Header Ads

PPL (Praktik-Praktik Liar)

Akhirnya, tunai sudah penderitaan ku selama hampir 5 bulan ini. Berangkat pukul 6:45, nyapu halaman, kena repet dan hal-hal 'menyenangkan' lainnya. Awal februari lalu merupakan awal dari mulanya penjajahan. 
Semester 8 adalah masa-masa yang paling menyakitkan bagi seorang mahasiswa, terutama mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan. Iya, di semester ini berbagai deretan hal kuduk dikerjakan. Mau tidak mau, suka tidak suka. Musti ditelan deh. Diantaranya: peraktek lapangan, proposal penelitian hingga kue cantik nan manis yang bernama sekeripsi harus kelar.

Belum lagi, kalau ke kampus. Kapan wisuda? adalah pertanyaan yang sangat menyakitkan relung hati. Sakitnya itu masuk hingga ke sum-sum tulang belakang sbders. Dokter spesialis jerman sekalipun gak sanggup untuk mengobati sakit ini. Karena sesungguhnya obatnya ada di masing masing mahasiswa.

oke? kembali ke topik penderitaan.

Semester ini aku bersama 10 orang mahasiswa FKIP, Unsyiah lainnya menghabiskan hari-hari sebagai seorang 'guru'. Berat nih! Iya, berat banget. Jika melirik ilmu, pengalaman dan prestasi yang belum sejagat raya ini sangat belum pantas lah mendidik dan menghipnotis para siswa/i untuk berjuang. 

Aku,  Dinda, Ade, Irma, Jani, Tika, Anto, dan Fina adalah para mahasiswa yang tersesat. Hahaha. Jani sebagai ketua selalu menuntun kami untuk berjalan di lorong yang tepat. Tapi tetap saja nyosor ntah kemana. Apalagi aku yang sangat sering bikin lorong ini terasa supek dupek bin apek.

SMP N 5 Banda Aceh adalah mini seri sinetron di tipi-tipi yang ceritanya ada seorang ibu tiri dan seorang gadis cantik yang selalu disiksa hingga akhirnya sang ibu mendapat kutukan dari YME

Sekolah ini beralamat di Lambung, Ulee Lheu Banda Aceh
Bersama murid sesaat sesudah mereka tampil di acara perpisahan kelas IX

Proses belajar mengajar dimulai pada pukul 07:00 WIB, namun kami para guru praktikan ini diWAJIBkan datang pada pukul 07:00 WIB. Untuk apa? jawabannya adalah untuk menyapu seluruh halaman sekolah. Iya, nyapu halaman yang luasnya udah hampir seluas stadion harapan bangsa, Lampeunuerut. Aceh Besar. 

Bukan Aula namanya!

Lagi-lagi aku adalah biang kerok, bulan-bulan awal penempatan ku di sekolah ini. Menyapu halaman adalah pekerjaan yang sangat ogah untuk ku lakukan. Mindset ku mengatakan, tujuan ku kesini adalah belajar bukan menjadi tukang kebersihan sekolah.

Jadilah, 2 bulan penempatan gagang sapu adalah barang yang tak pernah ku sentuh.

Aku adem ayem aja selama 2 bulan itu. Amaaaaaan, harga kontra ku sebagai guru praktikan tak diganggu gugat. Eh, kenyamanan ku akhirnya terusik. Lambat laun, ini menjadi perbincangan hangat tiap harinya di sekolah ini. Saking hangatnya, siaran silet, intens, halo selebritis, hotshot dan kabari kalah. Padahal 5 infotaiment itu berhasil masuk top 5 nominasi Panasonic Gobel Award 2015 looh. 



 Walau banyak guru yang melabel ku 'malah', namun herannya adalah hampir di semua kegiatan sekolah seperti rapat guru, rapat dengan pengawas, maulid, bimbing anak-anak OSN, bimbing anak-anak ngaji, mimpin baca yasin di hari jumat dan ngasih tausyiah selalu aku yang diminta tolong. Ow maaak looon. Terus dimana juga 'malah'nya?

Selain itu, kami para awak guru praktikan sangat dilarang keras makan di meja piket. Subhanallah, selamat deh untuk yang kena piket. Bisa-bisa cepat penuh UGD karena pada kena busung lapar. Eps, selow. Ini tak berlaku jika ku sedang piket. Ogahan banget sama interuksi ini. Kalau jatah makan ya makan lah, walau itu di meja piket sekali pun. Logis tidak, disatu sisi kami dilarang meninggalkan sedetik saja meja piket. Disisi yang lain, perut kami yang keroncongan tak di pedulikan sama pihak sekolah. 

Ya sudah lah, walau kawan-kawan sering tegur "Aula, jangan makan disini nanti kena marah. Kalau mau makan diatas aja" tegur kawan yang kena jaga meja super berharga ini.

"Ah, kalau keatas, udah berkurang lagi tenaga. Kasian, gak cukup 1 bungkus dong nasinya" Jawab ku enteng

Nasi pun kembali ku lahap! Nyam, nyam, nyam.

Hal yang paling bikin aku "gak habis pikir" disini adalah semua guru tanpa terkecuali sangat suka celepot omongan orang lain. Contoh terkecil misalnya saat aku sedang konsul (cieeee, udah macam skripsi aja) dengan guru pamong. Ada aja celetuk-celetuk renyah dari guru lain.

"Eh Aula, kenapa lagi dengan anak saya ini bu?" tanya guru A
"Gak, dia baru kasih hari ini RPP nya." Jawab pamong ku.
"Apaaa? baru kasih hari ini. Anak saya aja, udah 2 minggu yang lalu dia kasih. Sekarang udah mulai jilid perangkat dan laporannya" Ngoceh sang guru
"Inilah yang dibilang bu" Sahut pamong ku sambil gucek-gucek kertas.

Gak lama berselang, datang guru yang lain.

"Si Aula belum siap? asik jalan-jalan sih " celetuk guru B dan kemudian dia menghilang

Apaaaaa!! Kesini hanya untuk menyampaikan kalimat itu doang?
Hek deh aneuk muda

Intinya, kala mau masuk ke ruang guru tebalin telinga deh. Karena suhu yang akan dipancarkan oleh guru-guru ini mencapai 1000 derajat celcius tiap harinya.

Lain lagi derita yang dialami teman ku, Fina. Guru pamongnya adalah salah satu yang sangat bermuka dua. Di depan Fina aja manisnya mampu mengalahkan manisan pala. Kala dibelakang Fina merepet subhanallah.

"Si Fina manaa! Dia itu belum kasih ini, itu de el el sama saya. Janji jam 9 belum juga nonggol. Aula tolong telepon dia sebentar, bilang suruh bawa semua itu. Saya palak kali sama dia, dia pikir saya ini apa.. Buku nilai aja belum dikasih sama saya, mau saya isi apa. Dia pikir saya bisa isi 1 jam buku itu, dia udah siap belum RPP bab 8, itu lah ntah apa yang dikerjakan sama dia.... bla bla bla" Waduh, ini guru mau demo PLN yaa? gak ada titik koma kalau ngomong. 

"Ibuuu" jawabku lembut "Fina tadi udah kesini dan sekarang sedang keluar sebentar untuk fotocopi tugas itu" Hahaha, tugas itu? macam tau aja tugas apa yang dimaksud.

Sang guru pun berlalu dan cerita pun selesai.

Walau demikian, disatu sisi aku sangat bersyukur bisa melaksanakan praktik di sekolah ini. Pertama aku belajar banyak untuk sabar dan tabah terutama. Kedua, aku dituntut untuk selalu tersenyum walau kadang situasi sedang dalam keadaan dihina dan di omel. 


Murid kelas VII-1 dan VII-2 saat acara perpisahan kelas IX