Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Saturday, 17 December 2016

Analogi Pendidikan di kota vs di gampong

Aula Andika Fikrullah Albalad
Undang-Undang No.14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Selanjutnya, dalam pasal 31 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional; yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan UU; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20%) dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapat belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; dan (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Pendidikan menjadi tanda status sosial yang akan disandang oleh suatu masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin tinggi pula status sosialnya. Begitu pula sebaliknya. Semakin rendahnya pendidikan seseorang maka semakin rendah pula strata sosial yang akan disandangnya. Walaupun masih banyak juga fakta-fakta dilapangan yang menunjukkan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi belum bisa mengaktualisasikan diri sebagai orang yang terdidik, dalam artian yang lebih sederhana mereka kerap kali melakukan tindakan asusila seperti korupsi, pemerkosaan, atau bahkan pembunuhan. Tapi ini bukan sebuah tabir untuk mengesampingkan pendidikan. Toh dilain sisi masih banyak contoh yang membuktikan bahwa pendidikan itu menciptakan orang-orang baik yang tentunya bermanfaat untuk ummat.

 Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam tatatan berkehidupan berbangsa dan beragama, maka wajar orang tua kita menempuh “dan bahkan menghalalkan” berbagai cara agar anak-anaknya bisa meraih pendidikan setinggi mungkin. Tak jarang mereka melupakan kepentingan pribadi demi memenuhi kebutuhan si anak.
 
pict by google.com

Realita Pendidikan di Gampong

18 Juli 2016 silam, sahabat dhuaha, Edi Fadhil melalui laman facebooknya memposting tentang SMP Merdeka di Gampong Tampur Paloh. Kec. Simpang Jernih. Aceh Timur. Kondisi sekolah tersebut sungguh menyedihkan, akses ke lokasi membutuhkan waktu tujuh jam dengan landasan pacu yang apabila hujan tidak dapat dilalui. Kondisi sekolah cukup memprihatinkan, tidak ada kantin, tiang bendera, perpustakaan, apalagi pendingin ruangan. Lebih memprihatinkan lagi, jumlah guru hanya 2 orang. Proses belajar mengajarnya pun hanya berlangsung selama dua dan tiga hari dalam seminggu. Padahal seyogyanya jumlah waktu yang seharusnya dihabiskan oleh seorang siswa untuk belajar minimal enam sampai dengan delapan jam sehari.

Berbanding terbalik dengan kondisi salah satu sekolah di gampong Tampuh Puloh, Aceh Timur. Sekolah-sekolah dikota dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang super lengkap tanpa ada kekurangan satu apa pun. Kelas yang full air conditioner, laboratorium yang lengkap, kantin dengan aneka makanan yang siap saji dan jumlah guru yang memadai.

Suasana kelas di SMA N 1 Sabang saat penulis melaksanakan KKN 2015 silam

Harapan dari Gampong

Meskipun demikian, kurang memadai fasilitasnya yang dimiliki oleh sekolah-sekolah  di gampong. Lantas tak membuat semangat mereka luntur begitu saja. Keterbatasan ini justru menjadi batu loncatan, yang memopa masyarakat digampong untuk selalu bekerja keras dan tahan akan hantaman badai. Bukti dilapangan menunjukkan, orang-orang sukses umumnya lahir dari keluarga dan masyarakat yang sederhana. Selain itu, daya juang masyarakat gampong tidak lah sama dengan daya juang masyarakat kota yang bergelimang sarana dan prasarana yang lengkap.

Pendidikan sebagai agent of changes

Kita semua menyadari bahwa pendidikan adalah sarana yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan. Sekolah menjadi raksasa utama dalam menyelenggarakan sebuah pendidikan. Sudah terpantri dengan baik dimasyarakt kita bahwa menyatakan bahwa sekolah adalah satu satunya tempat yang paling tepat bagi anak-anaknya dalam mempereloh ilmu pengetahuan.

Hingga wajar, jika kemudian sekolah selalu menjadi idaman bagi semua orang. Saking hebatnya, sekolah menjadi situs utama yang harus disinggahi jika seseorang ingin mengubah kedudukannya dalam masyarakat. Hingga muncul opini public yang menyatakan bahwa sekolah adalah tempat mencetak agen-agen perubahan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini membuat kejutan di berbagai sektor kehidupan. Kejutan-kejutan negatif yang hadir di bidang ekonomi, politik dan kesehatan tak dapat dielakkan. Hari ini, kita tidak hidup dalam wacana bahwa kehidupan ini adalah surga yang penuh nikmat. Justru sebaliknya, setiap dari kita wajib menghadapi suatu ketidakteraturan.

Oleh sebab itu, baik sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA baik di gampong atau di kota menjalankan pendidikan dengan orietasi para pelajarnya siap pakai takkan mampu memenuhi esensi sebagai agent of changes melainkan sebagai consumers semata yang pada intinya sama seperti pabrik-pabrik yang mencetak robot-robot untuk dikomersialkan.

Akhir kata, penulis ingin menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan baik di kota maupun di gampong adalah tak ada bedanya, akan tetapi yang menyebabkan pendidikan di gampong menjadi tertinggal tak lebih karena kurangnya perhatian pemerintah. Sehingga dikemudian hari kita dapati, masyarakat gampong cenderung lebih sering mengadu nasib ke kota-kota besar dengan segala faslitas yang lengkap. Akhiru kalam, bangsa ini akan maju jika semua dari kita menaruh perhatian yang lebih kepada pendidikan warganya. Karena maju tidaknya suatu bangsa sangat ditentukan oleh sumber daya manusia didalamnya dan untuk meningkatkan kapasitas SDM tersebut pendidikan adalah kuncinya.
doc.pribadi
*artikel ini pernah dimuat di Warta Kota Banda Aceh 2016

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib