Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Education is not just a tool, but it is a complex system to build a better life.
Aula Andika Fikrullah Albalad
Sharing by writing and speaking
I do believe, life isnt about myselfbut its all about us
The world is a book and those who do not travel read only one page
Augustine of Hippo
Go travel.
You will know who you are

Monday, 1 May 2017

Meneropong Keindahan Kota Takengon dari puncak Pantan Terong

Aula Andika Fikrullah Albalad

" Besok kita sudah di lobi jam 6 yaa" ujar mas Haris.
" Siap" sahut ku bersama yang lain. Sambil menanyakan dalam hati ke mana yaa tim ini akan berlabuh esok, pagi pulak nto. Bakal ngeganggu waktu jalan-jalan ke pasar nih.


Saat akan kembali ke kamar, bang Yudi si blogger koyok yang sudah terlebih dahulu terlelap sejak sore itu ku coba bangunkan. " bang besok sudah harus di lobi jam 6 yaa, kita akan ngeexplore terong " terang ku.

Setengah sadar iya menjawab " heem" dan kembali menarik selimut tebal milik Bayu Hill itu.

Sambil mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat isya. Aku bertanya " Terong, what kind of place that" sesampai di mesjid yang jaraknya hanya 200 meter dari hotel, aku juga masih mencoba mencuri info dari jamaah. Mana tau mereka akan mengeluarkan kalimat yang aku inginkan itu. Ah, ternyata tidak. Tak satu pun dari jamaah yang notabennya lebih tua dari ku itu yang membahas tentang terong.

"Sudah lah, besok pagi akan kita lihat seluas apa dia. Ia tak lebih dari kebun terong yang saking luasnya oleh pemerintah menjadikannya sebagai salah satu objek wisata yang wajib di kunjungi kala ke Takengon, Aceh Tengah." gemuruh batin ku.

Biasanya, selepas shalat subuh aku sering memanfaatkan waktu untuk keliling ke sekitaran hotel sambil menikmati hujan kabut yang begitu eksotis. Tapi, pagi ini rutinitas itu tidak ku jalankan mengingat jam 6 sudah akan berangkat. Jadinya langsung kembali ke kamar dan bergegas kembali ke lobi.

Saat turun ke lobi tidak ku temukan satu orang pun anggota tim pesona Indonesia ini. "Pada kemana yaaa, jangan-jangan udah pada go" kata ku.  Lirik ke jam dinding hotel. What, ternyata masih jam 5:40. Hahahaha. 

Akhirnya ku putuskan kembali ke kamar, ya lumayan untuk menghangatkan diri dari ancaman kedinginan. Yang suhu di pagi ini mencapai 15 derajat kisar ku.

Rasa was-was takut telat membuat ku hampir tiga kali naik turun ke lantai satu untuk memastikan apakah tim sudah siap dan pada giliran yang ke empat akhirnya terlihat lah bang Andi, bang Haris dan bang Ucok sudah steady dengan aneka peralatan elektroniknya.

" Yudi mana? " sapa bang Haris.
" Masih di kamar bang, tadi udah aku bangunin. Mungkin sedang di kamar mandi bang, coba aku cek lagi yaa" kata ku

Naik lagi ke kamar, rasanya betis ku makin Ade Rai saja hari ini akibat naik turun lantai 2 ke lantai 1. Lift ada, tapi tidak ku gunakan. Hitung-hitung olahraga sih, hehehe. 

Menunggu hampir 30 menit, akhirnya semua anggota tim sudah siap melaju bersama Avanza dan Axio putih.

Dalam perjalanan mengintari kota Takengon ini, aku masih saja penasaran. Apa yang ditawarkan oleh tempat ini yaaa, sehingga tim wonderful Indonesia ini harus bergegas begitu awal untuk ke sana.
Jalanan yang tak begitu padat membuat lenggak lenggok mobil yang di supiri oleh bang Agus ini, begitu nyaman untuk di nikmati. Jalanan yang sudah teraspal hitam semakin menambah rasa kantuk. Berasa seperti sedang di ayun-ayun jadinya. Belum lagi ditambah gigitan udara yang begitu lembut menyentuh relung tulang.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, jalanan mulai berubah sedikit menanjak tapi masih cukup nyaman untuk melanjutkan tidur, namun ku katakan tidak, aku tidak mau melewatkan pemandangan yang begitu indah ini. Hamparan kebun kopi, batang pisang dan pohon mangga serta kicaun burung begitu semangat menyapa matahari yang malu untuk menampakkan wujudnya.

Tiba saja, mobil yang aku, bang Haris dan bg Andi tumpangi ini berhenti!
" Tak kuat naik ini, kita pakai avanza saja yaaa. Jadinya dua kali trek. Silakan lanjut dulu rombongan yang pertama, setelah sampai di puncak nanti jemput lagi." ungkap bang Agus.

Pemberhentian yang tiba-tiba itu ku manfaat kan untuk mengakrabkan diri dengan sekitar.


Tak lupa, kamera Lumic Panasonic dan Asus Zenfone 5 ku keluarkan dari tas untuk mengabadikan keindahan yang Allah ciptakan ini.


Menunggu hampir 5 menitan, aku dan rombongan kembali melanjutkan ke tujuan.
Hamparan dedaunan yang hijau muda ditambah embun yang masih belum mau lekas darinya sungguh telah membuat mata ku terhipnotis.
Pemandangan seperti ini takkan pernah bis aku dapatkan jika kembali ke ibukota.  Macet, knalpot kendaraan, bunyi klakson, pelanggar lalu lintas rasanya sejenak terlupakan.


"Kita tiba! " ucap bang Agus
"Mana kebun terongnya" tanya ku dalam hati.


Pantan Terong, begitu lah masyarakat biasa menyebutnya. Tidak ada terong apalagi terasi di sekitar sini. Yang tersajikan di depan mata sekarang adalah sebuah pemandangan alam yang sangat indah. Danau Laut Tawar, Bandara Udara Rembele, Pancuan Kuda Belang Bebangka dan seluruh kota Takengon akan terlihat jelas dari sini.Tempat ini berada di ketinggian 1.830 meter di atas permukaan laut dan udara yang begitu sejuk. Ketinggian ini yang menyebabkan gumpalan awan begitu lembut menyapa kedatangan tim pesona takengon ini. 
Danau Laut Tawar ditutupi awan




Pantan Terong telah berbenah. Iya, 2013 silam. Tempat ini tak lebih dari hutan belantara. Terlebih kala gempa yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah 2013 silam semakin menambah kesan buruk tempat ini. Alhamdulillah, Agustus 2014 tempat ini kembali menjadi primadona wisata alam di Aceh Tengah. Eksotisme Aceh Tengah dan Bener Meriah akan dengan mudah terlihat dari tempat ini.






Untung saja, baterai kamera dan smartphone telah terisi dengan penuh. Sehingga alam indah yang Dia ciptakan ini tidak luput dari cepretan. Terima kasih alam, engkau mengajarkan ku banyak hal. Keindahan yang Kau siapkan ini telah membuat diri ini semakin sadar bahwa alam diciptakan bukan untuk di rusak melainkan untuk di jaga. Ketika kita mampu berdamai dengan alam, sungguh alam juga akan berdamai dengan kita, yang lambat laun ia akan mengajari kita akan pentingnya bahwa Dia lah Sang Maha Pemberi Pembelajaran.

Monday, 10 April 2017

Pustaka Unsyiah Akhir Dari Segala Pencarian

Aula Andika Fikrullah Albalad
Siapa sangka, pencarian selama bertahun membuahkan hasil.

Saat SD dulu, ruang kepala sekolah menjadi ruang menepi kala istirahat tiba. Paling banyak tiga orang, itu pun sudah dengan si kepala sekolah. Tumpukan buku di sana menjadi alasan ruang ini ku pilih. Ketika menginjak kaki di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2008 silam, gudang sekolah adalah ruangan yang setia ku kunjungi. Meski hanya di temani oleh seorang guru berkacamata yang tebalnya hampir 4 cm tak lantas memudarkan semangat  ku dan dua teman untuk berlama-lama di sana. Siswa lainnya lebih memilih kantin dan lapangan voli sebagai tempat tongkrongan mereka kala itu. Telah ku coba ajak mereka untuk mengubah haluan, dari kantin menjadi pustaka. Tapi tidak berhasil!

"Apek, panas, banyak aturan, pengap" menjadi alasan yang kerap teman-teman lontarkan.

Tak ubahnya di waktu SMP. Kala menempuh pendidikan di madrasah aliyah dan di awal bangku perkuliahan pun, pustaka masih juga menjadi rumah hantu. Wajar, jika kemudian mereka yang sering mengunjungi pustaka mendapat predikat super unik yakni penghuni rumah hantu, si buta dari rumah hantu, si kutu buku dan lain sebagainya.

Atas dasar pengalaman ini lah, saat mengikuti serangkaian proses pemilihan Raja Baca Aceh 2014 silam, dalam tahapan tes tulis. Dengan gamblangnya ku jawab pertanyaan "  Apa yang harus dilakukan agar pengunjung pustaka betah berlama-lama di pustaka?"

Jawaban yang mengantarkan ku sebagai Raja Baca Aceh 2014 itu adalah suatu pustaka akan menjadi tongkrongan pilihan dan favorit apabila pendingin ruangan berfungsi dengan baik sehingga pengujung tidak kepanasan, tata letak buku dirapikan, semua ruangan memiliki akses terhadap internet, cat dinding harus lebih eye catching, koleksi buku yang up to date  dan yang tak kalah penting pegawainya harus lebih friendly serta mampu melayani kebutuhan pengujung dengan baik. 

                                    "Pucuk di cinta ulam pun tiba!






Retetan kata yang ku padukan di atas lembaran A4 itu, kini dengan mudahnya ku  nikmati di Pustaka Unsyiah.

Dr Taufiq Abdul Gani. S.Kom. M. Eng. Sang maestro yang telah menyulap rumah hantu itu menjadi pilihan tongkrongan masyarakat Unversitas Syiah Kuala dan Aceh. Pustaka Unsyiah, bukan lagi sekedar ruangan dengan sejuta buku. Namun lebih dari itu, Pustaka Unsyiah kini telah mentransformasi diri sebagai Ratu Sejagat yang kecantikannya mampu membuat semua mata tertuju padanya.


Gedung Pustaka Unsyiah, tampak dari depan sumber: detakunsyiah.com

Aceh yang terkenal dengan kota 1000 warung kupi (warkop) tak luput dari perhatian sang kepala UPT. Beliau tau bahwa local wisdom ini merupakan bonus yang harus dilirik oleh dunia akademik. Maka sudut berukuran tak lebih dari 12*5 meter yang terletak di kanan pintu masuk, ia pilih sebagai ruangan untuk menyediakan aneka olahan kopi Aceh. Hadrah Company menjadi partnernya dalam menyebarkan aroma harum sang biji hitam ini. Hadirnya warkop ini sekaligus menegaskan dan menjawab tantangan yang diberikan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala yang menantang mahasiswa untuk minum kopi di pustaka.

Penulis sedang berdiskusi ria bersama Atase Pendidikan Thailand, Dr Yunardi. M.Sc  di warkop Pustaka Unsyiah

Menoleh lima derajat ke kanan, kita akan ngelihat panggung mini dan dinding yang terbalut dengan ornament yang begitu menawan. Ini lah TKP-nya Relax & Easy, sebuah pertunjukan seni yang hadir tiap rabu siang, 14:30:15:00 WIB. Siapa saja tanpa terkecuali bisa dengan mudah menyalurkan hobinya di ajang paling bergengsi ini. Mau atraksi sulap, nyanyi, puisi, stand up comedy atau bahkan lamar si dia. Its oke, for free kok!


Pengenalan Duta Baca Unsyiah 2017 pada acara relax and easy

Sang kepala UPT atau yang lebih akrab disapa Pak Topgan bersama punggawanya ini, paham dengan baik bahwa mereka tidak sedang melayani generasi yang oleh Baby Boomer disebut generasi X (lahir tahun 1965-1980) melainkan mereka sedang melayani generasi Y yakni generasi yang banyak menggunakan teknologi komunikasi instan, seperti email, sms, dan media sosial.

Just klik

Jangan malu untuk ask a librarian

Karenanya free access internet for unlimited mereka hadirnya di semua ruangan. Tentu ini sangat menunjang produktivitas para pengunjung, yang notabennya adalah mahasiswa dan dosen dalam menyelesaikan tugas penelitian mereka. Hadirnya aplikasi UILIS juga semakin memudahkan pengunjung mencari referensi semisal tesis dan jurnal. Cukup klik UILIS dari gengaman, maka kita sudah bisa full access ke e-theses and dissertation, Journal Unsyiah, OPAC, Science direct, Springer, PQDT Open, Proquest, Unsyiah Union Catalogue, dan E-Resources Perpustakaan Nasional.



aplikasi UILIS yang bisa dengan mudah kamu dapatkan di playstore


Untuk kamu yang belum memilikinya bisa klik disini


Bagi yang belum terbiasa dengan hal diatas, tetap tenang, karena masih bisa meminjamnya melalui Self Loan Station (sistem peminjaman mandiri). Atau mau memperbanyaknya, silakan ke petugas. Dua mesin fotocopi yang tersedia di bawah tangga lantai 1 dan di depan cafeteria cukup membuat bahan yang kamu perbanyak selesai dengan cepat.

Petugas sedang melayani pengunjung


Sebagai upaya mempertahankan mutu,  pustaka Unsyiah juga menyediakan emoticon yang bisa kamu gunakan tiap harinya

Selain antri, kamu juga bisa meminjam buku menggunakan mesin peminjaman mandiri. Tampak pengunjung sedang mengoperasikan self loan system

Kemudahan ini pada dasarnya turut mendukung bagi mereka yang ingin mengadakan pertemuan-pertemuan serupa seminar/workshop. Pustaka Unsyiah kembali menyejukkan hati kita semua dengan menyediakan ruang seminar di Lantai 1 dengan kapasitas 150 orang, di lantai 2 berkapasitas 30 orang dan di lantai 3 yang bisa diisi oleh hampir 150 orang dan paling penting its free! Tinggal mengirim surat permohonan pemakaian tempat dengan menyertakan tanggal pemakaian dengan jelas, maka apabila ruangan kosong maka dengan leluarsa bisa menikmati segala fasilitasnya (sound system, penyejuk ruangan, infocus, layar dan lain-lain).


Pengunjung sedang sibuk dengan segala aktifitasnya

Sofa empuk ini tersedia di lantai 1
Bahkan sepengalaman penulis sendiri, pihak pustaka bersedia menyediakan publikasi acara berupa banner berukuran 4*5 m, spanduk, makanan dan minuman serta uang saku untuk pematerinya. Yaaa, kalau di rupiahkan mencapai angka lebih dari setengah juta rupiah. Tentu sangat membantu untuk sebuah kegiatan yang diorganisir oleh organisasi kemahasiswaan.

Ruang kedap suara yang saking nyamannya bisa membuat kamu lupa kalau sedang di pustaka

Tersedia juga galeri mungil yang menyediakan aneka cinderamata


Pengunjung sangat sadar kalau kerapian adalah yang utama

Pengunjung sedang memperhatikan salah satu koleksi galeri

Selain itu, tayangan tv edukasi yang tertempel dengan baik di dinding sebelah kiri pintu masuk semakin mengupgrade wawasan pengunjung. Channel Natgeowild  penulis lihat adalah program yang tiap hari menghiasi layar kaca ini.


TV layar datar di dinding kiri pintu masuk

Aneka perubahan yang tercipta di Pustaka Unsyiah ini tak lantas membuat pengelolanya berpuas diri dan hanya mengayuh kaki.  Tapi sebaliknya mereka terus memantaskan diri untuk mewujudkan visi UPT Perpustakaan Unsyiah di 2018 sebagai Perpustakaan yang terkemuka dan berdaya saing di Asia tenggara.

Sebagai pengunjung setia, penulis sangat yakin jika misi ini akan tercapai dengan baik, terlebih melihat aneka proses dan kerja keras yang dilakukan oleh tim yang dinahkodai oleh doktor Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala ini. Namun untuk mempermulus perjalanannya, berpatokan pada misi diatas, penulis menyarankan ada baiknya jika pengumuman yang disediakan oleh perpustakaan, seperti saat mengingatkan akan tibanya waktu shalat,  istirahat menjelang magrib, penertiban pengunjung, dan lain-lain selain di umumkan menggunakan bahasa ibu pertiwi (bahasa Indonesia) maka juga ditambah dengan menggunakan bahasa international (Inggris). Jadi wujud nyata menjadikan pustaka yang Go-International akan lebih terasa. Yaa, hitung-hitung untuk membuat mahasiswa terbiasa, jadi skill listening mereka semakin terasa.Dan angka 550 akan dengan mudah mereka catat di sertifikat TOEFL.


Serah terima sertifikat ISO kepada Rektor Universitas Syiah Kuala didampingi oleh Ka. UPT Perpustakaan Unsyiah
sumber: okezone.com
People person!

“Orang sukses adalah mereka yang bisa mengajak orang lain untuk sama-sama meraih sukses” kalimat ini penulis dapatkan saat menghadiri sebuah acara di Depok, September 2013 silam.

Ini lah yang di lakukan oleh pak Taufiq. Keberhasilan ia bersama tim dalam meraih sertifikat ISO bagi Pustaka Unsyiah ia sebarkan kiat-kiatnya untuk yang lain.  Ia tidak ingin jika segala kesuksesan yang telah ia raih sejak 28 juni 2016 ini hanya untuk dinikmati oleh Unsyiah semata.

Berikut ini daftar sebagai pembicara Ka. UPT Perpustakaan Unsyiah sejak 2013-sekarang yang penulis dapat dari hasil wawancara dengannya beberapa waktu lalu

Tabel rincian undangan sebagai pemateri UPT Kepala Perpustakaan Unsyiah


Pustaka Unsyiah hadir tidak hanya menjadi angin segar bagi dirinya sendiri, namun kehadirannya juga menguntungkan kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh dan daerah sebagai tempatnya bernaung.

Mari kita perhatikan bersama-sama!

Semenjak Unsyiah hadir di bumi syariat Islam ini pada awal 1961 silam. Ia tak ubahnya hanya sebuah institusi pencetak sarjana semata. Seiring berjalannya waktu, inovasi-inovasi terus diciptakan hingga pada akhirnya mimpi para founding father Unsyiah yang menginginkan kampus ini tidak hanya menjadi Kampus Kebanggaan Aceh semata pun berhasil digapai. Kado dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di penghujung 2014 silam yang secara tegas menyatakan bahwa Unsyiah memperoleh akreditasi A dari sebelumnya C adalah bukti konkret bahwa Unsyiah benar-benar mewujudkan diri sebagai kampus kebanggaan Aceh. Prestasi ini bukan lah sebuah hasil tanpa kerja keras.  Tentu ada ratusan liter keringat yang tumpah di dalamnya.  Kolaborasi elemen masyarakat Unsyiah menjadi kuncinya. Tentu sertifikat yang disahkan oleh Drs. Muh. Syarif Bando, MM ini menjadi salah satu faktor utama bagi Unsyiah untuk bergabung ke dalam tiga universitas di luar Jawa yang berhasil meraih akreditasi A.

Kehadiran Pustaka Unsyiah bagaikan seember air di tengah teriknya matahari. Ia hadir membawa secercah harapan bagi sekitarnya. jati dirinya tak lagi dianggap sebagai beban melainkan sebagai asupan utama bagi sebuah kesuksesan. Sebagaimana yang postingan sang Ka.UPT di laman akun facebook miliknya mengatakan bahwa, untuk pertama kalinya dalam rapat dengar pendapat komisi E senat Universitas Syiah Kuala, pihak Pustaka Unsyiah yang diwakili oleh pak Taufiq hadir sebagai pihak yang dimintai ide cemerlangnya. Tentu bukan sebuah pekerjaan mudah untuk bisa mencapai semua ini. Tanpa kerja keras dan kerja nyata, semua ini hanya lah hayalan semu semata.

Rapat dengar pendapat bersama Komisi E
Sumber: Facebook.com/taufiqabdulgani
Sebagai putra daerah yang baik sudah menjadi kewajibannya untuk membangun tanah kelahirannya menjadi lebih baik. Kontribusi Pustaka Unsyiah tidak hanya untuk Unsyiah, ia turut hadir secara langsung dalam mendukung Aceh sebagai daerah yang baru saja memenangkan predikat World Best Halal Destination.

Hadirnya sejumlah visitor mancanegara seakan mempertegas kontribusi Pustaka Unsyiah dalam mendukung dunia pariwisata di Bumoe Seramoe Mekkah ini.

1.     Kunjungan University Selangor (UNISEL), Kolej Universiti Islam Selangor (KUIS) dan Universiti Perubahan antarbangsa (IMU) Ke Perpustakaan Unsyiah. Pada Tanggal 02 Juni 2014. Jam 08.30 Wib (7 Orang).

2.     Kunjungan Sempena Program pengembaraan USIM Global Islamic Students Outreach (GISO) 2016: Here a Voice Of Care (Havoc), Banda Aceh. Pada Tanggal 24 Agustus 2016 Jam 09.00-14.00 Wib (19 orang).

Bahkan pejabat negara sekelas dubes pun tak sungkan untuk singgah di gedung tua ini. Dia lah dubes Korea yang hadir dan turut menyumbangkan lagu dalam acara relax and easy beberapa waktu lalu.

Pustaka Unsyiah telah menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Kunjungan lembaga luar negeri itu turut menambah daftar panjang kunjungan sekolah/universitas luar Unsyiah ke Pustaka Unsyiah.

Berikut sekolah/universitas dalam negeri yang melakukan study banding ke Pustaka Unsyiah:

3.     Universitas Jabal Ghafur Sigli Magang di perpustakaan Unsyiah. Pada Tanggal 18 februari s.d 04 Maret 2013,
4.     Kunjungan Mahasiswa Politeknik Negeri Medan ke Perpustakaan Unsyiah. Pada Tanggal 18 Februari 2016. Jam 14.30 Wib.
5. Kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Cot Langsa Ke Perpustakaan Unsyiah. Pada Tanggal 20 Februari 2016. Jam 09.00-10.00 Wib.
6. Kunjungan Siswa/i Kelas XII IPA /IPS MAN Sabang  Ke Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. PadaTanggal 11-17 April 2016. Jam 08.30-12.30 Wib (30 Siswa).
7.     Mengikuti Kegiatan Domestic Non-Degree Training Pada Project 7in 1 Unlam Tahun 2016 Berupa Magang pada Program Pedoman Sistem Layanan Perpustakaan berbasis Digital Universitas Lambung Mangkurat di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Pada Tanggal 22-29 Mei 2016.
8.   Kunjungan mahasiswa/i Fakulti sains dan Teknologi (FST), Islamic Science university of  Malaysia pada Tanggal 24 Agustus 2016. Jam 10.00-13.00 Wib.
9.   Kunjungan Siswa/i Madrasah MA Sabang Negeri Sabang  Ke Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Pada Tanggal 19 April 2017. Jam 08.30-10.30 Wib (50 Siswa).

Semoga dengan segala fasilitas dan kenyaman yang kini terdapat di Pustaka Unsyiah dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh penghuninya, baik itu para mahasiswa dan dosen, dalam menunjang salah satu poin tri darma perguruan tingginya maupun oleh masyarakat Aceh pada umumnya. 

Setau penulis, sebagai orang yang suka bergelantungan ke hampir seluruh pustaka, terutama yang ada di Aceh dan beberapa pustaka yang ada di luar Aceh dan pulau Sumatra,  Pustaka Unsyiah adalah satu-satunya pustaka dengan predikat terbaik, terlengkap dan ternyaman yang pernah ada di Nusantara.


Akhir kata, #AyoKepustaka #Ayomembaca #Acehberjaya #pantangpulangsebelumdiusir 


http://library.unsyiah.ac.id

Wednesday, 5 April 2017

Lomba Blog Elevenia 2017: Jawaban Atas Doa Ku Dalam Menyiapkan Kado Untuk Bapak

Aula Andika Fikrullah Albalad
13 tahun ia pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Saat itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan belum tau dengan baik makna dibalik kata meninggal. Ibu dan saudara-saudara ku hanya mengatakan "Bapak ada keperluan, harus pergi dan tidak bisa tidur di rumah lagi. Ini tempat tidurnya sekarang" sambil menunjukkan tumpukkan tanah yang sudah mengering itu.

Hari-hari terus ku jalani tanpa belaian kasih, cinta dan perhatian seorang bapak. Kepergiannya yang begitu mendadak membuat ku sepi. Hal ini berbeda dengan mereka yang selalu bisa bermesraan dan bermanja ria dengan orang tua laki-laki mereka.

Aku tidak!!

Acap kali rasa iri dan cemburu muncul pada mereka yang tiap lebaran tiba selalu merenggek meminta di belikan baju baru "Pak, adek mau baju model kayak gini, kapan bapak beli? " lontaran kalimat seperti itu hampir sepanjang ramadhan ku dengar.

Berbanding terbalik dengan ku, hampir tiap kali lebaran hanya mampu memakai baju bekas sumbangan orang lain. Baju baru merupakan barang mewah bagi ku dan keluarga.

Dalam lamunan yang berkepanjangan, aku sering memimpikan " Bapak, andai engkau masih ada. Ingin sekali ananda mu ini membelikan baju baru untuk mu yang dengannya akan membuat urat-urat dan kulit sawo matang mu tertutup. Tapi itu tidak pernah mungkin akan terwujud, sosok itu telah pergi dan takkan pernah kembali".

Walau demikian, aku tidak pernah berhenti berharap untuk dapat menghadiahkan sepotong baju untuk laki-laki bernama bapak itu.

Sepeninggalan bapak di awal 2004 silam, aku terus memanjatkan doa " Ya Allah, aku tau orang tua ku tidak akan mungkin bisa hadir lagi di muka bumi ini. Oleh karenanya izinkan Rasul Saw Yang Mulia itu hadir membimbing ku dalam menggapai ridha Mu Yang Maha Suci". lafad itu tidak pernah berhenti dari serantaian doa-doa yang ku panjatkan.

Hingga aku merasa, Allah bosen mendengar repetan ku dan menghadirkan sosok yang selama ini ku impikan itu. Beliau adalah, Prof. Dr. H. Mustanir. M. Sc, guru besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.


Abi dan keluarga di hari wisuda ku

Sejak 2012 silam, saat pertama kali ku bertemu dengan beliau. Aku melihat aura yang sangat berbeda di wajahnya.  Aura yang dapat membimbing ku dalam mengapai ridha Ilahi. Pancaran air wajah ketulusan yang terus mampu membuat ku bergairah dalam menjalani hari-hari. Sosok yang begitu siap menegur  kala aku berbuat silap, baik dari dalam bertutur kata maupun perbuatan.

Kala itu aku tidak berani, langkah dan bibir ku terasa kaku. Adapun jalan keluar yang ku tempuh adalah dengan tetap bermunajat kepada Allah agar aku tidak salah memilih.  Ini berbekal dari setumpuk pengalaman yang ku alami sebelumnya.

Iyaa, saat duduk di bangku SMP dan SMA, aku pernah mengidolakan beberapa sosok. Namun, akhirnya aku mendapati sebuah hal yang membuat ku menyimpulkan bahwa mereka itu adalah orang tidak dapat mendekatkan diri ku kepada Sang Pencipta dan tidak bisa mendukung ku untuk terus berbagi dan berbuat baik untuk masyarakat. Tapi malah akan menjauhkan ku dariNya dan membuat ku apatis terhadap lingkungan di sekitar ku.

Di pertengahan 2014. Aku menemukan akun facebook prof  dan memberanikan diri untuk mengirim pertemanan.

Saat aku mengenal beliau lebih dekat, sosok yang kini ku panggil dengan sebutan  abi ini, membawa ku kembali ingat akan mimpi ku dulu. Yakni, ingin sekali  menghadiahkan baju untuk orang tua laki ku.

Seperti biasanya, di setiap awal tahun aku selalu membuat resolusi yang wajib ku capai dalam tahun itu. Maka, di awal januari 2016 silam. Salah satu resolusi yang ingin ku gapai, sebagaimana tertera di no 10 di kertas A4 yang ku tempel di dinding kamar ku adalah membeli baju baru untuk Abi Prof hasil lomba atau kerja.


List target di 2016 silam

Untuk mengapai mimpi tersebut, puluhan aplikasi lomba dan lamaran kerja ku lempar. Namun hingga 2016  berakhir, aku belum mampu mengapai mimpi itu. Lomba-lomba yang ku ikuti tidak satu pun menunjuk ku sebagai juaranya, lamaran kerja yang ku lempar ke aneka perusahaan pun tak juga mendapat kabar bahagia. Aku merasa setengah gagal, sepotong baju saja tidak mampu ku persembahkan untuk dia yang ku cinta.

Tapi, kegagalan itu tidak membuat ku menyerah begitu saja. Malah membangkitkan semangat yang lebih. Maka, dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang hebat. Kembali ku cantumkan dalam list mimpi yang wajib di gapai di 2017 ini adalah menghadiahkan sepotong baju dan sebuah jam tangan untuk Abi.



List target  di 2017

Abi adalah sosok yang berjibaku dengan berbagai pertemuan penting, baik formal maupun non formal. Hadiah baju yang ingin ku persembahkan selain untuk memenuhi mimpi kecil ku, juga untuk menghadirkan kehangatan agar beliau selalu fit dan baik penampilannya dalam berbagai situasi serta sebagai sebuah tanda sayang ku untuk nya. Adapun pilihan jam tangan, jatuh karena aku mau Abi untuk selalu bisa hadir dalam berbagai kegiatannya tepat waktu. Ilmu dan buah pikirannya sangat ditunggu oleh masyarakat saat ini, sehingga dengan jam ini Abi bisa selalu membuat banyak orang bahagia.


Aku merasa Allah telah menunjukkan jalan yang tepat bagi ku agar tahun ini bisa mewujudkan mimpi yang sempat tertunda itu.

Kehadiran lomba blog 2017 oleh Elevenia ini adalah jawaban atas segala doa yang selama ini ku panjatkan. Apalagi, saat aku tau bahwa salah satu topik kategorinya adalah Fashion. Aku berharap, tahun ini, di ulang tahun  Abi yang ke 51 juni mendatang. Aku bisa menghadiahkan sebuah kado yang di dalamnya berisikan baju

Aku tidak mau, mimpi ku itu tidak kembali terwujud di 2017. Meski aku sadar, se hebat apapun manusia berbuat, jika Allah tidak merestui maka tidak akan pernah ada hasilnya. Karena Allah jauh lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hambaNya..

Aku sangat percaya, Elevenia bisa membantu ku dalam mewujudkan mimpi itu. Oleh karenanya, wajar jika ku ucapkan terima kasih.



Tuesday, 4 April 2017

Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) part 1 : Bukan sekedar lawatan

Aula Andika Fikrullah Albalad




" Jleep "kurang lebih begitu lah bunyinya. Terlihat di layar kaca laptop Asus, milik saya. Sebuah email masuk. Tak lama kemudian, hp nokia yang saya beli sejak 2011 lalu itu juga berbunyi. 

"Assalamu'alaikum, email berisikan surat undangan sudah kami kirimkan ke emailnya Bapak. Terima kasih" sebut nomor tak bernama itu. Segera saja saya buka kotak masuk

" Assalamu'alaikum Wr. Wb
Bersama ini kami lampirkan surat peserta aktif
untuk keg. LASEDA 2017 di Kota Sabang tanggal 29 Maret s.d 1 Apr 2017.
Demikian kami sampaikan untuk segera ditindaklanjuti,atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Wassalam,

BPNB Banda Aceh
"
Demikian bunyi emailnya. Wah, dapat undangan dari BPNB Aceh. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menekan tombol reply dan mengetik

" Wa'alaikumussalam.
Terima kasih untuk kiriman surat undangan dan rundown acaranya.
Salam "

Balasan email ini juga sebagai tanda persetujuan keikutsertaan saya memenuhi undangan BPNB Aceh ini. Tidak butuh waktu lama untuk mikir terima atau tolak undangan ini, apalagi yang buatnya adalah BPNB. Karena saya tau bahwa kegiatan yang mereka adakan tidak pernah rugi dan sarat akan banyak pelajaran serta pengalaman yang berharga.

Iya, tahun lalu. Saya juga dapat undangan dari mereka untuk hadir dalam kegiatan Workshop Diplomasi Budaya Damai, yang berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh dalam kapasitas sebagai Duta Damai Aceh.

Terbukti, acaranya sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan. Alhamdulillah, saya menjadi peserta yang selalu hadir di awal waktu dalam setiap sesinya. Belum lagi berkisah tentang para experts yang hadir. Berbekal pengalaman Workshop Diplomasi Budaya Damai itu lah, undangan kali ini tidak membuat saya malu untuk menerimanya.

Hari H pun tiba.

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh menjadi lokasi meeting point saya bersama peserta lainnya yakni para adik SMA se-Aceh dan Sumatra Utara. Beberapa staff pegawai BPNB selaku panitia Workshop Diplomasi Budaya Damai, tahun lalu juga tampak berdesakan bersama adik-adik SMA ini mengantri menuju kapal.

45 menit tak terasa, tiba saja Kapal sudah menepi di dermaga Balohan, Sabang. Belum juga habis lahapan bacaan, udah harus keluar dari kapal. "Welcome to Sabang 'again' Aula" ucap saya dalam hati. Hehehe, maklum. Pertama kali ke Sabang tahun 2015, itu pun karena momentum KKN Kebangsaan. Selepas KKN, baru ini kaki saya kembali melangkah ke sana.

Banyak perubahan yang terjadi di Balohan ini. Padahal baru setahun saya tidak bertemu dengannya. Tapi udah semakin cantik saja riasan Sabang ini. Masya Allah, sungguh indah  ciptaan Mu Yaa Rabbi, Ya Allah Yang Maha Indah.

Saat sudah tiba di sana, semua peserta di arahkan menuju mobil mini bus untuk selanjutnya di antar ke penginapan dan bersiap - siap untuk acara pembukaan yang menurut yang tertera di Rundown yang dikirim panitia, bertempat di Auditorium Kantor Walikota Sabang.

Ruangan Kantor Walikota, Sabang. Siang itu mendadak berubah menjadi ruang kelas. Putih Abu Abu menjadi warna dominan disana. Adik adik SMA dari penjuru Aceh dan Sumut ini tampak begitu antusias untuk mengikuti pembukaan Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) yang oleh ibu Arini Dewi, selaku Kepala BPNB Aceh Sumut dalam kata sambutannya menyebutkan bahwa, ini LASEDA yang ke 15.

Tarian ranup lampuan oleh adik-adik SD N 1 Sabang menjadi awal dari serangkaian kegiatan ini.
Lenggak lenggok gemulai jemari mereka yang memperagakan proses memetik sirih hingga menghidangkannya begitu menyejukkan mata.

Diskusi pun tiba.
Tampak hadir di meja di atas panggung 4 orang pemateri.

Ada wanita yang wajahnya tidak begitu asing bagi saya, yakni Direktur Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, Ibu Dra. Triana Wulandari, M.Si. Yangg pada akhirnya saya ingat bahwa jumpa dengan beliau itu ya di Wokrshop Diplomasi Budaya Damai beberapa waktu lalu. Selanjutnya ada dosen Univ Syiah Kuala, kala masih berstatus mahasiswa dulu, sering banget ketemu beliau di lobby fakultas, pak Mawardi Umar. M.Hum. 

Di kiri beliau, duduk sang moderator, yang begitu piawai memainkan suasana yang di dominasi oleh abg ini. Tepat di sebelah kiri pak Bustami, sang moderator. Duduk dengan penuh santai mas-mas yang saya ajak ngobrol setiba di penginapan dan dalam perjalanan menuju TKP. Eh, tau-tau beliau adalah pemateri. Mas Stanov namanya, wong jowo yang kini menjabat sebagai Kepala Balar Medan. Perawakannya sama sekali tidak menunjukkan sebagai pemateri, jadinya saya ngelantur tanpa malu dengannya dalam perjalanan menuju lokasi acara. Eh tau tau adalah experts. Sugeng agung mas Stanov hehehehe.
Pemaparan ke empat pemateri sangat mengasyikkan, namun jika boleh jujur materi yang disampaikan oleh mas Stanov dan bg Albina merupakan juaranya...

Apa yang dibahas mas Stanov dan bg Albina?, insya Allah akan saya posting segera

Tuesday, 21 February 2017

Pendidikan, Jawaban untuk Gampong

Aula Andika Fikrullah Albalad
Kepingan opini di Harian Rakyat Aceh

Indonesia Mengajar (IM), adalah program yang diinisiasi oleh Anies Baswedan pada 2009 ini telah berhasil mengirim para pengajar muda ke seluruh pelosok Indonesia untuk mengajar dan mengubah pola pikir anak-anak di berbagai daerah.
Tak mau ketinggalan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejak tahun 2011 juga mengeluarkan program “serupa” yakni SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar Terdepan dan Tertinggal) yaitu program yang mengirim para sarjana muda lulusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan ke daerah-daerah yang berada dikawasan 3T seperti Papua, NTT dan Aceh dll.
Alhamdulillah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah adalah satu-satunya LPTK di Aceh yang mendapat wewenang untuk melaksanakan penyeleksian para sarjana untuk ikut berpartisipasi di SM-3T.
Pada dasarnya kedua program ini memiliki visi dan misi yang sama yakni, mengirim pendidik muda untuk mengajar, berbagi pengalaman dan mencerdaskan anak bangsa di seluruh pelosok negeri.
Apa yang dilakukan oleh para sarjana dan pengajar muda ini tentu lah sangat merefleksi akan kalimat yang pernah diungkapkan oleh seorang pejuang diskriminasi asal Afrika, yang kemudian menjadi presiden berkulit hitam pertama, siapa lagi kalau bukan Nelson Mandela yang dimasa hidupnya pernah berkata “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Pernyataan ini begitu mengambarkan pentingnya pendidikan.
Pendidikan di gampong.
Jika kita berbicara tentang gampong, yang biasanya terpantri dalam ingatan kita adalah ketertinggalan dan kemiskinan. Iya, harus diakui memang gampong adalah penyumbang daftar orang miskin terbesar di republik ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada maret 2010 menyebutkan bahwa 64.32 persen dari total 31.02 juta penduduk miskin di Indonesia tinggal di gampong.
Oleh harian Kompas, (19/07) juga menguatkan akan data yang disampaikan oleh BPS ini dengan kembali mengeluarkan data yang menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin per maret 2016 berjumlah 28 juta jiwa atau 10,86 persen dari total penduduk Indonesia. Jika melihat data ini, maka bisa disimpulkan bahwa jumlah kemiskinan penduduk digampong hampir dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal dikota. Sebut saja DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia yang jumlah penduduknya hanya 9.992.842 jiwa (BPS)
Melihat data diatas dan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Muni’ sebagaimana tersajikan dalam al-Shakhawi, al-Ajwabah al-Mardhiyah, Dar al-Rayyah, Hal. 606  “اكفر يكون ن أالفقر كاد” yang artinya “kemiskinan itu rentan dengan kekufuran” penulis menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan, kemiskinan dan kekufuran.
Sebagai individu yang tinggal dan besar di gampong, penulis mengamati akan fenomena yang selama ini berkembang di masyarakat gampong yakni pendidikan bukanlah prioritas utama.
Orang tua beranggapan bahwa sudah mampu membaca dan menulis maka sudah dianggap berpendidikan, dibandingkan mereka (orang tua) yang buta akan baca dan tulis. Sungguh disayangkan akan hadirnya pola pikir seperti ini, karena pada akhirnya ekonomi keluarga menjadi taruhan.
Padahal jika melihat esensi pendidikan yang sebenarnya lebih dari sekadar hanya mampu menulis dan membaca. Filosof asal Inggris, John Struart Mill, menyatakan bahwa esensi pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya, yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.
Ketidakseksian isu pendidikan dikalangan masyarakat gampong, disebabkan oleh banyak faktor diantaranya factor ekonomi dan status “pengacara” yang disandang oleh para sarjana. Mereka yang berasal dari ekonomi kalangan bawah tak jarang langsung menikahnya anak-anak gadisnya sebagai upaya untuk meringankan tanggungan bagi mereka. Dikotomasi semacam ini tentu akan melahirkan sumber daya manusia yang slowdown. Yang berakibat pada kemunduran negera.
Berbicara masalah di gampong memang takkan pernah ada habisnya. Berbagai solusi yang selama ini telah ditawarkan untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan digampong tak kunjung membuahkan hasil. Penulis menyatakan bahwa hal ini tak olah dikarenakan pola pikir masyarakat yang masih mengesampingkan pendidikan.
Untuk menyelesaikan berbagai persoalan dimasyarakat gampong, hanya akan dapat dicapai apabila masyarakatnya berpendidikan. Jika hari ini, kita selalu mengandalkan program-program yang ditawarkan oleh pemeritahan saja, penulis rasa bukanlah pilihan yang tepat. Butuh kontiniutas dan perhatian yang besar dari masyarakat dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Nah, untuk mendapatkan itu pendidikan adalah solusi satu-satunya.
Perubahan yang fundamental terhadap pendidikan di gampong memang sangat dibutuhkan. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah dalam mengelola pendidikan dan masyarakatnya. 
Apa yang dilakukan oleh negera ini bisa dijadikan contoh. Norwegia, Australia dan Swiss sebagai negara dengan indeks pembangunan masyarakat terttinggi di dunia adalah negara yang menepatkan pendidikan sebagai fokus utama. Negara ini memberi akses dan kesamaan hak untuk memperoleh pendidikan yang sama bagi warganya. Bahkan saking penting pendidikan, Firlandia mengratiskan pendidikan bagi seluruh warga negaranya. Tak tanggung-tanggung, di negara ini, masyarakatnya bebas menikmati sekolah gratis hingga S-3. Kita semua berharap, pendidikan masyarakat di gampong akan mampu mengubah dan mendorong hidup mereka menjadi lebih baik. Hingga citra gampong sebagai gudang kemiskinan mampu tergantikan menjadi gampong pusat inovasi dan inspirasi akan kemajuan republik tercinta. Aamiin.


*Tulisan ini pernah dimuat di Koran Harian Rakyat Aceh. Selasa, 21 Februari 2017.

Wednesday, 25 January 2017

Donor Darah, Siapa Takut!

Aula Andika Fikrullah Albalad
Saya masih aktif sebagai salah satu pengurus (dulu) PEMA (Pemerintahan Mahasiswa) sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala dengan presidennya adalah Furqan.

Pagi menjelang siang itu, ada salah satu pengurus yang menyatakan bahwa ada koleganya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh dan membutuhkan beberapa kantong darah bergolongan O.

Saat itu saya sudah mengetahui golongan darah saya, karena semenjak kecil kak Rosniati (kakak perempuan pertama yang sangat aktif diberbagai organisasi kemanusiaan salah satunya PMI) sudah sangat sering membawa saya ke Unit Tranfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cab Banda Aceh ini.

Sehingga saat mendengar hal itu saya refleks "Saya O bu, tapiiii.."

"Pas kali pak Aula, ayoo bantu saya yaaa. Gak seseram itu kok. Malah nanti Bapak akan ketagihan untuk donor. Yuuuk pak. Butuh cepat ni" ajaknya sedikit memaksa.

"Yuk.." jawab saya

Jreng jreng jreng, ditemani si greng saya meluncur ke UDD PMI Cab Banda Aceh.

Sesudah memarkir motor kesayangan ini, saya diajak masuk ke ruangan sejuk untuk melakukan cek darah dan cek kondisi HB. Tahapan ini saya lakukan setelah sebelumnya saya dibantu rekan PEMA ini mengisi form pendaftaran donor darah yang didalamnya memuat informasi kondisi calon pasien seperti jenis-jenis penyakit yang pernah diderita dan lain-lain.

Ruang donor darah UDD PMI Banda Aceh

"HBnya cukup dan golongan darahnya tepat seperti yg telah disebutkan yakni O. Silakan bawa ini ke dalam untuk cek tekanan darahnya" sebut ibu berpakaian putih yang saya taksir adalah dokter ini.

Selesai melakukan cek tekanan darah yang lagi-lagi aman untuk melakukan donor darah. Saya diajak masuk ke ruangan yang lebih sejuk dan bersih.

Sebuah tv yang menjunlang tinggi hampir menyentuh plapon, kursi tidur bersayap disisi kanan kirinya dan meja serta beberapa bungkus-bungkus plastik bening yang akhirnya saya tau bahwa itu adalah kantong darah adalah barang yang menghiasi ruangan itu.

"Sudah pernah donor darah sebelumnya dek" sapa si dokter dengan ramah

"Gak ingat dok, ntah ini yang keberapa" jawab saya.

"Wah hebat! kuliah dimana, ini agak sakit sedikit yaaa" katanya

"Saya di Universitas Syiah Kuala dok, baru masuk" saya merasa ada semut yang gigit lengan kanan saya. Ketika hendak mengusir keberadaan semut itu saya melihat ternyata ada jarum yang ukurannya sebesar paku 4 den, lumayan besar yaaa,  sedang menepi urat nadi dilengan kanan saya.

"Kenapa-kenapa" tanya si dokter dengan sedikit heran

"Saya pikir tadi ada semut dok" sahut saya

"Hahahahah, ooo mungkin itu saat jarum saya suntik. Ada pusing?" tanyanya

"Tidak, ohya dok ini fungsinya untuk apa yaaa dan berapa banyak darah yang akan diambil tiap x seseorang melakukan donor darah. Terus, disimpan dimana ini darahnya dan apa bisa langsung dipakai setelah ini" tanya saya berlagak wartawan senior ternama.

"Oooo, ini fungsinya untuk menyimpan darah yang baru saja diambil di pendonor" sambil menunjukkan kantong darah.

"Adapun jumlah darah yang diambil hanya 250-350 ml dan itu tergantung kesehatan di pendonor, setelah ini bisa langsung dipake kok"

"Wah, ternyata dikit ya, jadi seandainya saat donor seperti ini darahnya tidak terkumpul sebanyak 250-350 ml apakah ada pengaruh?"

"Iya, besar sekali pengaruhnya. Kemungkinan tidak bisa dipakai" Jelas si dokter sambil melipat kantung darah.

"Oke sudah selesai, silakan masuk ke ruangan itu dan silakan cicipi minum dan makanannya ya"

Tak terasa darah transfusi darah sudah selesai dilakukan. Tak ada rasa sakit sedikit pun, jauh seperti apa yang disampaikan orang-orang selama ini bahwa donor darah itu sakit karena jarumnya sebesar jarum untuk suntik gajah. 

Merasakan begitu nyamannya saat melakukan donor darah dan ringannya kondisi tubuh. Maka sejak saat itu saya mulai rutin melakukan donor darah tiap 75 hari sekali dan 15 februari 2017 nanti pegawai UTD PMI Cab Banda Aceh menyampaikan bahwa saya telah melakukan donor darah sebanyak 23 x.

Sungguh tidak terasa, jika saya sudah melakukan sebanyak itu. Rasa-rasa baru kemarin melakukan donor darah. Hanya satu hal yang selalu saya ingat ""semoga kontributif untuk umat". Beliau yang saya cintai selalu menyampaikan hal ini. Ya Allah, semoga hamba mu ini bisa terus melakukan yang terbaik untuk diri dan masyarakat.

Ada rasa kepuasan yang besar dalam diri karena bisa berbagi walau hanya setetes darah yang jika dikalkulasi, jumlahnya tentu tidak jauh beda saat seekor lintah menyerebot badan kita selama 30 menit.

Rasa kepuasan itu semakin jelas terukir saat melihat pancaran kebahagiaan diwajah para pasien yang mengetahui ada kantong darah untuknya. Kecil memang dan bahkan tidak sangat tidak bernilai bagi sebagian kita. Tapi diluar sana ada begitu banyak orang-orang yang mengantungkan hidupnya pada sekantong darah. Sebut saja para penderita Thalasemia yang sangat bergantung pada sekantong darah. Sekatong darah layaknya minuman bagi mereka. Tanpa melakukan transfusi darah penderita Thalasemia hanya akan tinggal nama dan batu nisan.

Kawan, hidup ini sekali. Lantas jika hidup tidak digunakan untuk kebaikan bersama sungguh akan sangat rugi dan salah satu cara untuk bermanfaat untuk orang lain itu adalah dengan melakukan donor darah. Jangan pernah takut, donor darah tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, yakni yang menerima darah kita. Tapi donor darah juga sangat bermanfaat untuk kesehatan diri si pendonor itu sendiri. Jadi, mari galakkan donor darah. Karena setetes darah kita menyelematkan banyak jiwa.

Donor darah, cara ku berbagi.
Ayo Donor!!

Donor darah di kantor FBA

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib