Header Ads

Jumat di mesjid Raya Baiturrahman, salahkah ?

Hari ini, jumat (26 juni 2015) ada hal yang tidak biasa terjadi di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Mesjid yang beralamat di pusat kota Banda Aceh ini tak hanya menjadi destinasi wisata bagi wisatawan lokal tapi, berbagai wisatawan manca negara selalu saja terhipnotis oleh keindahan baik dari segi arsitektur maupun nilai sejarah yang tersembunyi disetiap siku mesjidnya.
Sejarah telah mencatat bahwa mesjid yang tak tersentuh sedikit pun oleh amukan si raja kehidupan 2004 lalu ini awal mula berdirinya di jaman penjajahan telah di bakar beberapa kali oleh si kafir laknatillah. Mereka takut dan gemetar. Karena mesjid telah menjadi pusat musyawarah para ulama dan umara kala mempersiapkan segala bentuk strategi yang  strategis untuk mempertahankan Aceh dan Indonesian dari jajahan mereka.
Mesjid yang ditetapkan  sebagai Best Arsitektur mosque in South Asia (Asia Tenggara) pada tahun 70-an ini kini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satu perubahan yang sangat nyata dirasakan oleh semua umat Islam di Aceh adalah tentang pelaksanaan tata tertib shalat jumat dan shalat sunnah tarawih.
3 tahun belakangan, pelaksanaan shalat jumat di mesjid kebanggaan masyarakat Aceh ini hanya satu kali azan, khutbah yang tidak diulang (mualat) dan i'adah dhuhur. Hal ini dipercaya oleh para pengurus mesjid raya sebagai hal yang benar.
Namun, berangkat dari masukan para ulama di Aceh dan bermodal surat keputusan DPRA maka kini pelaksanaan shalat jumat sudah sesuai sebagaimana mestinya yaitu azan 2 kali, khutbah yang mualat(2kali) dan i'adah dhuhur.
Hal ini berhasil terlaksana berkat kerja keras para wakil rakyat di DPRA, para Ulama dan para tgk-tgk dayah yang sudah berhasil meyakinkan serta membuka mata hati gubernur Aceh untuk menyetujui pelaksanaan shalat jumat sesuai dengan tuntutan Ahlussunnah Wal Jamaah bermazhab Imam Syafii.