Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Tuesday, 27 October 2015

Bisakah Ini Disebut Sebagai Sebuah Pengorbanan?

Aula Andika Fikrullah Albalad
Sumber foto: Muslimafiya dot com

Hati-hati membaca tulisan ini, karena bisa membuat kamu berani mengambil resiko. Berpikir lah seribu kali sebelum membacanya!!

Tanpa bermaksud apa-apa, hal yang boleh dikata 'gila' aku alami kala mendaftar Youth Adventure and Youth Leader Forum dulu. Agar aplikasi ku diproses maka para calon peserta diharuskan membayar sejumlah uang yang jika tidak salah untuk early bird sebanyak Rp. 75.000,00. Lari kebirit dibuatnya, karena untuk ku uang segitu lumayan besar dan jika dihitung-hitung cukup untuk uang minyak motor ku selama 2 bulan. Adapun untuk makan sehari-hari, aku sering bawa bekal jadi sangat menghemat. Kalau pun tidak membawa bekal, maka kegiatan seminar yang mendapatkan makan siang atau makan malam adalah incaran pertama ku. Walau terkadang, kuliah dengan terpaksa aku tinggalkan.
Demi aplikasi pendaftaran ku masuk dan diproses aku mencoba untuk ngutang sama kawan sebab beasiswa belum juga cair kala itu. Jika meminta sama ibu bukanlah sebuah solusi, terlebih untung dari jualan sayur tidaklah seberapa. 
Pemberitahuan akan terpilihnya sebagai peserta YAYLF 2015

