Tsaqafah Mesir dengan judul " Ibnu Taimiyah" halaman 102, 103, 104 dan 105 disebutkan bahwa " bagaimana juga pun,  ia dibawa ke mahkamah dan dituduh bahwa ia mempercayai bahwa Tuhan itu duduk benar-benar di atas 'Arasy,  boleh ditunjuka dengan jari ke atas bahwa Tuhan berkata dengan huruf dan suara".

Berikut beberapa fatwa Ibnu Taimiyah yang menyeleweng:

A. Dalam bidang Ushuluddin.

1. Tuhan bersela diatas 'Arasy serupa selanya dengan Ibnu Taimiyah
2. Tuhan sama besarnya dengan Arasy
3. Tuhan turun setiap akhir malam ke langit dunia serupa turunnya Ibnu Taimiyah dari Mimbar
4. Tuhan bersabda dijihat atas,  boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas
5. Tubuh bertubuh,  berjihat dan berpindah tempat
6. Tuhan berbicara dengan huruf dan suara
7. Sifat tuhan hadist dan hadist itunyanh melekat pada zat Tuhan yang qadim
8. Quran itu Batu bukan qadim
9. Nabi itu tidak maksum
10. Ziarah makam,  semisal ke makam Nabi,  wali dan ulama adalah pekerjaan mungkar
11. Berdoa dengan tawassul adalah musyrik
12. Istigatsah dengan nabi syirik
13. Neraka tidak kekal
14. Menginkari ijma tidak kafir.

Sungguh,  ke empat belas pendapat diatas sangat tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Sebut saja salah satunya yakni Allah tidak berbentuk dan tidak berpindah tempat sebagaimana sifatnya yakni Tidak sama dengan makhluk
.
Tidak hanya bidang ushuluddin, 
2. Dalam bidang Fiqih.

1. Thalaq tiga sekaligus jatuh satu
2. Sembahyang yang ditinggalkan dengan sengaja tidak perlu diqadha
3. Orang berjunub boleh tetap melaksanakan shalat malam tanpa harus mandi wajib yerlebih dahulu
4. Bersumpah dengan thalaq tidak jatuh ketika sumpah itu dilanggar tapi wajib dibayar kufarat sumpah saja
5. Boleh qashar sembahyang dalam perjalanan walaupun perjalanan itu pendek
6. Boleh tayammum walaupun ada air untuk sembahnyang
7. Air yang sedikit tidak akan menjadi najis oleh kemasukan najis.

Astagfirullah.

3. Dalam bidang tasauf pun Ibnu Taimiyah sangat kontroversi. Sebut saja:

1. Tasauf dan amal orang tasauf seumpama tarikat tarikat harus dibuang jauh jauh
2. Ulama tasauf dikecam habis-habisan.

Astagfirullah sungguh sebuah pemahaman yang sangat keliru dengan kenyataan yang sebenarnya.
Semoga postingan yang tidak seberapa ini dapat menambah cakrawala keilmuaan kita akan bahayanya fatwa-fatwa dan pemahaman dari seorang Ibnu Taimiyah dan bagi saudara kita yang selama ini sudah bersahabat dengan Ibnu Taimiyah agar sesegera mungkin untuk memutuskan tali persahabatannya itu. Karena sejatinya sebuah persahabatan yang baik adalah yang mendekatkan diri kepada Allah adapun jika bersahabat dengan Ibnu Taimiyah malah akan menjauhkan diri dari Allah. Tentu bukan ini yang kita harapkan kan...


*dikutip dari buku 40 Masalah Agama Jilid 2 karangan KH Sirajuddin Abbas.