Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Sunday, 20 September 2015

Imbas Piasan Seni Banda Aceh 2015

Aula Andika Fikrullah Albalad
Jumat, 18 September 2015 di Serambi Indonesia memuat sebuah berita yang lumayan syok para pembacanya tak kecuali saya, sebagai penikmat anak dari group tribun news ini. Hal ini dikarenakan berita “duka” yang disajikan olehnya.
Kadisbudpar Banda Aceh, pak Fadhil resmi dicopot Dari jabatannya sebagai kepala dinas dan berganti menjadi salah satu staf di sekretariat pemko Banda Aceh.
Pencopotan ini tak lain dikarenakan kesalahan yang muncul pada perhelatan piasan seni di Taman Sari. Dimana pada malam pembukaannya tersajikan sebuah tarian India nan eksotis yang berhasil membuat masyarakat yang hadir mengeluarkan suara emasnya bak  ember emak-emak pecah.
“Pak Fadhil kita berhentikan dari jabatannya karena dianggap lalai sehingga menampilkan tarian yang bertentangan dengan visi misi Kota Banda Aceh yang menggalakkan syariat islam” demikian komentar Walikota Banda Aceh ibu Illiza sebagaimana tertulis pada koran serambi Indonesia.
Namun yang unik dari kejadian ini bukan lah perihal pencopotan Pak Fadhil sebagai kadis melainkan berita acara yang muncul dalam media bukanlah perihal kesuksesan yang berhasil didulang dari penyelanggaraan piasan seni melainkan para awak media khususnya SI hanya menyorot soalan tarian India ini.
Saya tak hanya berargumen ria, jika saudara-saudara tidak percaya. Silakan buka laman websitenya, coba perhatikan dengan baik dan penuh kehati-hatian berapa banyak cerita kesuksesan tentang penyelenggaraan piasan seni ini. Tidak ada! Berita yang tersajikan hanya tentang piasan seni resmi dibuka, selanjutnya langsung kepada soalan tarian India ini.

Screen Shot laman Serambi Indonesia

Sungguh sebuah pemandangan yang sangat tidak elok. Bagaimana Banda Aceh akan menjadi sebuah destinasi wisata jika berita yang disajikan bukannya membuat wisatawan berbondong-bondong untuk memesan tiket melainkan mereka justru akan mengalihkan destinasi wisatanya ke tempat lain.
Namun pemandangan yang berbeda justru datang dari kawasan-kawasan elit di luar negeri. Dimana saat suatu daerah sekaliber ibukota provinsi mengadakan kegiatan maka media akan membom bardir dengan menampilkan kesuksesan dari acara tersebut. Sehingga mereka (wisatawan) yang membaca akan meng-marked kalender di tahun depan untuk menyaksikan secara langsung kegiatan tersebut. Secara ekonomi, ini tentu akan menjadi income bagi daerah selain itu secara branding sudah tak dapat diragukan lagi. Insha Allah akan benar-benar destinasi wisata baru bagi dunia.
Tapi mau apa dikata, sudah menjadi sebuah kebiasaan yang telah membudayakan di Aceh dan bahkan di Indonesia awak media bukan hanya serambi Indonesia tapi juga media-media lain  selalu saja menampilkan sisi buruk suatu kegiatan. Bagaiamana suatu daerah akan berkembang dan maju jika berita yang disajikan justru malah membuat orang lari kebirit.
Andai, tiap selama perhelatan piasan seni lalu tiap harinya berita yang disajikan ke publik adalah tentang kesuksesan acaranya saya optimis bin yakin kemajuan akan kita gapai bersama-sama.
Namun apa dikata, bubur udah dimakan. Mau di ludah udah gak mungkin kan.


Mari menulis sebuah berita yang mencerdaskan bangsa!!



Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib