Minggu, 18 Februari 2018

Sepiring Nasi Padang Kalibata


source:www.google.com

Kekecewaan akibat batalnya operasi, terobati kala pesan singkat yang terkirim melalui aplikasi Whatsapp terbalas. " Kita ketemu di sana saja yaa, insya Allah jam 3 sudah di tkp."

Tanpa pikir panjang, dari Rumah Sakit Menteng Afia, Jakarta Pusat saya lantas memesan Gobike ke lokasi yang disebutkan dalam pesan singkat itu. Tak butuh waktu lama untuk tiba di lokasi. Gedung mewah bertahta "persoalan" mahkota tersajikan di depan mata. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan sang supir, saya bergegas masuk ke lokasi di mana sebelumnya telah melakukan registrasi pada petugas keamanan yang bertugas di pintu masuk. 

Udara di Jakarta memang sedang tak bersahabat, sehingga hanya terpikirkan masjid sebagai destinasi utama. Tak berapa lama kemudian,  masuk pesan singkat dari beliau yang dengan rasa kecewa beliau meminta izin agar saya bisa hadir ke lokasi lainnya, karena lokasi yang pertama tidak begitu baik untuk sekadar melepas kangen. Saya mereply "get."

Hampir 60 menit menunggu kehadiran gobike, dan butuh waktu 30 menit mencapai lokasi ke dua. Itupun dengan sedikit paksaan kepada sang driver, bahwa saya sedang di tunggu meeting oleh rekanan.

Alquran kecil terlihat terselip di tangan beliau saat saya mengucapkan assalamualaikum. Beberapa botol mineral water merek ternama pun tersajikan di atas meja bertaplak putih. Di sudut kursi panjang yang digunakan olehnya, terlihat smartphone yang sedang tercas, tumpukan alquran kecil serta terjemahan dan beberapa majalah ternama.  First expression saya semakin bangga dengannya. 

Sembari mencicipi segelas air mineral dan membahas beberapa kabar teraktual. Beliau mengatakan " Aula ayo kita ke Warung Padang di belakang, nasi di sana enak, " ucapnya sedikit memaksa. 

" Aula baru saja makan Ketoprak di depan gerbang, Ust. " balasku

" Ah, ayo. Lekas naik ke mobil." 

" Baik." manutku. 

" Mas, saya pesan nasi tambah telur bulat, sayur dan es teh. Aula mau makan apa.. "

" Saya, nasi, sayur dan pergedel aja ya mas. Terima kasih"

Hidangan kita pun tersajikan di meja yang tak lagi putih itu. 

" Aula tidak perlu khawatir, gunakan semua kesempatan yang ada dengan baik. Hubungkan semua jejaring yang ada di sana terutama sekali yang bisa mendatangkan dan menguatkan marwah dan martabat serta kekuatan denganNya. Meskipun saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa ada satu atau dua yang cara pandang mereka tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya. Tapi, jika kita selektif dalam memilih diskusi, mengetahui dengan baik dan bijak akan apa yang dibicaraan, pandai dalam bertutur. Insya Allah, kita bisa survive."

"Ibrah kehidupan sejatinya tidak didapatkan dari hanya menangadahkan tangan tapi juga perlu kerja keras untuk menemukan semua itu. Benteng diri itu menjadi tameng utama siapa dan di manapun kita berada. " tambahnya sambil menyentuh tiap butiran nasi itu. 

" Satu hal yang ingin disampaikan sama Aula, as the talented person I have ever seen. Tangan yang menerima akan sulit untuk memukul. Bek karena hana meoh, akhirnya kita jadi meh moh.  This is what actually happen di negeri kita. Dont be the one, Aula."

"Selain itu, kadang kala argument memang penting. Tapi, ada hal-hal yang argument tidak dapat dipaksakan. Karena ada qadar Allah di dalamnya. Sebagai orang pesantren, Aula sudah sangat paham akan hal itu. Masyarakat di sana selalu mengutamakn rasionalitas. Nah, ini peluang bagi kita. Strategi yang bisa kita gunakan adalah, gunakan rasionalitas itu sebagai alat dan senjata bagi kita " untuk berperang" dengan mereka. Insya Allah, kita bisa melanjutkan segala perjuangan yang kita bina di sini. Lon sajan Aula, bek yoo! Mas, tolong hitung punya kami, tapi sebelumnya tolong ambilkan foto kami berdua."

Siang itu, memang tampak sangat istimewa. Siapa sangka, perbincangan yang bermula dari segelas air mineral dan sepiring nasi Padang. Mampu menguatkan tali-tali perjuangan akan kemashalatan ummat. 

Sudah lebih dari lima tahun kami bersama. Gagasan dan idenya selalu tercurahkan dengan baik, lewat majelis yang ada.
2013 menjadi awal semua ini. Di ruang ganti gedung AAC Dayan Dawood, Univ Syiah Kuala, Banda Aceh. Kalimat itu tersematkan dengan jelas "Baca Doanya bagus sekali yaa."

" Minta izin untuk photo bersama, boleh? "

" Mari." ajaknya. 

Siapa sangka, sosok yang tanggas dalam menjawab pertanyaan Najwa Shibab ternyata tetap sama jika berhadapan dengan anak muda ingusan kala lagi pilek ini. Tak ada rasa angkuh apalagi kesombongan. Yang selalu tertampilkan adalah rasa tentram nan bersahaja dalam balutan asma-asmaNya. Masya Allah, sungguh indah mempunyai sosok seperti ini. 

Lirih do'a pun terpanjatkan kala mobil hitam bercat hitam melaju ke persimpangan jalan. " Ya Allah, semoga Engkau ridhai setiap langkah yang dia dan hamba kerjakan. Sehingga kehidupan kami ini selalu membawa manfaat untuk ummat manusia. Aaamiiiin"

Minggu, 21 Januari 2018

Information of Fulbright Scholarship 2018/2019


Melanjutkan pendidikan ke luar negeri bermodal beasiswa adalah impian setiap insan. Nah, kali ini saya menyediakan informasi terkait dengan beasiswa ke Amerika yang bernama Fulbright.

