Header Ads

I Share, because I do Care Leuser

"Ah, gak masalah yang penting hari ini masih bisa makan, untuk besok ya kita pikir besok". Pungkas si bapak

Saya syok berat dibuatnya kala mendengar komentar dari salah satu saudara kita yang tinggal disebuah gampong di Aceh ini. Tanpa merasa bersalah apalagi takut, parang yang ada ditangannya itu dengan cepat merobohkan beberapa pohon yang ada hutan yang tak begitu jauh dari tempat tinggal kami.


Menjadi narasumber di TVRI Aceh
Pict by/ Yudi Randa

Narasumber di TVRI Aceh
Pict by/ Azhar

Empat tahun telah berlalu, tapi kejadian  itu masih begitu membekas dalam ingatan saya. Terlebih kala berkumpul dengan para pegiat media sosial di Aceh (26-27/11) lalu. Disebuah hotel di Banda Aceh. Leuser lestari, menjadi promotor yang memfasilitasi para orang gila media sosial untuk berkumpul bersama dan menyelaraskan ide untuk #careleuser.

Ada kebahagiaan tersendiri bagi saya bisa hadir diforum ini. Bukan karena banyaknya makanan enak yang tersedia diatas meja. Melainkan akhirnya, saya tidak sendiri. Loh kok?
Iyaa, tidak sendiri dalam kasus menjaga lingkungan wabil khusus tentang leuser.



Selama hampir empat tahun belakangan ini saya berjanji pada diri sendiri pertama tidak lagi membuang sampah sembarangan. Kedua tidak boros dalam menggunakan air terutama sekali untuk sesi thaharah alias cuci menyuci both baju dan keperluan yang lain. Ketiga tidak menerima dan meminta kantong plastik kala membeli keperluan sehari-hari, meskipun harus bertengkar dengan cashiernya. Kempat memakai kertas daur ulang untuk berbagai keperluan sehari-hari. Kelima tidak menebang pohon sembarangan.


Pict by www.instagram.com/Leonardodicaprio

Pict by: www.google.com

Pict by: www.google.com

Kenapa sih harus repot-repot?

Berbicara tentang lingkungan adalah berbicara tentang kehidupan. Persoalan lingkungan merupakan persoalan yang seksi dan kuduk dibicarakan dengan serius. Karena ini menyangkut keberlangsungan hidup tak hanya manusia melainkan juga semua makhluk Tuhan lainnya. 

Di Aceh sendiri, persoalan lingkungan belum lah menjadi trending topic. Bisa dilihat dari kebijakan yang baru-baru ini menimbulkan polemik yang cukup besar bagi pencinta dan pemerhati lingkungan. Qanun yang dihasilkan oleh pemerintah daerah belum begitu mengedepankan aspek ini. Sebut saja, tidak masuknya Kawasan Ekosistem Aceh dalam, Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 tentang RTRW Aceh. Padahal disaat yang bersamaan sebagaimana yang disampaikan oleh Nurul Ihsan, koordinator Kuasa Hukum dari Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GERAM) menyebutkan bahwa Ekosistem Leuser diatur dalam RTRW Nasional dan juga dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Selain itu, Leuser juga Cagar Biosfer dunia yang oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation atau yang akrap ditelinga kita dengan singkatan UNESCO mengesahkannya di  1981 silam. 

Leuser secara adminitrasi pemerintahan ini terletak di dua provinsi yakni Aceh dan Sumatra Utara. Provinsi Aceh yang terdeliniasi dengan ekosistem ini meliputi Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues dan Aceh Tamiang, adapun Provinsi Sumatra Utara yang terdiliniasi dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah kabupaten Dili, Karo dan Langkat. (wikipedia)



Kecantikan dan ketampanan yang dimilikinya telah membuat mata saudara-saudara kita menjadi buta hingga tanpa ada rasa bersalah apalagi takut mereka memaksa mejamah keperawananya hanya demi beberapa manyam emas yang tak berapa jika dibandingkan dengan ketergantungan dari 4 juta jiwa penduduk disekitarnya dan binatang langka (orang utan, harimau, gajah sumatra, badak, beruang madu, dan aneka burung) yang menghuni didalamnya yang semakin hari semakin berkurang populasinya. 

Pict by www.google.com

Pict by: www.google.com

Pict by :www.google.com

Bagaimana cara kita untuk #careleuser?

Adakah yang ingat dengan bang Leonardo Decaprio. aktor yang terkenal dengan nama Jack Dawson pada film titanic ini, 27 Maret lalu berkunjung ke Leuser.

Kedatangan abang Leo ke Leuser menjadi angin segar bagi para pecinta lingkungan. Betapa tidak, bang Leo yang merupakan Duta Lingkungan Dunia ini begitu serius dan semangat mengobati sakit yang dialami oleh Leuser. Tapi disaat yang bersamaan, kehadiran bang Leo menjadi malapetaka bagi mereka yang selama ini telah, sedang dan akan menganggu Leuser. Ada yang mengatakan kedatangan Leo sebagai 

Kehadiran Leo ke Leuser menjadi bukti kuat bahwa persoalan Leuser bukan lah persoalan masyarakat yang tinggal di kawasan Leuser saja yang mana kewajiban untuk menjaga hanya dibebankan kepada mereka saja. Dan lantas kita yang tinggal jauh ini apatis begitu saja terhadap Leuser yang kian hari kian lesu. 

Ekosistem Leuser adalah milik seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Jadi merawatnya pun harus dilakukan oleh semua orang.
Untuk kita yang tinggal jauh dari Ekosistem Leuser bisa melakukan hal-hal dibawah ini demi kelestarian Kawasan Ekosistem Leuser;

1. Giat memposting tentang Leuser di media sosial, terutama sekali tentang kerusakan yang akan dihadapi jika ekosistem leuser terus dijamah.

2. Aktif berkontribusi secara ide maupun tenaga.

3. Hemat dalam menggunakan air.

4. Menanam banyak pohon dilingkungan sekitar.

5. Jika berkesempatan berkunjung kesana, pastikan tidak membuang sampah, menebang pohon apalagi sampai membunuh aneka hewan yang menghuni didalamnya.

6. Jika tingkah laku yang mencurigakan saat berkunjung ke Leuser, segera lapor ke para aparat keamanan. Pastikan pula, aparat keamanan yang menerima laporan ini adalah bukan bagian dari mereka dan

7. Berdoa, semoga saudara kita yang senang dan hobi merusak leuser segera dilimpahkan hidayah dan rahmat olehNya. 

Amiin..