Alhamdulillah, aplikasi ku lolos seleksi interview hingga ditetapkan sebagai salah satu dari 50 pemuda berintegritas versi GMB. Berita lolos ku ini bukanlah angin segar, dikarenakan kini aku harus berjuang setengah matinya lagi agar tiket pesawat pulang pergi Banda Aceh-Semarang dan Jakarta-Banda Aceh. Hal ini diperparah karena disaat yang bersamaan aku sedang mengikuti kuliah praktek disalah satu sekolah dimana senin-sabtu aku harus inten tanpa boleh wara-wiri kesana kemari. 
Maka ditengah padatnya kegiatan praktek, ku sempatkan diri untuk cari funding akan proposalku. Mulailah, ketua himpunan mahasiswa fisika ku hubungi untuk ku mintakan izin agar diperboleh mencari dana atas nama himpunan.
Retetan materi mengajar yang harus disiapkan, rancangan proses pembelajaran (RPP), laporan akhir, proposal skripsi, perangkat yang saban hari harus konsul dan dicicil sedikit demi sedikit membuat waktu benar-benar terasa sangat singkat. 24 jam rasanya tak cukup untuk ku kerjakan ini semua. Namun, aku percaya ini hanyalah simulasi kecil. Karena disaat aku menjadi besar nanti (read: orang hebat nan sukses bin berpengaruh) hal-hal seperti ini adalah makanan sehari-hari yang harus siap ku lahap kapan dan dimana saja.
Proposal funding selesai ku ketik, kini langkah selanjutnya adalah berjibaku dengan jadwal dosen yang padat untuk meminta kesediaannya menandatangani lembar pengesahan. Sekretaris himpunan, pembina himpunan, ketua prodi hingga pembantu dekan 3 adalah orang-orang yang ku teror tiap harinya. 3 minggu waktu yang ku sediakan untuk mereka ini dan alhamdulillah diminggu terakhir semua tanda tangan yang ku perlukan tertera dilembaran proposal ku itu.
List-list sponsor  dan jadwal audiensi dengan donatur pun ku persiapkan. Awalnya ku audiensi dengan dekanan, namun kabarnya tidak mengembirakan. Pembantu dekan 3 mengatakan bahwa dana tidak dapat dicairkan dalam waktu dekat. Palingan akhir-akhir tahun baru akan cair, ini pun tergantung pada bidang keuangan di biro rektorat. Waduh, hancur hatiku. Selanjutnya masih curi-curi waktu ditengah kegiatan kuliah praktek, aku wa pembantu rektor 3 yang menyatakan aku ingin diskusi beberapa hal bersamanya. Dari balasan beliau aku dapat info bahwa disuruh datang pada pukul 11 ke ruang kerjanya. Bla bla bla, agenda satu dan dua terbahas. Dari sekian banyak agenda, tetap saja poin tiket pesawat adalah yang utama. Dengan muka yang penuh keprihatinan, pak PR3 mengatakan bahwa tiket rektorat tidak dapat membantu untuk tiket pesawat, paling ada hanyalah uang jajan saja. Itupun aku harus menunggu sekian bulan proses pencairannya
Astagfirullah!
Sesak napas ku. Seakan-akan aku sedang berada ditengah kabut asap Riau dan Kalimantan.
Ku regek-regek, ‘andai BM sudah cair, mungkin saja Aula bisa gunakan uang itu untuk tikeet pak. Tapi bapak jauh lebih tau kan untuk hal yang satu ini’ kata ku
‘Ia Aula. Bapak mengerti..’ ucapnya lirih
Aku pamitan sambil cium tangannya.
Jadinya pasrah seribu bahasa akan 2 target ku tak berbuah hasil.
Tanggal penyelengaraan Youth Adventure and Youth Leader Forum semakin dekat. Tepat diawal bulan april, aku mendapat panggilan dari rektorat Unsyiah. Yang memintaku untuk hadir ke biro pada suatu siang dengan agenda yang belum ku ketahui dengan jelas.
Kali ini, aku kembali harus berpapasan dengan guru pamong ku yang manis di depan nyesek dibelakang. Aku tak diberi izin keluar. Jadinya ku kabari pihak rektorat bahwa aku tidak bisa hadir karena sedang praktek, palingan bisa siang hari sekitaran jam 15:00. ‘Oke’ balas pihak rektorat.
Alhamdulillah, ternyata aku dapat tawaran untuk mewakili universitas ke sebuah lomba sekaligus konggres mahasiswa ke timur Indonesia.
Sepulang dari sana, aku dapat sms dari rektorat bahwa berhubung banyak yang daftar untuk lomba dan konggres ini, jadinya pihak universitas mengeluarkan kebijakan untuk melakukan seleksi tingkat universitas dimana kami diwajibkan untuk membuat sebuah proposal sosial entreprenuer project yang harus dikumpulakn dalam rentan waktu 3 hari. Owalah kebut-kebutan dengan tugas praktekku.
Namun alhamdulillah, proposal ini selesai ku buat dan ku kirim ke kampus. Tak lama berselang aku mendapat kabar kepastian bahwa aku dinyatakan lolos untuk mewakili kampus ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Persiapan ku lakukan termasuk izin ke tempat praktek. Bermodal kemenangan ku sebagai runner up duta wisata Aceh Besar 2015 dan berbagai prestasi lainnya itu ku jadikan senjata utama ku agar memperoleh izin.
Strategi ku berhasil. Aku mendapat izin selama acara berlangsung yakni hanya 7 hari. Tanpa boleh kesana kemari.
Acara di Sulawesi Selatan, tepatnya di Universitas Hasanuddin berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Namun ada beberapa agenda yang tak terlaksanakan dengan baik, seperti tawaran untuk menemani direktur Athirah School yakni pak Edi tidak terjalankan.
Sepulang dari Makassar, aku menetap selama di banda satu minggu. Setelahnya harus kembali terbang ke untuk mengikuti Youth Adventure and Youth Leader Forum di Semarang dan Jakarta.
Namun yang paling memberatkan kali ini bukanlah ketidakmampuan ku untuk terbang, melainkan harus berjibaku antara kewajiban (read: praktek) dengan karier terlebih, guru pamong dan kepala sekolah sudah mewanti-wanti untuk tidak banyak libur selama praktek ini berlangsung.
Berhubung, aku sudah ngirim kepastian untuk ikut sehingga dengan penuh keberanian maka senin, kalau tidak salah kala itu 20 april 2015 aku hendak berjumpa dengan guru pamongku. Tapi kata guru-guru yang hadir, beliau sedang di Langsa karena orang tuanya sakit. Oke, permintaan izin kali ini aku alihkan kepala sekolah. Eh, pas mau masuk ke ruangannya dapat kabar bahwa sedang ada serah terima kepala sekolah lama dengan kepala sekolah baru di ruang lab. Oomigot ya Allah!
Tarik napas panjang, esok pagi tanpa ada rasa beban. Bersama dengan Lion Air Airlines mengakutku yang kayak emak-emak rempong ini menuju kota Semarang.
Hal yang sangat tidak pernah terbayangkan sebelumnya adalah pergi dan pulang ku untuk Youth Adventure and Youth Leadr Forum kali bermodal UTANG!!
Sampai sekarang pun, uang untuk tiket itu belum tau harus ku cari dimana. Padahal kegiatan itu sudah selesai sejak 5 bulan yang lalu. Namun apa boleh dikata, ku beranikan ambil segala resiko yang ada hanya untuk menjadi singa dari GMB dan sekaligus untuk bertemu dengan pemuda terbaik Aceh yang sudah akrab ditelinga ku sejak 2012 silam yakni Azwar Hasan.



Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib