Header Ads

Hidup itu butuh bekal, sudahkah kamu mempersiapkan bekal mu hari ini?

Semua hal yang kita lakukan baik untuk kehidupan didunia maupun kebutuhan diakhirat diperlukan yang namanya bekal. Bekal untuk akhirat adalah dengan memperbanyakk amalan saleh. adapun bekal untuk hidup dunia adalah dengan bekerja keras.

Sejak duduk dibangku sekolah dasar, aku sudah terbiasa membawa bekal. Walaupun jarak rumah dengan sekolah tak lebih daripada 70 meter. Tapi untuk menghemat uang jajan- yang kala itu berkisar antara Rp. 1000-Rp. 5000 bagi mereka yang mampu, sedangkan aku palingan cuma 500 rupiah atau bahkan tidak ada-. Maka orang tua mengsiasatinya dengan menyuruh ku membawa nasi.

Sebuah keberuntungan kala itu, jika tempat nasi ku berisikan nasi goreng walaupun cuma digoreng dengan minyak bekas mengoreng ikan dan dilumuri sedikit garam. Rasanya sungguh lezat tak bernilai. Karena biasanya, tempat nasi hanya berisikan ubi rebus plus parutan kelapa bercampurkan garam atau gula.


Pola hidup sederhana yang diajarkan oleh orang tua sejak sekolah dasar ini telah mendarah daging dalam hidup ku. 

Sekarang ini, kebiasaan membawa bekal ke tempat beraktivitas seperti kampus pun masih terus ku lakukan dan jujur saja ini menjadi habbit yang menyenangkan untuk dilakukan. Meskipun, lontaran pertanyaan bernada negatif kerap membuat panas telinga mendengarnya. 

"Gak malu ya Aula, udah gede masih bawa nasi?", 

"Ciiiee, duta bawa nasi eeey. Kenapa gak makan diwarung aja?", dan lain-lain.

Meski, telinga panas untuk beberapa detik. Tapi ini tidak menyurutkan semangat ku untuk tetap mempertahankannya.

Karena, aku hanya akan malu ketika memakan sesuatu yang tidak seharusnya aku makan yang berasal dari barang hasil jarahan, yang tentunya tidak halal dan terkait dengan profesi, baik itu duta atau yang lainnya bukan halangan untuk tetap melakukan hal-hal baik yang mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang.