Header Ads

Meugang, hari pertumpahan darah sedunia.

Perang, salah satu kegiatan yang sangat dihindari di bagian dunia. Mau di Indonesia, singapura, suriah, palestina maupun di belahan dunia manapun.  Baik itu perang mulut, cubit-cubitan, jambak rambut atau bahkan yang paling keji yang menghilangkannya nyawa seseorang.

Peperangan yang terjadi di palestina adalah salah satu perang yang paling menyiksa jiwa raga semua umat Islam di seluruh dunia. Tanpa terkecuali di Indonesia. Kenapa ? Banyak jiwa-jiwa yang tak berdosa darahnya berserakan dijalan. Darah yang tumpah sudah layak dijadikan sebagai kubangan kerbau. Ini masih dari anak-anak sebagai pendonornya belum lagi yang 'donor' nya adalah para Ayah dan ibu. Sudah bisa dibayangkan lautan darah bersimpah ruah di bumi para nabi.

Jika di palestina sekali tumpah bisa jadi lautan.

Tak begitu dengan kondisi yang ada di Aceh. Dalam setahun ada 3 kali terjadi pertumpahan darah yang dilakukan secara massal oleh masyarakatnya.

Kejam hingga mau dilaporkan ke PBB atas dengan dakwaan telah melakukan pelanggaran HAM secara masif dan terstruktur ?

Hahahah, tidak berlaku kawan. Karena ini merupakan hari Meugang yaitu sebuah tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan penuh rahmat (ramadhan), hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.

Di hari meugang, masyarakat secara berbondong bondong memotong hewan ternak baik itu sapi/lembu, kambing atau bahkan yang paling miskin sekali pun mereka akan memotong 1 ekor ayam/bebek.


Satu hal yang harus kita akui bersama adalah, hari meugang se mudharat apa pun hidup seseorang, pasti ia dapat menikmati dagung.

Setelah shalat subuh, masyarakat biasanya akan memotong beberapa ekor ternak sapi (ini tergantung dari kesanggupan warganya karena untuk beli sapi uang dikumpulkan dari warga itu sendiri) dalam bahasa Aceh disebut dengan "meripee" jika di indonesia kan artinya 'patungan'.
Hasil dari 'meripee' ini akan dibelikan sejumlah sapi dan selanjutnya dipotong dan kembali dibagikan ke warganya.

Hal ini berlangsung hampir diseluruh gampong yang ada di provinsi Aceh. Hingga wajar, jika tagline pembunuhan massal tersandangkan. Walau yang terbunuh (secara halal) itu adalah hewan yang nantinya akan dimakan.

Beda halnya jika sedang meugang hari raya idul fitri dan idul adha.

Jika di idul fitri masyarakat berbondong-bondong ke pasar mencari perlengkapan lebaran baik itu baju, celana, mukena, sendal atau bahkan sebuah cilak, eyeliner, blashon hingga tusuk gigi.


Maka di meugang dan lebaran idul adha lautan darah semakin membabi buta menghiasi dan mewarnai bumi Allah yang indah ini. Betapa tidak, di seluruh sudut bumi mana pun. Semuanya memotong hewan kurban.


Alhamdulillah lah. Se miskin apa pun kita hidup didunia ini Insya Allah, Allah akan selalu mengirimkan ribuan kasih dan cintaNya kepada kita walau kita sebagai hambaNya masih saja bergelut dan bangga akan dosa-dosa.


Semoga, momentum ramadhan yang penuh dengan ampunan ini dapat kita manfaatkan sebaik baik mungkin untuk memperbanyak ibadah hanya untuk Allah semata.

Puasa bukan alasan untuk bermalas malasan namun sebaliknya. Puasa merupakan momentum yang sangat tepat untuk kita menghabiskan waktu semata-mata untuk mengabdi kepada sang ilahi.

Selamat Ramadhan 1436 H
Kepala sapi