Header Ads

Ayah, ‘harimau’ berhati sutra


Beberapa malam yang lalu (13 November 2014), awalnya saya sangat terkejut saat sedang  twitteran. shock saat ngeliat salah satu akun ternama mentwit dengan hastag #FATHERDAY (baru tau kalau ada fatherday). Cuman ngetwit  50 twit kurang lebih, saya padamkan twitter saya dan segera bermanja ria dengan hape butut yang kata orang namanya ‘blackberry’ itu dengan melihat  ‘recent updates’. Di dalamnya, kembali saya melihat salah seorang sahabat saya yang menganti poto dengan poto ayahnya dan menuliskan ‘HAPPYFATHERDAY’ (semakin ketinggalan saja yaa dengan hal ini)
Yang ingin saya bahas bukan persoalan kekatroan saya dengan hari ini, tapi ada hal lain yang sangat krusial dan genting untuk kita ketahui bersama. 




Saya mengawalinya dengan beberapa pertanyaan, boleh kan?



Pertama, seberapa besar kita menghargai sosok yang satu ini (ayah)?

Sosok yang tak pernah terlihat lesu, sedih dan berurai air mata ini adalah orang yang selalu dijauhi oleh anak-anaknya, karena ia selalu menghiasi diri dengan wajahnya yang garang, muka yang masam hingga nada bicaranya yang selalu tinggi nan tegas.
Kita semua tanpa terkecuali sering menghindar akan sosok yang satu ini, terlebih jika dirumah ada beberapa aturan yang ia terapkan dan semua anggota keluarga WAJIB mematuhinya . Bahkan  kita akan terlari terbirit-birit saat melanggar salah satu dari aturan yang telah ada. 

(Misalnya, salah satu aturan itu adalah.. “Semua anggota keluarga, pukul 22:00 WIB harus tiba dirumah dalam berbagai keadaan. TITIK!”)

Naaah loooh, tiba-tiba aja, suatu hari, dikarenakan tugas kampus atau kesibukan di organisasi atau bahkan keenakan ngajar di tempat les atau bimbel (aaah, kebanyakan atau yaa? hehehe). Kita keteteran hingga tak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul 22:26 WIB. Its mean, sudah 26 menit terlewatkan dari pukul 22. 'Mampus deeh gue, bakal kena semprot abis-abisan kali ini' gumam kita dengan nada yaaa, enteng enteng waeeek.
Tanpa tunggu aba-aba dari komandan, sesegera mungkin jurus tapak harimau kita keluarkan, baik itu masuk kerumah lewat pintu belakang atau telpon bunda untuk tunggu di pintu pagar yaa dengan harapan gak kena marah sama ayah.(Wong pulangnya sama bunda, padahal ayah tetap saja tau kit pulang telat, ya sedari tadi bunda bersama ayah nonton ganteng-ganteng serigala hahah)
Itu hanya segelintir elakan dari kita agar toak ayah gak bunyi..


Kedua, sadar gak kita jika AYAH sosok itu adalah sosok yang  lembutnya melebihi lembutnya sutra?

GAK (sengaja di capslock agar kelihatan lebih dramatis membahana haha). Muka masam, nada bicara tinggi, garang menjadi awal penilaian kita semua kepada sosok ini bahwa beliau adalah bestfriend nya mak lampir.  Padahal, jauh dilubuk hati yang paling dalam beliau adalah sosok yang lembut melebihi lembutnya kapas. Betapa tidak, saat kita baru dilahirkan ke dunia ini beliau lah sosok yang pertama kali berbicara dengan kita. Beliau pula yang pertama kali mendegarkan kepada kita kalimat Allah yaitu azan. Azan yang ia lantunkan sangatlah lembut dan bersahaja. Kenapa? Karena jika keras-keras maka gendang telinga kita akan pecah dan bisa-bisa kita akan tuli seumur hidup. 

Saat yang lainnya, ketika kita mulai beranjak sedikit lebih besar, yaa katakan saat berumur 2 sampai 3 tahun. Saat kita sedang giat-giatnya belajar jalan. Ketika kita terjatuh dan menangis, maka yang akan ia marahi adalah ibu kita ‘kenapa gak jaga anak? Sibuk dengan gosip artis!’ maka sesegara mungkin ia rangkul dan gendong kita sambil mengelus-elus kepala atau bagian yang terbentur. Cintamu sungguh besar ayah. (Allahummafirlahu untuk ayah ku)


Ketiga, sadar gak kita bahwa sosok ini adalah sosok yang paling sering menjatuhkan air mata untuk kita?