Sekilas tentang Fulbright


Fulbright pertama kali ada pada tahun 1946 di bawah legistimasi oleh J. William Fulbright. lebih lengkapnya sila klik Fulbright History 


Untuk pendaftaran 2018, timelinenya terlampir di bawah ini:

Master's and PhD scholarship
Application deadline : February 15
Screening: March
Interviews: April
Shortlist Announcement : June




Link di bawah ini akan sangat membantu jika ingin menulis esai-esainya:

1. panduan menulis esai beasiswa

2.  rochester.edu

3. e-education.psu.edu

4journey rudi hartono

Selamat sukses!


Senin, 08 Januari 2018

Sarasehan BNPT di Yogyakarta: Cerdas Melawan Hoax



Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak pernah kehabisan cara untuk memerangi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Maret, 2017 lalu saya mendapat undangan untuk memenuhi pertemuan nasional atau sarasehan bersama pegiat dunia maya se-Indonesia. Alena Convention and Hotel menjadi tempat berkumpulnya para duta damai dunia maya ini.
Penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia tidaklah membuat saya, Fitri dan Ade merasa bosen. Saat kedua sohib yang turut diundang oleh BNPT sibuk dengan selfie. Saya sendiri seperti biasa selalu disibukkan dengan buku, dan buku. Singkat cerita, saat sampai di lokasi acara atas antaran abang supir dari Adi Sucipto bandara. Kami langsung melapor ke panitia dan untuk mendapatkan kunci kamar dan segera  bergegas untuk welcoming dinner di ruang utamanya. Kemeja biru dengan paduan songket di bagian dada, yang dijahit oleh Mimi Moda Fashion, celana bahan hitam, sepatu lipat dan tas kecil bermotif Aceh yang saya lipat sedemikian rupa menjadi sebuah dompet merupakan setelan yang saya pilih untuk makan malam bersama duta damai dunia maya lainnya. Sejauh mata memandang, hampir 100 orang hadir di malam itu. Dan bahagianya saya karena semua dari mereka adalah pegiat dan aktifis dunia maya yang selama ini turut membantu BNPT dalam menyajikan bahan bacaan dan kampanye akan bahayanya radikalisme dan terorisme di Indonesia.


Sarasehan kedua yang dilaksanakan oleh BNPT kali ini, sebelumnya di Jakarta, mengangkat tema yang sangat special , yakni Sarasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Penggiat Dunia Maya dan judul Cerdas Dunia Maya di hadiri oleh kontributor jalandamai.org pengguna aktif damai.id dan perwakilan duta damai 2016. Saya sendiri berada pada golongan pengguna aktif/kontributor damai.id.

Sebagaimana disampaikan oleh Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT. Bapak Mayjen TNI Abdur Rahman Kadir maksud dan tujuan dikumpulkannya kami ini tidak lain untuk persiapan menghadapi merebaknya konten hoax dan bernada kekerasan di dunia maya.

Klik ini untuk video full di youtube

Hari pertama sarasehan, panitia memulainya dengan diskusi yang dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dihadiri oleh Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Drs Hamidin, Anggota dewan press, bg Nezar Patria dan Ketua Komunitas anti Hoax Indonesia, bang Septiaji. Diskusi sesi kedua diisi oleh Kasubid Pengawasan dan Kontra Propaganda, Bapak Letkol Pas. Drs. Sujatmiko.

Salah satu poin penting yang menjadi titik pembahasan dari kedua sesi itu adalah dari arah mana saja hoax datang. Setidaknya ada empat poin arah datang dan berkembangnya hoax, yakni media cetak, media sosial, tv dan media online. Di antara empat itu, media sosial dan media online adalah lingkaran yang paling sering mendatangkan hoax.

Saya mengatakannya wajar jika kedua platform ini berhasil menyaring pemirsa paling banyak. Laporan Tetra Pak Index pada tahun 2017 mencatat ada 132 juta jiwa pengguna internter di Indonesia dan 40%nya adalah pengguna media sosial. 

Lantas, hal apa yang bisa kita lakukan untuk membendung penyebaran konteks yang tidak jelas kebenarannya itu?

Pertama, kenali situs yang menyediakan berita. Catat track record laman tersebut. Salah satu laman kredibel anti hoax seperti www.aulaandika.com,hehehehe dan  jalandamai.org miliknya BNPT dan lain-lain.

Kedua, tabayyun sebelum menyebarkan berita. Jika kamu mendapati suatu berita, ada baiknya untuk mentabayyun atau melakukan cek & ricek terlebih dahulu ke situs lainnya. Akhir ini, terutama kala pemilik media terjun ke dunia politik, acap kali media mereka tidak --lagi-- menyediakan berita yang menyehatkan publik. Berita yang mereka muat semata-mata untuk keperluan partai semata. Memang disayangkan sih, masyarakat jadi korban, tapi apa boleh buat.

Ketiga, tanya pada diri sendiri apakah berita yang anda baca itu cukup untuk diketahui oleh anda atau memang sangat perlu untuk disebar luaskan. Kalau memang cukup untuk dikonsumsi oleh diri sendiri yaudah, gak perlu disebar. Tapi kalau memang membawa manfaat untuk orang lain, sila disebar.

Tiga hal di atas, hanya salah satu dari sekian banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sarasehan bersama BNPT di Yogyakarta, lalu. Sebagai generasi muda dan duta damai provinsi Aceh dan duta damai BNPT. Saya bahagia diberi kesempatan belajar bersama di Alana Convention Center, Yogyakarta ini. Semoga, akan ada lagi events national and international bagi kami pegiat dunia maya BNPT ini. Mungkin akan di bawa ke Afganistan, Belanda dan Amerika mungkin oleh BNPT untuk bisa belajar banyak lagi. Insya Allah saya gak akan menolaknya. kok. Hehehehe

Kamis, 14 Desember 2017

How to write a good personal statement for exchange student program



Personal statement bukan lah sesuatu yang baru bagi scholarship hunters. Ia surat sakti yang mampu menghipnotis pembaca untuk memilih kamu. Personal statement bisa digunakan untuk banyak hal, seperti pendaftaran beasiswa, kampus dan atau kerja. Nah, kali ini saya akan mencoba membahas personal statement untuk beasiswa pertukaran mahasiswa.

Apa itu  personal statement? 

Personal statement (PS) adalah sebuah tulisan yang mendeskripsikan diri secara naratif. PS menjadi kunci utama untuk membuka gerbang ketertarikan bagi mereka yang membacanya. Baik oleh pemberi beasiswa, profesor di kampus tujuan dan atau atasan di tempat kerja.

Kenapa PS sangat penting?

PS menjadi salah satu bagian terpenting dari CV. PS memberikan kita kesempatan untuk memberikan gambaran yang jelas akan kekuatan dna motivasi kita dalam mendaftar sebuah program. Mengingat calon pemberi beasiswa belum pernah bertemu apalagi mengetahui seluk beluk kehidupan kita. Jadinya PS menjadi tongkat magic bagi setiap hunters. 

Hal apa saja yang harus di muat di PS?

Berdasarkan pengalaman yang ada dan pendapat para ahli. PS yang baik adalah PS yang menjawab pertanyaan di bawah ini:
  1. Siapa kamu?
  2. Apa yang sudah kamu lakukan, dan
  3. Apa yang akan kamu lakukan di masa yang akan datang?
Berikut ini saya lampirkan personal statement yang saya tulis kala mendaftar beasiswa Erasmus Mundus dengan negara tujuan Swedia.

Paragraph 1.

Saya menjelaskan bahwa sudah mengetahui program ini sejak beberapa tahun silam. Kemudian saya jabarkan, alasan utama saya tertarik dengan program ini. Yaa, di sini coba lah untuk memuji program dan negara yang akan di kunjungi. 

I am writing to you in order to express my motivation to join with …. 

Atau bisa juga pendahuluan di mulai qoute menarik dari para ahli. 
Seperti 


"Education is the best powerful weapon in the world: Nelson mandela" This is one of my best proverb that I follow into achieving my goals....


Paragraph 2.

Saya menjelaskan latar belakang yang relevan dengan program. Di sini saya memulai menjelaskan tentang pengalaman  mengajar di pesantren disertai akan apa yang saya ajari serta target yang ingin dicapai. Selain itu, saya coba uraikan pengalaman sebagai asisten lab dan menyebutkan pelajaran yang berhasil saya pelajari.

I have gained experiences in education from several activities, both in and outside  the….

Paragraph 3.

Saya kembali menyebutkan keunggulan system pendidikan di negara tujuan dan apa yang masih kurang di negara asal. Serta yang saya dapatkan jika memiliki kesempatan belajar ke sana.

While in Indonesia education still refers to learning instruction and examinations, education in (negara tujuan) tends to focus…..

Paragraph 4.
 Saya menyatakan dengan jelas alasan memilih universitas yang di tuju. Agar paragraph ini lebih indah, saya menyarankan agar melakukan penelitian kecil akan kelebihan-kelebihan yang tersedia di kampus tujuan. Misal, tentang laboratorium, staff teaching, fasilitas yang ditawarkan dan lain-lain.

 I have chosen  university at least for two main reason……

Paragraph 5.

Saya menyebutkan mata kuliah yang ingin saya pelajari. Salah satu keuntungan menulis ini adalah bahwa kita sudah benar tau akan apa yang akan kita pelajari. Dan si professor yang membaca pun akan …. Bahwa bagus ni anak, ternyata dia sudah punya modal untuk belajar di sini.


If I am accepted to join with this program, I would like to study about…


Paragraph 6 dan 7

Apa yang akan saya lakukan selama dan sesudah program menjadi pilihan. Dengan menyebutkan ini, lagi-lagi kita menyatakan bahwa sudah punya rencana yang jelas.



 During the program, I would like to…… 
 and  After completing the program, I would like to….



Paragraph 8.

Kalimat bernada belas kasihan saya utarakan di sini. Bahwa saya sangat mengharapkan bisa di terima. 
 Here I hope to get this golden opportunity. Considering my ....

 I can ensure you that, I would be...





Klik ini untuk full personal statement yang saya gunakan saat apply beasiswa Erasmus Mundus under Expert Sustain. 


Senin, 16 Oktober 2017

A man behind of #AyokeAcehBesar



Tak pernah terpikirkan sebelumnya, saya akan hadir di dunia duta. Betapa tidak, masyarakat masih terlalu sering menghujat dan menghardik segala yang berlabel dengan duta. Sebut saja, kala salah seorang, yang mengakunya, wartawan sebuah media online dengan gamblangnya menyebutkan bahwa duta itu tak lebih daripada cuma benda pajangan berselempang semata tanpa ada aksi nyata.
Jujur saja, saya sangat sakit hati kala membaca berita yang di forward oleh teman ke dalam group itu. Si wartawan ini saya kenal dengan baik kepribadiaannya. Tapi saya tidak menyangka bahwa ia akan menulis berita semurah itu.

Tahun 2014 adalah awal saya terjun di dunia penuh glamour ini. Diangkatnya sebagai Duta Promosi Pariwisata kab Wakatobi, Sulawesi Tenggara, oleh Bapak Bupati Ir Hugua. Memberi saya sejumlah pengetahuan baru bahwa kolaborasi setiap insan adalah kunci utama berhasilnya sebuah promosi wisata.

Selempang Duta Wisata Wakatobi, adalah selempang duta pertama yang saya miliki. Sehingga sepulang dari Wakatobi, akhir Mei. Saya memberanikan diri mendaftar Raja Baca Provinsi Aceh 2014. Ceritanya lengkap tentang Raja Baca Aceh 2014 ada di sini.

Selang setahun menjalankan amanah sebagai Raja Baca Aceh 2014. Di pertengahan 2015, bermodal ajakan teman lantas kembali saya mendaftar pemilihan Agam Inong Aceh Besar. Awalnya saya tidak mau mendaftar pemilihan ini. Dengan alasan bahwa saya tidak mumpuni di duta-duta, meskipun sudah dua selempang duta saya dapatkan. Tapi akhirnya, tiga jam sebelum deadline pengembalian berkas. Saya lantas berpikir dengan tajam. "Aku selama ini sedang mempromosikan pariwisata orang lain dengan sangat baik dan gencar. Di berbagai kesempatan, lokal, nasional dan internasional ajakan untuk melihat indahnya dunia bawah air Wakatobi tak pernah luput dari bahan pembicaraanku padahal aku bulan putra daerah itu. Tapi, apa yang sudah aku berikan untuk Aceh Besar sebagai tanah kelahiranku? " munculnya pertanyaan ini menjadi modal terbesarku untuk segera mengisi dan menyerahkan berkas pendaftaran kepada panitia di Asrama Mahasiswa Aceh Besar di Lamnyong, Darussalam.

Pagelaran pemilihan Duta Wisata Aceh Besar 2015, kala itu di mulai. Serangkaian proses seperti tes tertulis, tes wawancara tahap satu dengan baik saya ikuti. Hingga kemudian panitia mengumumkan nama-nama yang lolos ke delapan besar dan Aula Andika Fikrullah Albalad terpampang dengan baik kala itu.

Jadilah saya kembali mengikuti sesi karantina yang diisi dengan serangkaian kelas, seperti beauty class, wawancara bersama juri profesional, pemotretan hingga sampailah pada malam puncak penobatan.

Sehari sebelum malam puncak niat dan semangat saya untuk menuntaskan serangkaian acara ini tumbang. Secara sepihak saya sampaikan kepada ka Oja, yang saat itu dipasangkan dengan saya bahwa saya tidak bisa hadir di malam penobatan. Kepada ka Oja, kala itu saya sampaikan bahwa alasannya karena saya tidak bisa ada halangan. Tapi sejujurnya alasan utama saya tidak mau hadir di malam penobatan tidak lain karena saya tidak memiliki sejumlah uang untuk menyewa baju adat Aceh. Hemat saya, pemenang Duta Wisata sudah ada. Lantas jika saya harus menyewa baju dan perlengkapan untuk malam grand final lantas siapa yang akan membayarnya. Adapun uang beasiswa bidikmisi belum akan cair dalam waktu dekat. Menyampaikan ke keluarga tentu akan mengalami kebuntuan. Utang sama teman, bukan solusi. Sehingga kemudian saya coba menyampaikan hal ini kepada Wakil Rektor III Univ Syiah Kuala tapi tidak ada pencerahan yang saya dapatkan. Dalam diskusi via wa itu, saya hanya menyampaikan bahwa saya kemungkinan tidak akan meneruskan perjuangan saya di malam final tanpa menyebutkan alasan utama itu. Dan beliau hanya menyayangkan hal itu. Awalnya saya berharap bahwa beliau akan menanyakan why, but it was not happended.

Dengan segala pertimbangan lain, seperti kacaunya koreografi tanpa kehadiran saya, gagalnya ka Oja untuk presentasi, dan malunya panitia karena tidak lengkap peserta dan alasan lainnya. Akhirnya dengan setengah hati. Sayapun mencoba menyewa baju adat Aceh super murah untuk bisa hadir di malam itu.

For your information, kawan. Baju yang saya dapatkan malam itu tidak lebih dari 100.000 ribu. Jauh dibandingkan teman-teman, yang menyewa hampir mendekati angka 1 juta..

Malam penobatan


Tampilan koreografi dan pengenalan masing-masing peserta adalah dua acara sebelum pemanggilan lima besar. Beberapa menit setelah pengenalan peserta, master of ceremony (mc) memanggil lima besar agam dan inong untuk menjawab pertanyaan dari juri secara langsung di atas panggung. Jarak saya berdiri dengan mc berdiri malam itu tidaklah jauh, sehingga secara tidak sengaja saya melihat kertas yang dipegang oleh mc. Di urutan ke dua, saya melihat nama yang agak panjang dibandingkan dengan yang lainnya. " kataknya nama ku ini" cetus saya dalam hati.

Eh, benar saja. Ternyata posisi ke dua lima besar Duta Wisata Aceh Besar 2015 adalah saya. Ini menandakan bahwa sebentar lagi saya harus siap untuk menjawab juri professional secara langsung. Di depan ratusan orang yang hadir di gedung BPKP LUBUK, Aceh Besar.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh dewan juri yang kala itu diberikan oleh Ampon Man, adalah " apa yang akan kamu lakukan sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2015 dalam memajukan dunia wisata? "

Tanpa diberi waktu untuk berpikir, saya lantas menjawab " Assalamualaikum wr wb, terima kasih untuk pertanyaan bapak. Yang akan saya lakukan jika saya terpilih sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2017 adalah saya akan mengajak seluruh komunitas yang ada di Aceh Besar dan Banda Aceh untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam memajukan dunia pariwisata yang ada di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Terima kasih" tutup saya.

Kala menyelesaikan pertanyaan ini, saya masih terbayang dengan baik muka hadirin yang hadir di malam itu. Semuanya termangun dan setengah sadar hingga akhirnya gemuruh tepuk tangan dan teriakan "mantap, best, keren" menggelegar seantero ruangan.

Tak lama setelah sesi tanya jawab lima besar berlangsung adalah momen pengumuman masuk ke tahap tiga besar. Saya yang masih di back stage kala itu tertegun setengah sadar. Kala Aula Andika Fikrullah Albalad kembali dipanggil oleh mc sebagai nominator tiga besar Duta Wisata Aceh Besar. Saking tidak percayanya, saya terdiam untuk sekian menit hingga kemudian saya ditegur oleh panitia bahwa nama itu adalah nama saya.


Majulah saya ke stage depan dengan muka yang masih belum sadar. Hal ini kembali berlanjut saat mc mengumumkan Juara Tiga Duta Wisata Aceh Besar yang kala itu diberikan kepada Izwar. Bukan nama saya yang dipanggil.

Itu artinya kini posisi saya berada di dua besar. What a great expectation. Hanya ada saya dan Akbar yang belum jelas selempang mana yang akan tersemat di sisi kanan bahu kami. " Dan Duta Wisata Aceh Besar 2015 diberikan kepadaaaaaa" kala suara mc mengatakan hal ini saya sudah berfirasat bahwa ia akan menduduki bahu si Adoe Meriza Akbar. Pria kelahiran Aceh Besar yang tinggal dan besar di Sigli, Pidie.

Tersematnya selempang itu menandakan bahwa saya terpilih sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015. Tidak pernah terpikir bahwa posisi ini ada di pundak saya. Saya memprediksi bahwa posisi tiga besar itu akan diduduki oleh Meriza Akbar, Agus dan Lupa namanya. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Terpilihnya saya sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015 tidak lantas menjadikan saya malas. As the second winner, saya kemudian memikirkan bahwa ide dan gagasan saya haruslah menjadi cikal bakal awal terdongkraknya dunia pariwisata di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Bermodal itu, tanpa pikir panjang kemudian saya memosting sebuah foto di akun instagram dengan menyertakan hastag #AyokeAcehBesar.

Hastag ini saya munculkan pertama kali sebagai program literasi media social pertama. Alhamdulillah, tim duta rayeuk tempat perkumpulan para duta wisata Aceh Besar setuju dengan langkah ini. Hingga kemudian, saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini sebagai ajang promosi dunia wisata di Aceh Besar.

Kepada Akbar, selaku pemenang utama saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini untuk keperluan kamu di berbagai kesempatan. Baik itu di ajang PDWA dan lain-lain. Alhamdulillah, kehadiran #AyokeAcehBesar kala itu membawa berkah bagi semuanya. Akbar perwakilan Aceh Besar kembali terpilih sebagai Juara 1 Agam Aceh. Saya rasa, hastag #AyokeAcehBesar menjadi cikal bakal akan lahirnya sejumlah hastag bernada yang sama seperti #AyokeAcehlagi jargon Akbar saat mengikuti PDWI di Jakarta. Dan munculnya sejumlah hastag lainnya seperti #AyokeAcehSelatan, #AyokeAceh, #AyokeAcehSingkil, #AyokeAcehsabang, #AyokeAcehjaya, #AyokeAcehBarat, dan lain sebagainya.

Lastly, saya tidak mau mengatakan bahwa pencapaian #AyokeAcehBesar adalah murni dari saya semata, meskipun pada kenyataan memang demikian heheheh, tapi saya tetap ingin menyampaikan bahwa #AyokeAcehBesar lahir karena adanya support, masukan dan bimbingan dari setiap mereka yang bernaung baik di bawah @dutarayeuk maupun di luar itu.

Semoga saja, tanpa menanggalkan culture Aceh sebagai basis syariah, wisata di Aceh semakin baik ke depannya. Aaamiin.

AyokeAcehBesar, surganya wisata di Aceh

Selasa, 03 Oktober 2017

Bikun Coffee, Kedai Kopi klasik ala Universitas Indonesia. Unsyiah juga bisa kok!



Pagi menjelang siang tadi, saya ke Universitas Indonesia via Stasiun Manggarai. Awalnya ke Stasiun Cikini, tapi berhubung ada kereta anjlok jadinya saya terpaksa naik transportasi online lagi untuk sampai di Stasiun Manggarai.

Kurang lebih 20 menit, kereta dengan tujuan Bogor yang saya tumpangi ini meluncur dengan mulus dan mendarat dengan nyaman di stasiun Universitas Indonesia. Sayapun bergegas turun menuju ke masjid Ukhuwah Islamiyah (UI)  Univ Indonesia (UI) untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur. Saat kaki melangkah ke masjid UI kuadrat ini, pikiran saya terbawa ke empat tahun silam. " Gak banyak perubahan yaaaa" gumam saya dalam hati. Kau masih seperti dulu, indah dan menawan. Tambah saya.

Pustaka, masih berdiri tegak di kanan gerbang masuk ke masjid. Wudhu wanita juga masih setia di sampingnya. Adapun tempat wudhu pria masih tetap di posisi dulu, kiri gerbang utama. Sempurna menunaikan wudhu, sayapun melangkah ke dalam bangunan penuh keberkahan ini. " Silakan Pak" ucap dua orang mahasiswa yang dari perawakannya sepertinya mahasiswa angkatan oertama ini. " boleh tolong geser ke kiri lagi, supaya sempurna" ucap saya. " Allahu Akbar... Assalamu'alaikum, assalamualaikum. Alfatihah" tutupku dan orang di belakang saya itu pun komat kamit dan menghilang.

Tujuan saya ke UI kali ini, selain mengobati rindu akan kenangan empat tahun silam. Juga pengen melihat suasana UI setelah tak lagi dipimpin oleh pak rektor. Selanjutnya, saya pun menuju ke perpustakaan utama UI yang terletak tepat di belakang masjid ini. Gak banyak perubahan juga.

Asyik menikmati suasana perpustakaan dan selesai mengerjakan list agenda yang harus dikerjakan di sini. Saya pun bergegas pulang, takut bila bikun dan kereta arah Cikini tidak ada lagi. Pemandangan berbeda justru datang saat saya pulang. Bikun Coffee, wah menarik ini. Saya pun kembali ke cafee dengan ikon bis ini. 

Saat melihat dengan jelas kedai ini, saya teringat pada kendaraan kebanggaan mahasiswa Aceh, yakni Robur. Seandainya, replika robur juga dibuat sedemikian rupa tentu akan menjadi warna tersendiri bagi warung coffee di Univ Syiah Kuala ini.

Berbicara tentang robur, dalam buku " The Public Transportation Stories" yang saya tulis dua tahun lalu. Saya mengusulkan agar kendaraan bersejarah ini tidak digeletak begitu saja di halaman biro rektorat. Tapi, wajib disediakan tempat khusus dan di awal tiap tahun ajaran baru, ia harus dikenalkan kepada para mahasiswa bagaiamana legendnya kendaraan itu. Sehingga, kenangan indah robur akan senantiasa menghiasi ranah akademik di univ kebanggaan rakyat Aceh ini.


Tapi, itu hanyalah wacana seorang anak ingusan di siang hari. Gumaman itu lepas dan hialng menelusuri tenggorokan serta berakhir ke tanah. Meskipun ide itu pernah saya sampaikan kepada petinggi kampus, rektorat via wakil rektor, tapi belum juga ada wacana yang mengarah ke sana. Secara pribadi, saya hanya menakutkan bahwa generasi muda Univ Syiah Kuala tak mengenal apa itu Robur dan bagaiamana sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan di Aceh. Padahal jika dilirik dengan tajam, robur telah melahirkan generasi emas untuk Aceh dan Indonesia..

Minggu, 10 September 2017

Tips and Trik sukses menjadi Raja Baca Provinsi Aceh: mulai pengumpulan berkas hingga wawancara


Ada banyak pertanyaan yang menghampiri saya, baik itu melalui telepon, sms, whatapps, facebook messenger, line, instagram dan twitter yang menanyakan pengalaman saya dalam mengikuti pemilihan Raja dan Ratu Baca provinsi Aceh, 2014 silam.
Postingan kali ini hanya akan menyajikan bagaiamana alur pemilihan Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh 2014 hingga hari penobatan saja.
Tiga tahun yang lalu, pengumuman pemilihan Raja dan Ratu Baca Aceh terpampang jelas di pagar Pustaka Wilayah, Lamnyong, Darussalam. Kala itu tertulis bahwa pendaftaran dibuka sampai tanggal 8 September, jika tidak salah saya yaa.

Proses seleksi di mulai dari seleksi berkas, tes tertulis dan wawancara.
Seleksi berkas terdiri dari;

1. Pengisian formulir, saat saya mengisi formulir ini panitia meminta untuk mencantumkan lima prestasi yang diungulkan (saya memulainya dengan prestasi sebagai Duta Promosi Pariwisata Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Representative Indonesia pada Nusantara Leadership Camp, Juara 1 MTQ Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Cab Syarhil Quran dan Peserta pada National Future Educator Conference). Tips dari saya di kolom ini adalah usahakan untuk mencantumkan prestasi yang sesuai dengan kapasitas seorang Raja atau Ratu Baca. Saya memilih mencantumkan prestasi duta di atas karena ini bukti bahwa saya sudah mumpuni di bidang ini tentu akan mudah dalam menjalankan peran sebagai raja jika terpilih nanti. Indonesia representative sebagai bukti pula bahwa saya memiliki koneksi yang baik di tingkat international. Adapun juara 1 MTQ sebagai bukti bahwa kemampuan public speaking saya sudah tidak dapat diragukan lagi.


                                    Baca juga : Tips menjadi raja baca provinsi Aceh 



Selain lima prestasi yang diunggulkan, panitia juga meminta kita mencantumkan lima organisasi dan jabatan. Saya tidak ingat dengan baik organisasi apa saja yang saya cantumkan kala itu. Tapi yang pasti organisasi yang saya cantumkan ke semuanya memiliki hubungan dengan kapasitas saya dalam menunjang performa sebagai Raja Baca Aceh.
Selain lima prestasi dan lima pengalaman organisasi, panitia juga meminta untuk mencantumkan lima buku terfavorit yang pernah dibaca. Nah, ini esensi yang paling penting. Kala itu, saya mencantumkan lima judul buku dari masing-masing genre. Pertama fiksi, non fiksi, politik, sosial dan pendidikan. 
Genre fiksi, saya mencantumkan Novel Ayat-Ayat Cintanya Kang Abik. Jatuhnya pilihan ke kang Abik dikarenakan novel ini sarat akan makna keislaman yang tentunya sangat cocok dengan culture masyarakat di Aceh. Selain itu nilai perjuangan dalam meraih pendidikan juga tak dapat dikesampingkan. Untuk genre non fiksi, saya memilih buku Produktif 24 Jam karya Abu Qa'qa Muhammad bin Shalih Nuri. Alasan saya memilih buku ini dikarenakan saya percaya bahwa muslim atau pribadi yang baik adalah dia yang bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Dalam bukunya Abu Qa'qa menjabarkan dengan baik bagaiamana mencapai hal itu. Genre politik, sosial dan pendidikan saya tidak ingat lagi judul-judul buku yang saya cantumkan. Kenapa saya memilih lima genre. Hal ini dikarenakan bahwa seorang Raja atau Ratu adalah iya yang melakoni semua genre. Bahan bacaannya tidak hanya tentang politik, atau bahwa novel semata. Tapi ia mampu mengcover semua genre. Tentu sangat tidak indah, jika raja atau ratu hanya terpaku pada bahan bacaan tata cara membuat kue dengan enak. Bagaiamana jadinya ketika ia harus hadir dalam sebuah forum sedangkan bahan bacaannya hanya tentang tataboga saja. Tidak elokkan. Saran saya saat mengisi kolom ini. Isilah sesuai dengan jumlah yang diminta panitia jangan melebih-lebihkan. 2014 lalu, ada loh peserta yang menambahkan empat kertas a4 lain untuk menyebutkan bahwa dia sudah membaca banyak sekali buku. Saya NO kan untuk hal seperti ini. Ada juga pengalaman lucu lainnya, beberapa peserta malah melampirkan sertifikat prestasi yang ia miliki. Padahal panitia tidak meminta hal ini. Jadi, jangan ngelakuin sesuatu yang tidak diminta yaaa. Ini bukti kuat bahwa kamu tidak memahami dengan baik intruski yang diberikan oleh panitia.



2. Tes Tulis, tahapan seleksi selanjutnya adalah tes tulis. Selang beberapa hari dari penutupan pendaftaran, panitia mengumumkan nama-nama yang masuk ke tahapan selanjutnya yakni tes tulis. Kala itu, tertulis berlangsung mulai pukul 08:00-10:00 WIB. Peserta dibagi ke dalam dua ruangan. Saya yang hadir 20 menit dari jadwal yang telah ditentukan mendapat nomor urut tes 01 dan berada di ruang baca dewasa 1 pula. Sebelum tes di mulai, panitia membagikan kertas double polio dan satu lembar A4 yang berisikan pertanyaan. Panitia menyebutkan bahwa peserta akan disilakan membuka lembar pertanyaan dan memulai menjawab kala ada instruksi dari mereka. Saya yang duduk tepat di samping tembok tengah ruang dewasa 1 itu hanya tersenyum santai sambil memperhatikan cicak yang bernari di dinding ruangan. Beberapa peserta saya lihat sudah mulai membaca list pertanyaan itu meskipun sudah ada larangan dari panitia. Cicak di dinding menyapa saya dan memberitahu agar tetap mengikuti alur yang diberikan panitia. "Jarang curang Aula!" bentak si cicak. "Sesuatu yang dimulai dengan tidak baik maka hasilnya akan tidak baik pula" imbuhnya lagi. "Siap Cak, thank you" jawabku sambil melemparkan senyum genit kepadanya.

Tak sampai lima menit, panita dari bangku paling depan memberi instruksi bahwa ujian tes tulis akan dilaksanakan selama 120 menit.

Truuuk truuuk, goresan pena mulai bergoyang di atas kertas. Adukannya membuat saya terlena bahagia. Saya masih setia memperhatikan ke mana cicak itu pergi hingga kemudian tak terasa ternyata sudah sepuluh menit saya duduk tanpa ada aksi. Kertas soal yang terletak di atas meja saya buka perlahan sambil berharap bahwa jawabannya juga sudah tersedia di sana. Satu, dua dan tiga. Astagfirullah ya Allah, soalnya bukan choise melainkan esai. Ada sepuluh soal dan masing-masing soal terdiri dari dua atau tiga anak. Setengah menghitung, ada 20 soal yang harus saya jawab di atas kertas double polio ini. "Selamat malam" kataku. Sambil terus berharap si cicak kembali dengan membawa kertas double polio berisikan jawaban mata saya mulai menelusiri satu per satu pertanyaan yang tersedia. Butuh waktu hampir lima menit untuk menganalisa tiap soalnya. Sesudah saya rasa paham dan tau harus saya apakan ini soal, baru kemudian pena saya goyangkan ke atas kertas.

Di antara sekian banyak soal. Ada empat soal yang masih saya ingat sampai sekarang. 

            Pertama, jelaskan buku yang pernah kamu baca. Jawaban saya untuk pertanyaan ini adalah saya mendeskripsikan buku Produktif 24 jam karya Abu Qa'qa Muhammad bin Shalih Nuri. Saya menyebutkan sisi kelebihan dan kekurangan dari buku ini, termasuk menyebutkan pengarang, nama kota, tahun terbit dan nama asli dari buku itu. Uraian untuk pertanyaan ini memakan hampir setengah halaman kertas.

           Pertanyaan ke dua yang masih saya ingat adalah, apa yang akan kamu lakukan jika terpilih sebagai raja baca. Pertanyaan ini saya rasa sangat menantang. Jawaban saya tidak muluk-muluk yakni hanya ingin meningkatkan minat baca masyarakat Aceh khususnya mahasiswa melalui talkshow dan program raja goes to campus serta memanfaatkan media sosial untuk berkampanye.

         Ke tiga adalah bagaiamana caranya agar pengunjung perpustakaan wilayah Aceh lebih ramai. Saya sempat terdiam beberapa saat untuk pertanyaan ini. Kelihatan mudah namun sarat akan jebakan saya rasa. Sehingga saya memilih menghentikan goyangan pena yang masih sangat bersemangat itu. Sambil merebahkan punggung ke kursi, saya memperhatikan kembali cicak. Mata saya menjelajah ke semua sudut ruangan, namun kehadiran cicak itu tidak juga muncul. Tapi kemudian saya menemukan jawaban bahwa agar perpustakaan wilayah Aceh yang bernaung di bawah Badan Arsip dan Perpustaakn Wilayah Aceh ini menjadi tongkrongan favorit masyarakat, hal yang harus diperbaiki adlaah: manajemen organisasi yakni petugas harus lebih ramah terhadap pengunjung. Salam, senyum dan sapa harus sedini mungkin diterapkan, kemudian cat dinding ruangan harus lebih eye catching, koneksi internet harus tersedia di semua ruangan sehingga pengunjung lebih leluarsa berselancar di dunia maya, pendingin ruangan harus ditambah. Suhu ruangan yang tinggi tidak membuat rasa nyaman saat sedang membaca. Selanjutnya letak rak buku harus lebih rapi dan tidak dibiarkan tergeletak begitu saja. Tapi pernah dibersihkan debunya. Dan yang terakhir, mengingat letak perpustakaan berada di kawasan mahasiswa maka seyogyanya jam kunjung harus diubah, baiknya tersedianya jam kunjung malam. Selesai mengerjakan tes tulis yang sangat menguras tenaga, pikiran dan keringat. Saya yang saat itu duduk berpapasan dengan ka Ainul Mardhiah mengumpulkan lembar jawaban paling akhir. Saya tidak terkecoh oleh mereka yang terlebih dahulu mengumpulkan, bagi saya esensi jawaban lebih utama daripada mengumpulkannya. Jadilah saya menikmati kesendirian di dalam ruangan yang tak ber-ac itu.

3. Wawancara. Selesai mengumpulkan lembar jawaban. Panitia memberikan pengumuman bahwa wawancara dipercepat dan nomor urut satu hingga 40 akan diwawancara hari ini. Sisanya besok, sebagaiamana terjadwal. Saya yang bernomor urut satu, mengucapkan alhamdulillah. Sehari siap semua, sehingga besok bisa saya gunakan untuk kegiatan lainnya. Dibalik kesenangan itu, timbul rasa khawatir. Dresscode yang saya gunakan sangat tidak siap untuk sebuah proses wawancara. Tidak ada kemeja, jas apalagi sepatu fantofel saat itu. Hanya kaos oblong bertuliskan Bidikmisi Unsyiah. Ah, sudahlah. Wong saya ikut tahun ini tidak untuk menang melainkan untuk mengetahui seperti apa alur pemilihan dan insya Allah di 2015 saya akan memaksimalkan dan menjadi pemenang. Menunggu giliran masuk ke ruangan. Saya bercengkrama dengan beberapa peserta. Rerata dari mereka adalah pemuda yang baru pulang exchange student ke China, Amerika, Kanada, Eropa dan Australia. Orang hebat semua ini dan terpenting secara dresscode mereka sudah pada siap. Pengetahuan dan pengalaman mereka tentu tidak diragukan lagi. Sekilas saya juga memperhatikan tutur kata dan bahasa tubuh mereka. Berhubung saya belum pernah ke luar negeri, Jadi tidak salah belajar secara gratis dari mereka semua.

Pagi menjelang siang itu, ada tiga pos yang harus kami lalui. Pos pertama yang saya masuk saat itu di wawancarai oleh seorang laki-laki yang sudah berumur. Melihat uban di kepalanya saya taksir umur beliau tak kurang dari 70 tahun. Saat bertemu, saya tidak lupa berjabat tangan sambil mengucapkan salam dan meminta izin untuk duduk.

Di awal, beliau meminta saya untuk menyebutkan nama sembari beliau mengecek formulir pendaftaran. " Aula Andika Fikrullah Albalad, " sapanya sambil membaca dengan saksama tulisan yang saya isi di form itu.

" Tolong jelaskan motivasi kamu ikut ini, " pertanyaan ini saya jawab bahwa "saya ingin meningkatkan kapasitas diri dan lingkungan untuk lebih mencintai dunia literasi sebagai bagian dari hidupnya. Karena maju tidaknya suatu bangsa sangat ditentukan oleh kebiasaan masyarakatnya dan membaca adalah salah satu indikator bangsa yang maju," jelas saya.

Pertanyaan ke dua yang masih saya ingat adalah beliau mempertegas bahwa saya pernah membaca Novel Ayat Ayat Cinta oleh kang Abik, kemudian beliau meminta saya untuk menjelaskan alur cerita sembari menyebutkan peran dan karakter dari masing-masing tokoh utama dan pemeran. Sontak, pertanyaan ini membuat saya sedikit terenyuh. Betapa tidak, novel ini terakhir saya baca saat masih di kelas 2 MAN. Itu artinya sudah lebih dari empat tahun lamanya. Dengan sedikit kekhawatiran tidak bisa menjelaskan dengan baik, saya mencoba menjawab dengan menjelaskan siapa pengarang novel, dan karakter tiap tokohnya. Di penutup untuk pertanyaan ini saya menyebutkan bahwa saya sudah lama membaca novel ini sehingga maaf bila ada lupanya. Pintaku dengan polos.

Hahaha, satu pertanyaan yang bikin saya nyesek lagi adalah beliau meminta saya menjelaskan fungsi dari sebuah perpustakaan dalam bahasa asing. Kebelet saya jadinya. Tidak pernah terpikirkan bahwa akan ada pertanyaan seperti ini. Tanpa pikir panjang, langsung saya tancap gas pol. Berceramah ria menjelaskan fungsi dan manfaat sebuah perpustakaan. " oke stop, sudah cukup dengan saya silakan. Keluar." kata beliau mengakhiri sesi. " terima kasih, pak. Saya izin dulu. Assalamu'alaikum. " dan saya pun bergegas menuju pintu. 

Di luar ruangan, peserta yang masih menunggu giliran pada menghampiri saya dan menanyakan apa saja butir pertanyaan dan kenapa bisa lama sekali. "Lama? " tanya saya keheranan. " iya, bg. 30 menit lebih. " kata mereka.

Di pos ke dua, saya bertemu dengan ibu ini. Di awal perbincangan saya diminta memperkenalkan diri. Belum ada satu pertanyaan yang terlontar, saya kemudian membaca dari gerak dan bahasa tubuhnya bahwa beliau adalah pecinta tanaman bonsai. Sebagai bonsai lovers, tentunya saya tidak melewatkan begitu saja momen ini. Saya langsung mengalihkan pembicaraan kami tentang tanaman yang mahal ini. Hingga beliau mengatakan " nanti tolong bawakan bonsai mangga yang kamu bibiti itu ya." pintanya." "Wah, saya belum menanyakan pertanyaan terkait acara ini. Apa motivasi kamu, Aula? " ketika beliau menyebutkan nama saya dalam pertanyaannya itu sudah menandakan bahwa saya sudah berhasil menyaring keberpihakannya. Sudah cukup saya rasa. Psikologinya telah berhasil saya pengaruhi dan itu sudah lebih dari cukup. Kemudian, saya pun menjelaskan motivasi saya ikut acara itu. Dengan gamblangnya saya jawab bahwa hadiah adalah incaran saya. 5juta di bayar kas untuk seorang mahasiswa adalah harga yang besar kata saya kala itu. 

Keluar dari ruangan beliau ini, selanjutnya saya di pertemukan dengan ibu ini. Tatapannya ke saya kala itu rada sinis dan sarat akan negatif thinking. Hal itu begitu mudah saya ketahui, saat saya menola untuk menjabat tangannya. Perpindahan alis mata, posisi duduk dan raut wajahnya begitu mewakili bahwa ibu ini tidak tertarik pada saya. " please introduce yourself." mintanya. " thank you, ibu. My name is Aula Andika Fikrullah Albalad......, . " saya tidak ingat apa saja pertanyaan yang diajukan oleh ibu yang pada akhirnya saya ketahui bernama ka Tengku Nurul, ini. Selesai menjawab semua pertanyaan, saya pun meminta izin keluar tanpa berjabat tangan dengannya.

Tahapan seleksi sudah berjalan dengan baik. Saya menikmati setiap detailnya sambil menyatakan bahwa tahun saya akan ikut lagi dan menang. 

Beberapa hari kemudian. Saya yang baru saja mandi menerima sebuah panggilan masuk. Dan dari perbincangan singkat itu saya dapati bahwa sebuah kabar bahagia bahwa saya di minta hadir ke rapat persiapan hari kunjungan perpustakaan yang sekaligus bertepatan dengan roadshow dari perpustakaan Nasional Republik Indoensia yang dihadiri Bintang tamu utama yakni aktris Astrid Ivo. Kehadiran saya dalam rapat itu bukan dalam kapasitas sebagai panitia melainkan saya telah dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menyandang status sebagai Raja Baca Provinsi Aceh 2014 setelah menyisihkan 94 peserta terbaik lainnya. Alhamdulillah, ya Allah.

Untuk kalian yang saat ini sedang berjuang untuk memperoleh gelar Raja atau Ratu Baca Provinsi Aceh, saran saya hanya luruskan niat terlebih dahulu. Jangan pernah berlaku curang dalam tiap prosesnya. Bubuhkan jawaban dengan baik, jika diminta isi maksimal lima, maka isi lima saja. Jangan menambahkan dua atau bahkan halaman lainnya. Untuk tahapan tes tulis, baca sebanyak mungkin berita teraktual saat ini. Jika ada case study, jangan berceramah ria saja tapi ulurkan solusi yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan persoalan itu. Tidak perlu wow aksinya, kecil tapi solutif dan mudah diaplikasikan. Tahapan wawancara, gunakan dresscode sebagai mungkin. Usahakan menggunakan kemeja, jas dan sepatu fantofel. Jangan sekali-kali menggunakan kaos polo seperti yang saya gunakan kala itu. Bahaya mengancam!Perhatikan lawan bicara dalam hal ini si pewawancara. Selain penampilan, posisi dudukmu juga tak boleh nyeleneh alias malas. Be ready dengan duduk tegap dan penuh senyum. Gunakan semua anggota badan untuk menjelaskan dan memperkuat argumenmu. Menggunakan anggota badan di sini, tidak untuk kekerasan yaaa. Jangan sampai, karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik lantas kamu menggunakan menyapa si pewawancara dengan baik kakimu. NO untuk hal itu. Apa pun itu, adab di atas segalanya.

Saya rasa cukup ulasan ini. Semoga membantu kamu semua yang sedang mempersiapkan diri merebut mahkota Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh. Saya tunggu nama dan foto kamu -- terpajang di deretan Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh -- di ruang pak Kepala Dinas.

Semangat dan semoga Allah mudahkan segala urusan.