Header Ads

ASEAN COMMUNITY 2015

Tak terasa tahun 2014 sudah memasuki bulan mei, ini artinya tak lama lagi tahun 2014 akan berakhir.

Pertanyaan mendasar, sudah siapkah kita memasuki tahun 2015?

Tahun yang banyak akan tantangan global yang sudah harus kita hadapi bersama sama.

Di tahun 2015 pula suatu hajatan akbar di Asia Tenggara akan di helat dengan sangat meriah. Hajatan yang akan membuat semua negara siap sedia untuk tempur, hajatan yang sangat di takuti bagi negara yang tidak siap namun sangat di harapkan bagi negara yang siap bersaing

Hajatan itu dinamakan dengan Asean Economy Community 2015 (AECatau yang biasa  di sebut dengan masyarakat ekonomi Asean 2015.

Semua dari kita tentu masih ada yang bertanya apa itu Asean Economy Community 2015?
Apa masih boleh gabung tidak dengan forum itu ?
Syarat syarat ikut forum itu apa aja yaaa?

Itu segelintir pertanyaan yang saya dapat ketika menyebutkan Asean Economy Communty 2015.

Pertanyaan di atas saya dapatkan tidak hanya dari mahasiswa loh. Namun ada juga beberapa oknum dosen yang ketika saya ingin berdiskusi dengannya malah melemparkan pertanyaan yang sungguh menyyayat hati saya.

(helllloooooooooo).

 Orang orang udah pada ke langit elu masih di blang bintang ? (blang bintang adalah sebuah nama gampong di kabupaten Aceh Besar yang mana disana pula terdapat bandar udara international yang terkenal dengan sebutan International Airport Sultan Iskandar Muda )

Anda bisa cari di google dengan kata kunci "Asean Community 2015" atau "Komunitas Ekonomi ASEAN" pasti banyak mendapatkan informasi tersebut. Atau silahkan melihat video berikut ini:



Namun bagi orang awam seperti saya ini yang tidak berpendidikan sekolah tinggi pasti akan bingung dengan istilah-istilah dan bahasa tulisan yang sukar dimengerti "padahal bahasa indonesia juga".

Dari hasil googling, diskusi akbar di beberapa forum nasional dan dengan beberapa pakar ahli .

 Kurang lebih seperti ini pengertiannnya:

Asean Community 2015 merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi

Tujuan dibentuknya "Komunitas Ekonomi ASEAN" tidak lain untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN. Membentuk kawasan ekonomi antar negara ASEAN yang kuat. Kita tahu sekarang ini di Amerika dan Eropa masih mengalami krisis ekonomi. Dan dengan terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN diharapkan akan bisa mengatasi masalah-masalah dalam bidang perekonomian antar negara ASEAN. Jangan sampai kasus krisis ekonomi seperti di Indonesia pada tahun 1997 dulu terulang kembali.

Negara – negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam artian terbuka untuk melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. AEC direncakan terbentuk pada tahun 2015.

Yang menjadi latar belakang terbentuknya Asean Community 2015 (selanjutnya AEC)  tersebut adalah membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan kompetitif dengan pembangunan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan disparitas sosial ekonomi antar negara di ASEAN (ASEAN Vision 2020). 

Selain itu diharapkan kedepannya ASEAN dapat menjadi penyedia factor produksi bagi negara – negara di seluruh dunia. ASEAN tidak hanya sebagai pasar untuk produk – produk dari negara – negara Eropa, Amerika maupun Asia TImur.

Dengan diberlakukannya AEC tiap – tiap negara akan terintegrasi dalam bidang produksi untuk meningkatkan efisiensi. Kerjasama pelaku produksi antar negara akan semakin berkembang untuk menciptakan efisiensi dengan nilai tinggi. Pelaku produksi tidak perlu untuk memproduksi semua jenis barang untuk kebutuhannya sendiri.

(Naaaah loooh, ) 


Pengaruh atau keuntungan dan kerugian untuk Indonesia apa dong..
  


AEC akan meningkatkan nilai kompetitif negara – negara ASEAN untuk menyediakan produk yang memiliki kualitas tinggi. Produk berkualitas tinggi akan menghimpit yang berkualitas rendah dan lama kelamaan akan ditinggalkan konsumen. Sekarang pertanyaannya apakah sector usaha di Indonesia sudah siap untuk hal tersebut ?

Berdasarkan data World Economy Forum (WEF), pada tahun 2008 daya saing Indonesia berada pada urutan 55 dunia, sedangkan pada tahun 2012 berada pada urutan 50. Peringkat tersebut sangat jauh terpaut dari Singapura yang berada pada peringkat 3 dunia, Malaysia 25 dunia dan Thailand 38 dunia.

Berdasarkan hal tersebut wajar kalau kita semua memberikan perhatian khusus. Pemerintah dan pelaku produksi harus bekerjasama agar Indonesia tidak kalah dari negara lain. Harus ada upaya – upaya tertentu agar meningkatkan daya saing Indonesia. Tidak cukup dengan slogan “cintailah produk Indonesia” yang sedang digembar – gemborkan pemerintah saat ini. Harus ada peningkatan kualitas juga. Kalau saja sampai sector usaha Indonesia dihimpit, bayangkan berapa banyak pengangguran karena usaha mereka gulung tikar.
Selain dari sisi bidang produksi tersebut, factor yang tak kalah pentingnya adalah kualitas SDM di Indonesia. Berdasarkan data BPS 6  Februari 2012, dari 109 juta jiwa tenaga kerja yang ada di Indonesia, 54,2 jutanya hanya lulusan SD. Bisa dibayangkan rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Masih sedikit masyarakat Indonesia yang menjadi ahli di bidangnya.

AEC mengakibatkan tenaga kerja dari luar negeri akan lebih mudah bermigrasi ke Indonesia. Mereka yang memiliki keahlian di atas keahlian SDM Indonesia tentunya akan lebih mudah mendapat pekerjaan di perusahaan yang ada di Indonesia dan menggeser tenaga kerja Indonesia sendiri. Lagi – lagi akan semakin banyak penganguran.

Akan tetapi lain halnya apabila sector usaha Indonesia dan kualitas SDM di Indonesia dapat mengungguli negara lainnya, produk – produk Indonesia akan semakin mudah untuk go internasional, perkembangannyapun akan semakin pesat dan tentunya profit yang didatangkan akan semakin optimal. dan akan lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang berhasil diserap.

Terlepas dari dampak positif dan negative tersebut, yang lebih penting adalah bagaimana bisa meningkatkan kualitas produk dan SDM Indonesia agar mampu bersaing di ASEAN....