Kembali, wajah garang menjadi awal bagi kita menangkal bahwa sosok ini adalah sosok yang tidak mudah menjatuhkan air mata. Selama ini kita melihat, bahwa ibu lah yang paling mudah menjatuhkan air mata untuk kita. Hehehe, tidak kawan.
Tanpa kita sadari, sosok yang dalam kesehariannya ini penuh dengan ketegasan adalah sosok yang sering pula menjatuhka air mata. Hanya saja, beliau tak pernah mau, jika anak anaknya melihat ia bersedih. Ia mau jika wajah anaknya sellau tersenyum bahagia walau ia sendiri sedang tak bersuka ria. Contoh terkecil yang sangat sering kita lakukan di masa kita kecil adalah saat kita memnita uang jajan atau uang tambahan untuk membeli sejumlah LKS yang tanpa LKS itu kita tak dapat bisa ikut ujian, parahnya sang guru meminta agar LKS sudah harus dilunasi esok hari. Pulanglah kita kerumah, dengan wajah yang penuh rasa iba. Sesudah makan, kita jumpai ayah dan menjelaskan duduk perkara bahwa uang LKS harus dilunaskan esok juga, tak cukup sampai disini kita malah terkadang menambahnya dengan sedikit rengekan kecil plus dengan air mata palsu.
‘Insya Allah kita lunaskan’ sahutnya.
‘Cepet ya yah, kalau gak adek gak bisa ikut ujian’tambah kita
Kita tak pernah tau, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya, terkadang ia baru saja kecopetan, dagangannya tak laku, atau bahkan becaknya sedang tak ada penumpang.
Sedih dan air mata berceceran karena ia tak dapat langsung memberi apa yang anaknya inginkan. Dengan penuh harapan demi sang buah hati tercinta, ia segera keluar rumah dengan maksud menjumpai para tetangga untuk mengutang sejumlah uang untuk diberikan kepada kita. Rasa malu, harga diri dan martabatnya sebagai seorang ayah, pencari nafkah, kepala keluarga ia KORBANKAN demi sang anaknya.

Keempat, sadarkah kita bahwa sosok ini adalah sosok yang sangat ingin anaknya maju?

Lagi-lagi tidak!
Saat kita menjuarai beberapa kompetisi dan berhasil membawa pulang beberapa piala atau piagam kerumah, riuh canda bahagia menghiasi seisi rumah. Tapi, sosok ayah adalah orang yang akan selalu mengatakan ‘jangan terlalu bahagia, ini hanya ujian dan kamu menang bukan karena kamu hebat tapi karena tidak ada peserta yang lebih baik atau itu hanya faktor keberuntungan semata’.

DUAAAM, bagai nusuk pedang yag baru saja dipanaskan ke sanubari hati. ‘Waktu yang kita korbankan untuk latihan atau persiapan untuk mengikuti perlombaan ini tak dihargainya? Memang ayah gak pernah bisa hargai orang lain!’ Balas dengan wajah yang penuh akan emosi
Sebenarnya, mengapa seorang ayah melakukan ini ? hal ini tak lain, karena ia tak mau jika anaknya cepat berpuas diri lantas bermalas-malasan. Ia mau anaknya tetap semangat dalam berprestasi dan mengejar mimpi. Ia mau jika anaknya tetap menjadi yang terhebat dalam semua lini kehidupan.
Lantas mengapa juga beliau melakukan itu.. Ini dilakukannya tak lebih agar sang anak tetap membuktikan kepada semua terutama sang ayah bahwa ia adalah anak yang hebat dengan begitu prestasi akan selalu dipersembahkannya. 


Saat kita memenangi sebuah kompetisi, ayah adalah sosok pertama yang sangat bahagia karena ia telah berhasil mendidik kita untuk menjadi yang terbaik. Namun lagi-lagi ia tak mau berlarut dalam kegembiraan sehingga didepan kita tetap saja ia tak senang ria.
Hal yang selama ini yang dipertontonkan oleh sosok ‘ayah’ adalah fiktif belaka, seyogyanya beliau adalah sosok yang paling mengasihani, peduli, lembut dan perhatian akan kesuksesan kita semua. Cover yang ada padanya semata-mata hanya untuk menutupi jati diri dia yang sangat penyayang melebihi sayangnya terhadapa harta atau benda yang dengan luluhan keringat, banting tulang ia cari setiap hari.
Cukuplah, sosok itu bersahaja dalam balutan kasih nan cinta kepada kita semua. Bertapa dalam kerinduan yang tak pernah dipertontonkannya ke khalayak ramai. Demi terciptanya keabsahan dan kemurnian mutiara cinta untuk kita anak-anaknya.



Tulisan ini ditulis dalam rangka memeriahkan Father Day, semoga dari kita bisa menghargai pengorbanan yang telah dilakukan oleh seorang ayah dan bagi yang ayahnya telah berpulang kerahmatullah, jangan lupa sertakan doa minimal sehari semalam 5 X selepas shalat lima waktu