Header Ads

Melirik dari sudut pandang yang berbeda

Beberapa hari ini, republik tercinta kembali terguncang dengan gertakan keras PM Australia mas (biar lebih akrab aja yaa) Tony Abbort. Kedatangannya ke Indonesia untuk meminta agar eksekusi mati terhadap 2 orang warga Australia yang notabennya tak lain dan tak bukan adalah gerbong narkoba skala international untuk dibatalkan. Tentu saja, hal ini di tolak mentah-mentah oleh pemerintah Indonesia (ciee, bisa tegas juga ya pemerintah kita.)

Dengan berbagai usaha ditempuh oleh si mas Tony agar permohonannya dikabulkan, hingga melakukan lobbying ke PBB agar menyampaikan hal yang sama. PBB pun melalui Sekjend nya  Ban Kii Moon menyatakan bahwa agar eksekusi mati itu juga dibatalkan karena melanggar hak asasi
manusia (preeeeet, bisa-bisanya si mas bankimun speak seperti itu).

Singkat berita, anjuran dari PBB untuk membatalkan eksekusi mati itu pun tak di terima dengan baik oleh pemerintah. Indonesia melalui Menlu mengatakan bahwa "Indonesia negara berdaulat, jadi tidak ada satu pun yang bisa mendikte terhadap persoalan yang terjadi disini termasuk eksekusi mati gerbong narkoba ini."

PBB gagal, mas Tony kembali memohon agar tetap dibatalkan hingga mengungkit segala bantuan yang pernah diberikan oleh pemerintah Australia untuk Indonesia pada bencana alam maha dahsyat yaitu Tsunami dan gempa bumi yang melanda Aceh 2004 silam.

Tak ayak, pengungkitan ini membuat masyarakat Aceh geram. Hingga muncul sebuah gerakan solidaritas di jejaring sosial facebook yaitu GERAKAN MASYARAKAT ACEH KEMBALIKAN BANTUAN AUSTRALIA. Di twitter pun hastaq #KOINUNTUKAUSTRALIA pun berhasil menduduki trending topic selama hampir sepekan ini.

Ada begitu banyak komentar baik yang pro maupun yang kontra.

Menariknya adalah ternyata sikap mas Tony yang mengungkit bantuan ini cukup disayangkan oleh sebagian warga Australia yang mengatakan bahwa perkataan Tony itu tidak mencerminkan atau mewakili seluruh penduduk Australia, mereka sayang dan sangat cinta kepada Aceh serta Indonesia sehingga pernyataan itu hanyalah opini pribadi semata mas Tony.
Walau demikian, tak pelak komentar mas Tony itu telah menyulut api kemarahan akan pemuda/i Aceh yang merasa bahwa bangsa dan tanah airnya di injak-injak oleh PM Australia ini.

Tapi, saya sendiri melihat fenomena pengumpulan #KOINUNTUKAUSTRALIA merupakan sebuah aktivitas yang terlalu membuang-buang waktu. Dengan alasan diantaranya:

1. Pernyataan PM Australia, mas Tony Abbort ini sudah jelas-jelas bukanlah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Australia. Sehingga sangat wajarlah  jika kita menganggap pernyataan ini hanya bagian dari "Anjing mengongong, kafilah pun terus berlalu".

2. Penyataan seperti ini hanya lah ulasan yang sudah sangat biasa dilontarkan oleh PM Australia. Ini juga bukan suatu kebijakan dari parlemen Australia, jadi yaa tak perlu di tanggapi dengan negatif thinking dan lagi-lagi kita kembali ke point satu (Binatang 4 kaki itu terus mengongong, kafilahnya pun terus berlalu).

3. Pernyataan ini tidak ditujukan kepada pemerintah Indonesia dan tentunya juga tidak ditujukan kepada pemerintah Aceh. Aceh yaaa Aceh. Tidak adakan maklumat istimewa yang dikeluerkan Australia akan hal ini. Yaa, keep enjoy aja lah dengan hal ini. Terlalu membuang-buang waktu kita akan hal yang seperti ini.



Ada baiknya, koin yang kita sumbang untuk Australia itu kita manfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana sekolah, jembatan, tempat ibadah dll yang ada di Aceh tercinta ini. Selain itu, ada baiknya pula jika kita terus keep focus pada peningkatan mutu pendidikan dan human resource development warga Aceh terutama dalam menghadapi Asean Economy Community 2015 yang sebentar lagi akan hinggap di tanoh seurambi mekkah ini.


*Lampasi Engking, 4:15 pagi. 24/02/2015
*Aula Andika Fikrullah Albalad