Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Monday, 10 November 2014

Perguruan Tinggi, pencetak 'Korupsi' tertinggi

Aula Andika Fikrullah Albalad


Korupsi,rasanya tak pernah bosan kata ini hinggap di telinga rakyat Indonesia. Korupsi yang memiliki arti sesuatu yang merusak tatanan kehidupan masyarakat sebuah bangsa. Ada sebahagian yang mengartikan korupsi dengan Segala sesuatu yang potensial menJadikan  masa depan bangsa menJadi suram. Dari berbagai ungkapan ungkapan,korupsi tetap diposisikan sebagai sesuatu yang negative dan destruktif.

Meski demikian, fakta dilapangan        membuktikan bahwa sampai saat ini korupsi masih berlangsung (dari pedagang asongan hingga peJabat) dengan modus yang berbeda beda tentunya. Sebagai mahasiswa,saya melihat ada sesuatu yang unik dan menarik, yaitu ketika korupsi terJun kedalam dunia pendidikan.
Padahal selama ini mindset yang terbangun dimata masyarakat adalah dunia pendidikan merupakan satu satu tempat yang anti terhadap korupsi. Namun apa boleh dikata. Satu kasus dugaan korupsi yang cukup membuat JiJik bangku perkuliahan adalah ketika Universitas Jantoeng hate rakyat Aceh (Unsyiah) Banda Aceh, Seperti yang diberitakan oleh Tim KeJaTi Aceh berhasil menetapkan tiga tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi program beasiswa pemerintah Aceh sebesar Rp.3,6 milyar yang bersumber dari APBA 2009 2010 seperti yang terlansir di harian umum Serambi 20 4 2013 lalu.

Prof Dr Darni M Daud (Sang mantan rektor),Prof Dr M Yusuf Azis (Sang mantan Dekan FKIP) dan Mukhlis (Kepala Keuangan Program Gurdacil).Kasus korupsi de dunia perguruan tinggi tidak hanya menimpa Unsyiah saJa.Menurut berita yang di keluarkan Kompas,7 6 2013 menyebutkan bahwa setidaknya ada 18 Universitas Negeri di Indoensia yang yang terindikasi terJadi tindak pidana korupsi dengan rata rata kerugian Negara hingga milyaran rupiah.
Di tahun 2007 tepatnya tanggal 4 Januari,Komisi pemberantasan korupsi (KPK) RI yang diwakili oleh SJahruddin Rasul SH,telah menadatangani Nota Kesepahaman dengan Unsyiah  yang diwakili oleh Dr Darni Daud MA dan IANI ARRANIRY yang diwakili oleh Prof Drs Yusny Saby MA,PhD dib alai senat Universitas Syiah Kuala.
Nota Kesepahaman ini menyangkut tiga bidang,diantaranya adalaahpertama Pendidikan anti korupsi dan kedua Kampanye Anti Korupsi dan ketiga Riset mengenai kepemerintahan yang baik dan benar.Yang menJadi pertanyaan penting adalah Apakah Nota tersebut sudah di Jalankan dengan baik dan benare?
Melihat fakta yang mencuat dilapangan,sepertinya Nota tersebut haanyalah sekedar formalitas semata dan belum terimplementasi dengan baik dilapangan,padahal  sebagai dua perguruan tinggi  yang ememiliki sevarah penting bagi pendidikan di Aceh ini.
Sudah sepatutnya Nota Kesepahaman pemberantasan dan pencegahan korupsi yang telah ditanda tangani oleh keduan perguruan tinggi ini perlu di ingat kemnali dan di aplikasikan dalam kehidupannya. Jika hal ini dapat di implementasikan dengan baik ,bukan isapan Jempol belaka efeknya akan menyebar keseluruh perguruan tinggoi yang ada di Aceh ini.
Adanya mental mental korupsi yang selama ini masih berkembang di dunia kampus (punggutan liar),palgiatisme dalam membuat karya tulis ilmiah (skripsi,tesis dll),menyontek dikala uJian sepatutnya harus diberikan hukuman yang berat secara internal.
Semoga dengan demikian perguruan tinggi tidak hanya mencetak generasi yang intelektual tetapi Juga cerdas secara moral.

Aula Andika Fikrullah Albalad / Author & Editor

I thank you very much for coming to my post. Hopefully you got alots and dont forget to leave comments below

0 Comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib