Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Education is not just a tool, but it is a complex system to build a better life.
Aula Andika Fikrullah Albalad
Sharing by writing and speaking
I do believe, life isnt about myselfbut its all about us
The world is a book and those who do not travel read only one page
Augustine of Hippo
Go travel.
You will know who you are

Monday, 16 October 2017

A man behind of #AyokeAcehBesar

Aula Andika Fikrullah Albalad


Tak pernah terpikirkan sebelumnya, saya akan hadir di dunia duta. Betapa tidak, masyarakat masih terlalu sering menghujat dan menghardik segala yang berlabel dengan duta. Sebut saja, kala salah seorang, yang mengakunya, wartawan sebuah media online dengan gamblangnya menyebutkan bahwa duta itu tak lebih daripada cuma benda pajangan berselempang semata tanpa ada aksi nyata.
Jujur saja, saya sangat sakit hati kala membaca berita yang di forward oleh teman ke dalam group itu. Si wartawan ini saya kenal dengan baik kepribadiaannya. Tapi saya tidak menyangka bahwa ia akan menulis berita semurah itu.

Tahun 2014 adalah awal saya terjun di dunia penuh glamour ini. Diangkatnya sebagai Duta Promosi Pariwisata kab Wakatobi, Sulawesi Tenggara, oleh Bapak Bupati Ir Hugua. Memberi saya sejumlah pengetahuan baru bahwa kolaborasi setiap insan adalah kunci utama berhasilnya sebuah promosi wisata.

Selempang Duta Wisata Wakatobi, adalah selempang duta pertama yang saya miliki. Sehingga sepulang dari Wakatobi, akhir Mei. Saya memberanikan diri mendaftar Raja Baca Provinsi Aceh 2014. Ceritanya lengkap tentang Raja Baca Aceh 2014 ada di sini.

Selang setahun menjalankan amanah sebagai Raja Baca Aceh 2014. Di pertengahan 2015, bermodal ajakan teman lantas kembali saya mendaftar pemilihan Agam Inong Aceh Besar. Awalnya saya tidak mau mendaftar pemilihan ini. Dengan alasan bahwa saya tidak mumpuni di duta-duta, meskipun sudah dua selempang duta saya dapatkan. Tapi akhirnya, tiga jam sebelum deadline pengembalian berkas. Saya lantas berpikir dengan tajam. "Aku selama ini sedang mempromosikan pariwisata orang lain dengan sangat baik dan gencar. Di berbagai kesempatan, lokal, nasional dan internasional ajakan untuk melihat indahnya dunia bawah air Wakatobi tak pernah luput dari bahan pembicaraanku padahal aku bulan putra daerah itu. Tapi, apa yang sudah aku berikan untuk Aceh Besar sebagai tanah kelahiranku? " munculnya pertanyaan ini menjadi modal terbesarku untuk segera mengisi dan menyerahkan berkas pendaftaran kepada panitia di Asrama Mahasiswa Aceh Besar di Lamnyong, Darussalam.

Pagelaran pemilihan Duta Wisata Aceh Besar 2015, kala itu di mulai. Serangkaian proses seperti tes tertulis, tes wawancara tahap satu dengan baik saya ikuti. Hingga kemudian panitia mengumumkan nama-nama yang lolos ke delapan besar dan Aula Andika Fikrullah Albalad terpampang dengan baik kala itu.

Jadilah saya kembali mengikuti sesi karantina yang diisi dengan serangkaian kelas, seperti beauty class, wawancara bersama juri profesional, pemotretan hingga sampailah pada malam puncak penobatan.

Sehari sebelum malam puncak niat dan semangat saya untuk menuntaskan serangkaian acara ini tumbang. Secara sepihak saya sampaikan kepada ka Oja, yang saat itu dipasangkan dengan saya bahwa saya tidak bisa hadir di malam penobatan. Kepada ka Oja, kala itu saya sampaikan bahwa alasannya karena saya tidak bisa ada halangan. Tapi sejujurnya alasan utama saya tidak mau hadir di malam penobatan tidak lain karena saya tidak memiliki sejumlah uang untuk menyewa baju adat Aceh. Hemat saya, pemenang Duta Wisata sudah ada. Lantas jika saya harus menyewa baju dan perlengkapan untuk malam grand final lantas siapa yang akan membayarnya. Adapun uang beasiswa bidikmisi belum akan cair dalam waktu dekat. Menyampaikan ke keluarga tentu akan mengalami kebuntuan. Utang sama teman, bukan solusi. Sehingga kemudian saya coba menyampaikan hal ini kepada Wakil Rektor III Univ Syiah Kuala tapi tidak ada pencerahan yang saya dapatkan. Dalam diskusi via wa itu, saya hanya menyampaikan bahwa saya kemungkinan tidak akan meneruskan perjuangan saya di malam final tanpa menyebutkan alasan utama itu. Dan beliau hanya menyayangkan hal itu. Awalnya saya berharap bahwa beliau akan menanyakan why, but it was not happended.

Dengan segala pertimbangan lain, seperti kacaunya koreografi tanpa kehadiran saya, gagalnya ka Oja untuk presentasi, dan malunya panitia karena tidak lengkap peserta dan alasan lainnya. Akhirnya dengan setengah hati. Sayapun mencoba menyewa baju adat Aceh super murah untuk bisa hadir di malam itu.

For your information, kawan. Baju yang saya dapatkan malam itu tidak lebih dari 100.000 ribu. Jauh dibandingkan teman-teman, yang menyewa hampir mendekati angka 1 juta..

Malam penobatan


Tampilan koreografi dan pengenalan masing-masing peserta adalah dua acara sebelum pemanggilan lima besar. Beberapa menit setelah pengenalan peserta, master of ceremony (mc) memanggil lima besar agam dan inong untuk menjawab pertanyaan dari juri secara langsung di atas panggung. Jarak saya berdiri dengan mc berdiri malam itu tidaklah jauh, sehingga secara tidak sengaja saya melihat kertas yang dipegang oleh mc. Di urutan ke dua, saya melihat nama yang agak panjang dibandingkan dengan yang lainnya. " kataknya nama ku ini" cetus saya dalam hati.

Eh, benar saja. Ternyata posisi ke dua lima besar Duta Wisata Aceh Besar 2015 adalah saya. Ini menandakan bahwa sebentar lagi saya harus siap untuk menjawab juri professional secara langsung. Di depan ratusan orang yang hadir di gedung BPKP LUBUK, Aceh Besar.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh dewan juri yang kala itu diberikan oleh Ampon Man, adalah " apa yang akan kamu lakukan sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2015 dalam memajukan dunia wisata? "

Tanpa diberi waktu untuk berpikir, saya lantas menjawab " Assalamualaikum wr wb, terima kasih untuk pertanyaan bapak. Yang akan saya lakukan jika saya terpilih sebagai Duta Wisata Aceh Besar 2017 adalah saya akan mengajak seluruh komunitas yang ada di Aceh Besar dan Banda Aceh untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam memajukan dunia pariwisata yang ada di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Terima kasih" tutup saya.

Kala menyelesaikan pertanyaan ini, saya masih terbayang dengan baik muka hadirin yang hadir di malam itu. Semuanya termangun dan setengah sadar hingga akhirnya gemuruh tepuk tangan dan teriakan "mantap, best, keren" menggelegar seantero ruangan.

Tak lama setelah sesi tanya jawab lima besar berlangsung adalah momen pengumuman masuk ke tahap tiga besar. Saya yang masih di back stage kala itu tertegun setengah sadar. Kala Aula Andika Fikrullah Albalad kembali dipanggil oleh mc sebagai nominator tiga besar Duta Wisata Aceh Besar. Saking tidak percayanya, saya terdiam untuk sekian menit hingga kemudian saya ditegur oleh panitia bahwa nama itu adalah nama saya.


Majulah saya ke stage depan dengan muka yang masih belum sadar. Hal ini kembali berlanjut saat mc mengumumkan Juara Tiga Duta Wisata Aceh Besar yang kala itu diberikan kepada Izwar. Bukan nama saya yang dipanggil.

Itu artinya kini posisi saya berada di dua besar. What a great expectation. Hanya ada saya dan Akbar yang belum jelas selempang mana yang akan tersemat di sisi kanan bahu kami. " Dan Duta Wisata Aceh Besar 2015 diberikan kepadaaaaaa" kala suara mc mengatakan hal ini saya sudah berfirasat bahwa ia akan menduduki bahu si Adoe Meriza Akbar. Pria kelahiran Aceh Besar yang tinggal dan besar di Sigli, Pidie.

Tersematnya selempang itu menandakan bahwa saya terpilih sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015. Tidak pernah terpikir bahwa posisi ini ada di pundak saya. Saya memprediksi bahwa posisi tiga besar itu akan diduduki oleh Meriza Akbar, Agus dan Lupa namanya. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Terpilihnya saya sebagai Wakil 1 Duta Wisata Aceh Besar 2015 tidak lantas menjadikan saya malas. As the second winner, saya kemudian memikirkan bahwa ide dan gagasan saya haruslah menjadi cikal bakal awal terdongkraknya dunia pariwisata di Aceh Besar dan Aceh pada umumnya. Bermodal itu, tanpa pikir panjang kemudian saya memosting sebuah foto di akun instagram dengan menyertakan hastag #AyokeAcehBesar.

Hastag ini saya munculkan pertama kali sebagai program literasi media social pertama. Alhamdulillah, tim duta rayeuk tempat perkumpulan para duta wisata Aceh Besar setuju dengan langkah ini. Hingga kemudian, saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini sebagai ajang promosi dunia wisata di Aceh Besar.

Kepada Akbar, selaku pemenang utama saya sampaikan bahwa silakan menggunakan hastag ini untuk keperluan kamu di berbagai kesempatan. Baik itu di ajang PDWA dan lain-lain. Alhamdulillah, kehadiran #AyokeAcehBesar kala itu membawa berkah bagi semuanya. Akbar perwakilan Aceh Besar kembali terpilih sebagai Juara 1 Agam Aceh. Saya rasa, hastag #AyokeAcehBesar menjadi cikal bakal akan lahirnya sejumlah hastag bernada yang sama seperti #AyokeAcehlagi jargon Akbar saat mengikuti PDWI di Jakarta. Dan munculnya sejumlah hastag lainnya seperti #AyokeAcehSelatan, #AyokeAceh, #AyokeAcehSingkil, #AyokeAcehsabang, #AyokeAcehjaya, #AyokeAcehBarat, dan lain sebagainya.

Lastly, saya tidak mau mengatakan bahwa pencapaian #AyokeAcehBesar adalah murni dari saya semata, meskipun pada kenyataan memang demikian heheheh, tapi saya tetap ingin menyampaikan bahwa #AyokeAcehBesar lahir karena adanya support, masukan dan bimbingan dari setiap mereka yang bernaung baik di bawah @dutarayeuk maupun di luar itu.

Semoga saja, tanpa menanggalkan culture Aceh sebagai basis syariah, wisata di Aceh semakin baik ke depannya. Aaamiin.

AyokeAcehBesar 

Tuesday, 3 October 2017

Bikun Coffee, Kedai Kopi klasik ala Universitas Indonesia. Unsyiah juga bisa kok!

Aula Andika Fikrullah Albalad


Pagi menjelang siang tadi, saya ke Universitas Indonesia via Stasiun Manggarai. Awalnya ke Stasiun Cikini, tapi berhubung ada kereta anjlok jadinya saya terpaksa naik transportasi online lagi untuk sampai di Stasiun Manggarai.

Kurang lebih 20 menit, kereta dengan tujuan Bogor yang saya tumpangi ini meluncur dengan mulus dan mendarat dengan nyaman di stasiun Universitas Indonesia. Sayapun bergegas turun menuju ke masjid Ukhuwah Islamiyah (UI)  Univ Indonesia (UI) untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur. Saat kaki melangkah ke masjid UI kuadrat ini, pikiran saya terbawa ke empat tahun silam. " Gak banyak perubahan yaaaa" gumam saya dalam hati. Kau masih seperti dulu, indah dan menawan. Tambah saya.

Pustaka, masih berdiri tegak di kanan gerbang masuk ke masjid. Wudhu wanita juga masih setia di sampingnya. Adapun tempat wudhu pria masih tetap di posisi dulu, kiri gerbang utama. Sempurna menunaikan wudhu, sayapun melangkah ke dalam bangunan penuh keberkahan ini. " Silakan Pak" ucap dua orang mahasiswa yang dari perawakannya sepertinya mahasiswa angkatan oertama ini. " boleh tolong geser ke kiri lagi, supaya sempurna" ucap saya. " Allahu Akbar... Assalamu'alaikum, assalamualaikum. Alfatihah" tutupku dan orang di belakang saya itu pun komat kamit dan menghilang.

Tujuan saya ke UI kali ini, selain mengobati rindu akan kenangan empat tahun silam. Juga pengen melihat suasana UI setelah tak lagi dipimpin oleh pak rektor. Selanjutnya, saya pun menuju ke perpustakaan utama UI yang terletak tepat di belakang masjid ini. Gak banyak perubahan juga.

Asyik menikmati suasana perpustakaan dan selesai mengerjakan list agenda yang harus dikerjakan di sini. Saya pun bergegas pulang, takut bila bikun dan kereta arah Cikini tidak ada lagi. Pemandangan berbeda justru datang saat saya pulang. Bikun Coffee, wah menarik ini. Saya pun kembali ke cafee dengan ikon bis ini. 

Saat melihat dengan jelas kedai ini, saya teringat pada kendaraan kebanggaan mahasiswa Aceh, yakni Robur. Seandainya, replika robur juga dibuat sedemikian rupa tentu akan menjadi warna tersendiri bagi warung coffee di Univ Syiah Kuala ini.

Berbicara tentang robur, dalam buku " The Public Transportation Stories" yang saya tulis dua tahun lalu. Saya mengusulkan agar kendaraan bersejarah ini tidak digeletak begitu saja di halaman biro rektorat. Tapi, wajib disediakan tempat khusus dan di awal tiap tahun ajaran baru, ia harus dikenalkan kepada para mahasiswa bagaiamana legendnya kendaraan itu. Sehingga, kenangan indah robur akan senantiasa menghiasi ranah akademik di univ kebanggaan rakyat Aceh ini.


Tapi, itu hanyalah wacana seorang anak ingusan di siang hari. Gumaman itu lepas dan hialng menelusuri tenggorokan serta berakhir ke tanah. Meskipun ide itu pernah saya sampaikan kepada petinggi kampus, rektorat via wakil rektor, tapi belum juga ada wacana yang mengarah ke sana. Secara pribadi, saya hanya menakutkan bahwa generasi muda Univ Syiah Kuala tak mengenal apa itu Robur dan bagaiamana sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan di Aceh. Padahal jika dilirik dengan tajam, robur telah melahirkan generasi emas untuk Aceh dan Indonesia.

Sunday, 10 September 2017

Tips and Trik sukses menjadi Raja Baca Provinsi Aceh: mulai pengumpulan berkas hingga wawancara

Aula Andika Fikrullah Albalad

Ada banyak pertanyaan yang menghampiri saya, baik itu melalui telepon, sms, whatapps, facebook messenger, line, instagram dan twitter yang menanyakan pengalaman saya dalam mengikuti pemilihan Raja dan Ratu Baca provinsi Aceh, 2014 silam.
Postingan kali ini hanya akan menyajikan bagaiamana alur pemilihan Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh 2014 hingga hari penobatan saja.
Tiga tahun yang lalu, pengumuman pemilihan Raja dan Ratu Baca Aceh terpampang jelas di pagar Pustaka Wilayah, Lamnyong, Darussalam. Kala itu tertulis bahwa pendaftaran dibuka sampai tanggal 8 September, jika tidak salah saya yaa.

Proses seleksi di mulai dari seleksi berkas, tes tertulis dan wawancara.
Seleksi berkas terdiri dari;

1. Pengisian formulir, saat saya mengisi formulir ini panitia meminta untuk mencantumkan lima prestasi yang diungulkan (saya memulainya dengan prestasi sebagai Duta Promosi Pariwisata Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Representative Indonesia pada Nusantara Leadership Camp, Juara 1 MTQ Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Cab Syarhil Quran dan Peserta pada National Future Educator Conference). Tips dari saya di kolom ini adalah usahakan untuk mencantumkan prestasi yang sesuai dengan kapasitas seorang Raja atau Ratu Baca. Saya memilih mencantumkan prestasi duta di atas karena ini bukti bahwa saya sudah mumpuni di bidang ini tentu akan mudah dalam menjalankan peran sebagai raja jika terpilih nanti. Indonesia representative sebagai bukti pula bahwa saya memiliki koneksi yang baik di tingkat international. Adapun juara 1 MTQ sebagai bukti bahwa kemampuan public speaking saya sudah tidak dapat diragukan lagi.


                                    Baca juga : Tips menjadi raja baca provinsi Aceh 



Selain lima prestasi yang diunggulkan, panitia juga meminta kita mencantumkan lima organisasi dan jabatan. Saya tidak ingat dengan baik organisasi apa saja yang saya cantumkan kala itu. Tapi yang pasti organisasi yang saya cantumkan ke semuanya memiliki hubungan dengan kapasitas saya dalam menunjang performa sebagai Raja Baca Aceh.
Selain lima prestasi dan lima pengalaman organisasi, panitia juga meminta untuk mencantumkan lima buku terfavorit yang pernah dibaca. Nah, ini esensi yang paling penting. Kala itu, saya mencantumkan lima judul buku dari masing-masing genre. Pertama fiksi, non fiksi, politik, sosial dan pendidikan. 
Genre fiksi, saya mencantumkan Novel Ayat-Ayat Cintanya Kang Abik. Jatuhnya pilihan ke kang Abik dikarenakan novel ini sarat akan makna keislaman yang tentunya sangat cocok dengan culture masyarakat di Aceh. Selain itu nilai perjuangan dalam meraih pendidikan juga tak dapat dikesampingkan. Untuk genre non fiksi, saya memilih buku Produktif 24 Jam karya Abu Qa'qa Muhammad bin Shalih Nuri. Alasan saya memilih buku ini dikarenakan saya percaya bahwa muslim atau pribadi yang baik adalah dia yang bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Dalam bukunya Abu Qa'qa menjabarkan dengan baik bagaiamana mencapai hal itu. Genre politik, sosial dan pendidikan saya tidak ingat lagi judul-judul buku yang saya cantumkan. Kenapa saya memilih lima genre. Hal ini dikarenakan bahwa seorang Raja atau Ratu adalah iya yang melakoni semua genre. Bahan bacaannya tidak hanya tentang politik, atau bahwa novel semata. Tapi ia mampu mengcover semua genre. Tentu sangat tidak indah, jika raja atau ratu hanya terpaku pada bahan bacaan tata cara membuat kue dengan enak. Bagaiamana jadinya ketika ia harus hadir dalam sebuah forum sedangkan bahan bacaannya hanya tentang tataboga saja. Tidak elokkan. Saran saya saat mengisi kolom ini. Isilah sesuai dengan jumlah yang diminta panitia jangan melebih-lebihkan. 2014 lalu, ada loh peserta yang menambahkan empat kertas a4 lain untuk menyebutkan bahwa dia sudah membaca banyak sekali buku. Saya NO kan untuk hal seperti ini. Ada juga pengalaman lucu lainnya, beberapa peserta malah melampirkan sertifikat prestasi yang ia miliki. Padahal panitia tidak meminta hal ini. Jadi, jangan ngelakuin sesuatu yang tidak diminta yaaa. Ini bukti kuat bahwa kamu tidak memahami dengan baik intruski yang diberikan oleh panitia.



2. Tes Tulis, tahapan seleksi selanjutnya adalah tes tulis. Selang beberapa hari dari penutupan pendaftaran, panitia mengumumkan nama-nama yang masuk ke tahapan selanjutnya yakni tes tulis. Kala itu, tertulis berlangsung mulai pukul 08:00-10:00 WIB. Peserta dibagi ke dalam dua ruangan. Saya yang hadir 20 menit dari jadwal yang telah ditentukan mendapat nomor urut tes 01 dan berada di ruang baca dewasa 1 pula. Sebelum tes di mulai, panitia membagikan kertas double polio dan satu lembar A4 yang berisikan pertanyaan. Panitia menyebutkan bahwa peserta akan disilakan membuka lembar pertanyaan dan memulai menjawab kala ada instruksi dari mereka. Saya yang duduk tepat di samping tembok tengah ruang dewasa 1 itu hanya tersenyum santai sambil memperhatikan cicak yang bernari di dinding ruangan. Beberapa peserta saya lihat sudah mulai membaca list pertanyaan itu meskipun sudah ada larangan dari panitia. Cicak di dinding menyapa saya dan memberitahu agar tetap mengikuti alur yang diberikan panitia. "Jarang curang Aula!" bentak si cicak. "Sesuatu yang dimulai dengan tidak baik maka hasilnya akan tidak baik pula" imbuhnya lagi. "Siap Cak, thank you" jawabku sambil melemparkan senyum genit kepadanya.

Tak sampai lima menit, panita dari bangku paling depan memberi instruksi bahwa ujian tes tulis akan dilaksanakan selama 120 menit.

Truuuk truuuk, goresan pena mulai bergoyang di atas kertas. Adukannya membuat saya terlena bahagia. Saya masih setia memperhatikan ke mana cicak itu pergi hingga kemudian tak terasa ternyata sudah sepuluh menit saya duduk tanpa ada aksi. Kertas soal yang terletak di atas meja saya buka perlahan sambil berharap bahwa jawabannya juga sudah tersedia di sana. Satu, dua dan tiga. Astagfirullah ya Allah, soalnya bukan choise melainkan esai. Ada sepuluh soal dan masing-masing soal terdiri dari dua atau tiga anak. Setengah menghitung, ada 20 soal yang harus saya jawab di atas kertas double polio ini. "Selamat malam" kataku. Sambil terus berharap si cicak kembali dengan membawa kertas double polio berisikan jawaban mata saya mulai menelusiri satu per satu pertanyaan yang tersedia. Butuh waktu hampir lima menit untuk menganalisa tiap soalnya. Sesudah saya rasa paham dan tau harus saya apakan ini soal, baru kemudian pena saya goyangkan ke atas kertas.

Di antara sekian banyak soal. Ada empat soal yang masih saya ingat sampai sekarang. 

            Pertama, jelaskan buku yang pernah kamu baca. Jawaban saya untuk pertanyaan ini adalah saya mendeskripsikan buku Produktif 24 jam karya Abu Qa'qa Muhammad bin Shalih Nuri. Saya menyebutkan sisi kelebihan dan kekurangan dari buku ini, termasuk menyebutkan pengarang, nama kota, tahun terbit dan nama asli dari buku itu. Uraian untuk pertanyaan ini memakan hampir setengah halaman kertas.

           Pertanyaan ke dua yang masih saya ingat adalah, apa yang akan kamu lakukan jika terpilih sebagai raja baca. Pertanyaan ini saya rasa sangat menantang. Jawaban saya tidak muluk-muluk yakni hanya ingin meningkatkan minat baca masyarakat Aceh khususnya mahasiswa melalui talkshow dan program raja goes to campus serta memanfaatkan media sosial untuk berkampanye.

         Ke tiga adalah bagaiamana caranya agar pengunjung perpustakaan wilayah Aceh lebih ramai. Saya sempat terdiam beberapa saat untuk pertanyaan ini. Kelihatan mudah namun sarat akan jebakan saya rasa. Sehingga saya memilih menghentikan goyangan pena yang masih sangat bersemangat itu. Sambil merebahkan punggung ke kursi, saya memperhatikan kembali cicak. Mata saya menjelajah ke semua sudut ruangan, namun kehadiran cicak itu tidak juga muncul. Tapi kemudian saya menemukan jawaban bahwa agar perpustakaan wilayah Aceh yang bernaung di bawah Badan Arsip dan Perpustaakn Wilayah Aceh ini menjadi tongkrongan favorit masyarakat, hal yang harus diperbaiki adlaah: manajemen organisasi yakni petugas harus lebih ramah terhadap pengunjung. Salam, senyum dan sapa harus sedini mungkin diterapkan, kemudian cat dinding ruangan harus lebih eye catching, koneksi internet harus tersedia di semua ruangan sehingga pengunjung lebih leluarsa berselancar di dunia maya, pendingin ruangan harus ditambah. Suhu ruangan yang tinggi tidak membuat rasa nyaman saat sedang membaca. Selanjutnya letak rak buku harus lebih rapi dan tidak dibiarkan tergeletak begitu saja. Tapi pernah dibersihkan debunya. Dan yang terakhir, mengingat letak perpustakaan berada di kawasan mahasiswa maka seyogyanya jam kunjung harus diubah, baiknya tersedianya jam kunjung malam. Selesai mengerjakan tes tulis yang sangat menguras tenaga, pikiran dan keringat. Saya yang saat itu duduk berpapasan dengan ka Ainul Mardhiah mengumpulkan lembar jawaban paling akhir. Saya tidak terkecoh oleh mereka yang terlebih dahulu mengumpulkan, bagi saya esensi jawaban lebih utama daripada mengumpulkannya. Jadilah saya menikmati kesendirian di dalam ruangan yang tak ber-ac itu.

3. Wawancara. Selesai mengumpulkan lembar jawaban. Panitia memberikan pengumuman bahwa wawancara dipercepat dan nomor urut satu hingga 40 akan diwawancara hari ini. Sisanya besok, sebagaiamana terjadwal. Saya yang bernomor urut satu, mengucapkan alhamdulillah. Sehari siap semua, sehingga besok bisa saya gunakan untuk kegiatan lainnya. Dibalik kesenangan itu, timbul rasa khawatir. Dresscode yang saya gunakan sangat tidak siap untuk sebuah proses wawancara. Tidak ada kemeja, jas apalagi sepatu fantofel saat itu. Hanya kaos oblong bertuliskan Bidikmisi Unsyiah. Ah, sudahlah. Wong saya ikut tahun ini tidak untuk menang melainkan untuk mengetahui seperti apa alur pemilihan dan insya Allah di 2015 saya akan memaksimalkan dan menjadi pemenang. Menunggu giliran masuk ke ruangan. Saya bercengkrama dengan beberapa peserta. Rerata dari mereka adalah pemuda yang baru pulang exchange student ke China, Amerika, Kanada, Eropa dan Australia. Orang hebat semua ini dan terpenting secara dresscode mereka sudah pada siap. Pengetahuan dan pengalaman mereka tentu tidak diragukan lagi. Sekilas saya juga memperhatikan tutur kata dan bahasa tubuh mereka. Berhubung saya belum pernah ke luar negeri, Jadi tidak salah belajar secara gratis dari mereka semua.

Pagi menjelang siang itu, ada tiga pos yang harus kami lalui. Pos pertama yang saya masuk saat itu di wawancarai oleh seorang laki-laki yang sudah berumur. Melihat uban di kepalanya saya taksir umur beliau tak kurang dari 70 tahun. Saat bertemu, saya tidak lupa berjabat tangan sambil mengucapkan salam dan meminta izin untuk duduk.

Di awal, beliau meminta saya untuk menyebutkan nama sembari beliau mengecek formulir pendaftaran. " Aula Andika Fikrullah Albalad, " sapanya sambil membaca dengan saksama tulisan yang saya isi di form itu.

" Tolong jelaskan motivasi kamu ikut ini, " pertanyaan ini saya jawab bahwa "saya ingin meningkatkan kapasitas diri dan lingkungan untuk lebih mencintai dunia literasi sebagai bagian dari hidupnya. Karena maju tidaknya suatu bangsa sangat ditentukan oleh kebiasaan masyarakatnya dan membaca adalah salah satu indikator bangsa yang maju," jelas saya.

Pertanyaan ke dua yang masih saya ingat adalah beliau mempertegas bahwa saya pernah membaca Novel Ayat Ayat Cinta oleh kang Abik, kemudian beliau meminta saya untuk menjelaskan alur cerita sembari menyebutkan peran dan karakter dari masing-masing tokoh utama dan pemeran. Sontak, pertanyaan ini membuat saya sedikit terenyuh. Betapa tidak, novel ini terakhir saya baca saat masih di kelas 2 MAN. Itu artinya sudah lebih dari empat tahun lamanya. Dengan sedikit kekhawatiran tidak bisa menjelaskan dengan baik, saya mencoba menjawab dengan menjelaskan siapa pengarang novel, dan karakter tiap tokohnya. Di penutup untuk pertanyaan ini saya menyebutkan bahwa saya sudah lama membaca novel ini sehingga maaf bila ada lupanya. Pintaku dengan polos.

Hahaha, satu pertanyaan yang bikin saya nyesek lagi adalah beliau meminta saya menjelaskan fungsi dari sebuah perpustakaan dalam bahasa asing. Kebelet saya jadinya. Tidak pernah terpikirkan bahwa akan ada pertanyaan seperti ini. Tanpa pikir panjang, langsung saya tancap gas pol. Berceramah ria menjelaskan fungsi dan manfaat sebuah perpustakaan. " oke stop, sudah cukup dengan saya silakan. Keluar." kata beliau mengakhiri sesi. " terima kasih, pak. Saya izin dulu. Assalamu'alaikum. " dan saya pun bergegas menuju pintu. 

Di luar ruangan, peserta yang masih menunggu giliran pada menghampiri saya dan menanyakan apa saja butir pertanyaan dan kenapa bisa lama sekali. "Lama? " tanya saya keheranan. " iya, bg. 30 menit lebih. " kata mereka.

Di pos ke dua, saya bertemu dengan ibu ini. Di awal perbincangan saya diminta memperkenalkan diri. Belum ada satu pertanyaan yang terlontar, saya kemudian membaca dari gerak dan bahasa tubuhnya bahwa beliau adalah pecinta tanaman bonsai. Sebagai bonsai lovers, tentunya saya tidak melewatkan begitu saja momen ini. Saya langsung mengalihkan pembicaraan kami tentang tanaman yang mahal ini. Hingga beliau mengatakan " nanti tolong bawakan bonsai mangga yang kamu bibiti itu ya." pintanya." "Wah, saya belum menanyakan pertanyaan terkait acara ini. Apa motivasi kamu, Aula? " ketika beliau menyebutkan nama saya dalam pertanyaannya itu sudah menandakan bahwa saya sudah berhasil menyaring keberpihakannya. Sudah cukup saya rasa. Psikologinya telah berhasil saya pengaruhi dan itu sudah lebih dari cukup. Kemudian, saya pun menjelaskan motivasi saya ikut acara itu. Dengan gamblangnya saya jawab bahwa hadiah adalah incaran saya. 5juta di bayar kas untuk seorang mahasiswa adalah harga yang besar kata saya kala itu. 

Keluar dari ruangan beliau ini, selanjutnya saya di pertemukan dengan ibu ini. Tatapannya ke saya kala itu rada sinis dan sarat akan negatif thinking. Hal itu begitu mudah saya ketahui, saat saya menola untuk menjabat tangannya. Perpindahan alis mata, posisi duduk dan raut wajahnya begitu mewakili bahwa ibu ini tidak tertarik pada saya. " please introduce yourself." mintanya. " thank you, ibu. My name is Aula Andika Fikrullah Albalad......, . " saya tidak ingat apa saja pertanyaan yang diajukan oleh ibu yang pada akhirnya saya ketahui bernama ka Tengku Nurul, ini. Selesai menjawab semua pertanyaan, saya pun meminta izin keluar tanpa berjabat tangan dengannya.

Tahapan seleksi sudah berjalan dengan baik. Saya menikmati setiap detailnya sambil menyatakan bahwa tahun saya akan ikut lagi dan menang. 

Beberapa hari kemudian. Saya yang baru saja mandi menerima sebuah panggilan masuk. Dan dari perbincangan singkat itu saya dapati bahwa sebuah kabar bahagia bahwa saya di minta hadir ke rapat persiapan hari kunjungan perpustakaan yang sekaligus bertepatan dengan roadshow dari perpustakaan Nasional Republik Indoensia yang dihadiri Bintang tamu utama yakni aktris Astrid Ivo. Kehadiran saya dalam rapat itu bukan dalam kapasitas sebagai panitia melainkan saya telah dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menyandang status sebagai Raja Baca Provinsi Aceh 2014 setelah menyisihkan 94 peserta terbaik lainnya. Alhamdulillah, ya Allah.

Untuk kalian yang saat ini sedang berjuang untuk memperoleh gelar Raja atau Ratu Baca Provinsi Aceh, saran saya hanya luruskan niat terlebih dahulu. Jangan pernah berlaku curang dalam tiap prosesnya. Bubuhkan jawaban dengan baik, jika diminta isi maksimal lima, maka isi lima saja. Jangan menambahkan dua atau bahkan halaman lainnya. Untuk tahapan tes tulis, baca sebanyak mungkin berita teraktual saat ini. Jika ada case study, jangan berceramah ria saja tapi ulurkan solusi yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan persoalan itu. Tidak perlu wow aksinya, kecil tapi solutif dan mudah diaplikasikan. Tahapan wawancara, gunakan dresscode sebagai mungkin. Usahakan menggunakan kemeja, jas dan sepatu fantofel. Jangan sekali-kali menggunakan kaos polo seperti yang saya gunakan kala itu. Bahaya mengancam!Perhatikan lawan bicara dalam hal ini si pewawancara. Selain penampilan, posisi dudukmu juga tak boleh nyeleneh alias malas. Be ready dengan duduk tegap dan penuh senyum. Gunakan semua anggota badan untuk menjelaskan dan memperkuat argumenmu. Menggunakan anggota badan di sini, tidak untuk kekerasan yaaa. Jangan sampai, karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik lantas kamu menggunakan menyapa si pewawancara dengan baik kakimu. NO untuk hal itu. Apa pun itu, adab di atas segalanya.

Saya rasa cukup ulasan ini. Semoga membantu kamu semua yang sedang mempersiapkan diri merebut mahkota Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh. Saya tunggu nama dan foto kamu -- terpajang di deretan Raja dan Ratu Baca Provinsi Aceh -- di ruang pak Kepala Dinas.

Semangat dan semoga Allah mudahkan segala urusan.

Wednesday, 23 August 2017

Yuk Jalan-Jalan ke Tempat-Tempat Hits Indonesia Timur Ini, Biar Kayak Selebgram

Aula Andika Fikrullah Albalad
Kamu yang suka travelling, pasti sering mupeng kan sama postingannya para selebgram yang suka jalan-jalan? Banyak di antara mereka yang sudah berkeliling Indonesia, dan salah satu lokasi yang paling sering dikunjungi adalah Indonesia Timur.

Bisa dibilang, berkat selebgram dan internet lah pariwisata di Indonesia Timur berkembang pesat. Dengan foto-foto bagus dari selebgram yang kemudian jadi pembicaraan berantai antar pengguna internet, membuat banyak orang ingin liburan ke sana.

Tentu kamu juga kepengen kan, main ke Indonesia Timur dan punya foto kece kayak selebgram? Kalau belum punya bayangan bakal ke mana saja, coba cek referensi berikut ini yuk.

Pulau Padar, NTT
(Via.travelomia.com/Pulau Padar)
Pulau ini letaknya nggak jauh dari Pulau Komodo, dengan keistimewaan sebuah bukit padang ilalang yang membentang indah dan pantai melengkung di ujung tepiannya. Dari sudut manapun, Pulau Padar sangat menakjubkan dan sangat pas sebagai destinasi wisata para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tidak hanya itu, di Pulau Padar kamu juga bisa menyelam atau snorkeling. Buat yang sudah punya lisensi diving, sayang banget kalau nggak mencoba untuk menyelam di dalam lautannya, karena isinya keren banget!

Pantai Botubarani, Gorontalo
(via. hargo.co.id)

Menyelam bareng ikan hiu tutul berukuran raksasa cuma bisa kamu lakukan di Pantai Botubarani. Pada musim tertentu, hiu-hiu tutul berada di pantai ini dan bisa didekati dengan jarak yang cukup dekat. Pastikan kamu menyelam bersama guide lokal agar keamananmu terjaga selama menyelam ya!
Pulau Banda Neira, Ambon

Bagi pecinta pantai dan laut dalam, Pulau Banda Neira adalah surga. Keindahannya nggak kalah dari pantai-pantai di Thailand, namun dengan kondisi alam yang masih sangat alami. Air lautnya biru jernih, seperti kolam yang sangat bersih, dengan biota laut yang menakjubkan.

Sekedar berjemur atau mengambang begitu saja di pantai Pulau Banda Neira, sudah cukup bikin refresh. Karena pemandangan di sini nggak akan kamu temukan di tempat lain, dijamin!

Misool, Papua
(via. indonesia.travel)

Di kawasan Raja Ampat, terdapat pantai bernama Misool yang sangat cantik. Batu-batuan tinggi menjulang ada di sini, dengan air laut jernih dan karang yang memukau. Disini kamu dapat meneropong keindahan alam yang terbentang disepanjang kawasan ini. Nggak harus menyelam untuk menikmati Misool. Kamu juga bisa sekedar berendam atau santai di atas air lautnya yang super jernih.

Pantai Ora, Pulau Seram, Maluku



Di sinilah tempat terbaik untuk merasakan indahnya pantai di Maluku. Pantainya sangat indah, dengan air laut yang saking jernihnya sampai terlihat seperti kaca. Selain itu Pantai Ora juga punya resort yang dibangun di atas air laut, mirip seperti Bora-Bora. Buat kamu yang bulan madu, atau sekedar pengen seru-seruan, Pantai Ora adalah jawaban sempurna buat liburan di Timur Indonesia.

Wae Rebo, NTT

(via. anekatempatwisata.com)

Sudah jauh ke Indonesia Timur cuma buat main di pantai, rugi banget dong. Coba deh mampir ke Desa Wae Rebo, yang masih dijaga keasliannya seperti kampung di masa lampau. Melihat desa ini, kamu akan merasa terlempar ke masa lalu, ketika modernisasi belum ada. Desanya tenang dan damai, dan jangan lupa juga menyapa penduduk setempat.

Sudah kebayang nggak mau ke mana? Yang jelas, kamu nggak perlu bingung dengan ongkos liburan ke Indonesia Timur karena Trigana Air selalu punya promo menarik. Terbang dengan Trigana tidak hanya aman dan nyaman, tapi juga nggak nguras kantong.

Pesan tiket Trigana Air pun sudah bisa lewat online, jadi gampang buat lihat jadwal terbang dan rutenya. Nah, sekarang tinggal tunggu itinerary-mu saja buat liburan nanti.


Tuesday, 22 August 2017

Berangkatkan Guru ke Pulau Jawa, apa yang ingin dicapai oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh?

Aula Andika Fikrullah Albalad


Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, Dinas Pendidikan Dayah Aceh ( Disdik Dayah), Selasa 21 Agustus 2017, di Banda Aceh memberangkatkan guru/teungku ke Pare, Kediri, Jawa Timur.

Penyambutan dan pelepasan yang berlangsung di Hotel Mekkah, Banda Aceh ini dibuka oleh Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bapak Munarwansyah. SE. MM.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Bapak Drs. H. Bustami Usman, dalam kata sambutan yang disampaikan oleh Kabid Pengembangan SDM, Munawar menyampaikan harapannya agar para peserta yang terpilih mewakili 23 kabupaten/kota ini, agar bisa memaksimalkan kesempatan ini dengan baik dan belajar dengan maksimal.

"Kami dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh menaruh harapan yang besar kepada teungku-teungku semua, semoga bisa memanfaatkan progam ini sebaik mungkin. Paling kurang, sepulang nanti mampu membuat lawak dalam bahasa Inggris lah. Nantinya sebagai output dari pelaksanaan program ini. Guru terbaik akan kita berdayakan sebagai tutor sehingga dapat kembali meningkatkan kemampuan berbahasa para guru dayah yang ada di Aceh " tutupnya singkat.


Peserta yang merupakan guru terbaik ini nantinya akan di pompa kemampuan berbahasa ( Inggris dan Arab) selama 90 hari (3 bulan), terhitung sejak 22 Agustus sampai dengan 22 November 2017 bertempat di Pare, Kediri, Jawa Timur.

Masih dikesempatan yang sama, Munawar menyatakan bahwa program ini sudah perna dijalankan pada tahun 2015 silam, pada saat itu Disdik Dayah Aceh hanya mengirimkan total peserta 30 orang, di mana 15 orang untuk pendalaman bahasa Inggris dan sisanya untuk pendalaman bahasa Arab. Sedikit berbeda dengan dua tahun sebelumnya, tahun --2017-- ini, Disdik Dayah Aceh membawa kabar bahagia yakni dengan menambah kouta penerima. Yakni yang encapai 50 orang.

Salah satu peserta program magang, tgk Hadi asal Aceh Besar, dalam siaran singkat yang diterima menyampaikan  syukur alhamdulillah dan rasa terima kasih yang mendalam kepada pihak panitia. " Semoga, kami dapat mengasah dan meningkatkan kapasitas berbahasa, baik Arab/Inggris. Sekembali dari sana nanti,  saya dan teman-teman berinisiatif untuk menyelenggarakan program yang sama untuk adik-adik kita di kampung masing-masing, dalam hal ini. Aceh Besar, insya Allah. Aceh  yang hebat, sebagaiamana pungkas sang gubernur akan dengan mudah kita gapai. Semangat untuk semua." penuh ceria.







Tuesday, 15 August 2017

Pakar Public Speaking, Saifuddin Bantasyam, ditantang ngeblog oleh blogger

Aula Andika Fikrullah Albalad
Saifuddin Bantansyam, dalam presentasinya di flash blogging, Kominfo. 


Kemarin, Selasa, 15 Agustus 2017, 50 blogger Aceh dipaksa ngumpul oleh Kementeri Informasi dan Komunikasi di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di Permata Hati Hotel, Ulee Lheu, Banda Aceh.

Seperti biasa, dua per tiga penghuni ruangan yang berukuran 12*5 meter ini, tak lain adalah masyarakat gaminong blogger atau yang lebih akrab dengan sebutan GIB. Berkumpulnya para blogger kece ini di dunia nyata tak lantas menghilangkan kebisingan di group watsap. Tapi malah sebaliknya.

Selain Gaminong Blogger, ada juga blogger lain seperti Aceh Blogger Community (ABC), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, yang berpartisipasi di acara ini.

Sejak awal dapat undangan, saya dengan terpaksa harus ngasih tau ke teman-teman, blogger, bahwa saya akan telat. Mengingat harus ke kantor urusan agama, Darul Imarah untuk ngurus persiapan menikah kakak. Ada rasa kecewa karena tidak dapat hadir tepat waktu, selain udah komit dengan diri sendiri sejak lama untuk selalu intime. Materi yang akan  disajikan juga sudah pasti renyah dan menarik. Betapa tidak, Kominfo sponsor utamanya. Kebayang dong..

Ternyata, waktu masih berpihak kepada saya. Karena acaranya molor hampir. Kalau ngelirik di group watsap, ini disebabkan karena menunggu pejabat. As usual, kalau kata saya mah. Berdamai dengan waktu, masih menjadi MoU yang sulit dilakukan.

Selain menulis kreatif, oleh Kak Andi dari beritagar.id. Ada Pak Saifuddin Bantasyam, pakar publik speaking, yang sekaligus akademisi Universitas Syiah Kuala, yang memberi materi dalam acara Flash Blogging ini. Pak Saif yang hadir pada sesi II ini menjelaskan tentang peran serta anak muda di Indonesia lebih khususnya di Aceh dalam menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju. Kontribusi para penulis untuk selalu mempositifkan Indonesia adalah salah satu harapannya, siang itu.

"Kemampuan menyajikan tulisan yang renyah meskipun temanya berat, harus bisa dilakukan oleh blogger. Siapa audience dan readers kita harus sudah kita ketahui. Agar tulisan lebih bernas" tutup dosen Fakultas Hukum, Unsyiah ini. 

"Bagaimana caranya agar kita mampu menyajikan tulisan yang ringan meskipun temanya berat, pak" tanya Ihan, sang editor salah satu portal ini.

Pria yang lahir 56 tahun silam itu pun menjawab, bahwa pada dasarnya menulis itu sama dengan berbicara. Kata yang kita keluarkan harus mampu diterjemahkan oleh pendengar. Dalam menulis pun demikian.

Tak puas dengan jawaban itu, pemilik laman www.ihansunrise.com ini kemudian kembali menyelutuk, "maaf pak, apa bapak punya blog?"

Sontak, pertanyaan ka Ihan ini membuat pakar publik speaking ini terkejut. Raut wajah dan body language yang hadir ketika itu, mengisyaratkan bahwa ia kaget. Saya bisa merasakan itu. Alis yang naik ke atas, garis dagu yang berkerut semakin mempertegas hal itu. Saya yang kala itu duduk di bangku paling belakang, cepat-cepat bangun dan setengah berdiri untuk melihat momen ini.

"Saya tidak punya blog, tapi saya menulis. Ada banyak karya tulis yang saya tulis. Termasuk hari ini, presentasi yang saya sajikan ini tidak asal saya tulis. Tapi perlu pendalaman mini riset. Kalau disajikan di blog, saya rasa akan banyak sekali postingannya" jawab pak Saif membela diri dan sesi pun berakhir. 

Meraih Damai Aceh

Aula Andika Fikrullah Albalad
www.google.com

November, 2015 silam. Amukannya seakan hendak merobohkan seluruh bangunan dan perpohonan yang ada di depanku. Sesekali, petir menyapaku yang saat itu tengah menanti kabar yang tak pasti. Angin yang bertiup kencang seakan memberi arahan agar segera ku kembalikan lipatan baju itu ke dalam lemari. Tapi, apa boleh dikata. Janji yang sudah terukir dua minggu sebelumnya tak mungkin terbatalkan, daerah –Aceh Besar— akan menjadi taruhannya. Dan aku tidak mau jika itu terjadi.

Di tengah kerisauanku yang semakin mendalam. Tetiba, Nokia X3-02 yang ku beli sejak 2011 silam itu berbunyi. “DW Ka Nanda” muncul di layarnya. “Yang mana, kakak udah sampai di depan meunasah ini” tanyanya dengan sedikit berteriak.

Depan lagi kak, ada batang mangga di depannya” sahutku. Tak lama, berdirilah sebuah mobil Avanza di seberang jalan. Genangan air yang merendam hampir seluruh taman rumah membuat sepatuku basah. Tak ada celah untuk menghindar saat itu. Amukan dari atas semakin menegaskan aku tidak usah ikut.

“masya Allah, hujannya lebat sekali” ucapku kala menutup pintu mobil.
“Iya, tidak berhenti-henti sejak dari tadi pagi. Kita mau lewat mana nih” Tanya sang supir, yang pada akhirnya aku tau bahwa itu adalah ayahnya ka Nanda.

“Terserah papa aja” sahut ka Nanda yang duduk tepat di bangku belakang.

Lima menit berlalu.

Sampailah kami di depan Hotel Meurah Mulia, Lamnyong, Banda Aceh. Jalanan yang masih becek tak mungkin bagi kami berjalan seakan-akan kami sedang berada di atas red carpet. Tak ada table manner apalagi eleganitas. Lenggok-lenggak sebagaimana terpaparkan selama ini di layar kaca. Hilang. Akibat hujan yang menghadap. 

Kami tak tau, apakah ini akan berpengaruh pada hasil akhir atau tidak. Ntah lah, meskipun sore itu. Kami dengan bangga menyatakan bahwa kami adalah perwakilan kabupaten Aceh Besar dalam pemilihan Duta Damai provinsi Aceh. Yang dipuncak perhelatan nanti, kami akan mendampingi Wakil Presiden Indonesia, Bapak Yusuf Kalla. Di Taman Ratu Saifuddin dalam rangka 10 Tahun MoU Helsinki. 
Kalla, tentu sangat dekat dengan acara ini. Betapa tidak, saat penandatanganan dokumen ini 12 tahun silam, Kalla adalah perwakilan Indonesia yang hadir ke sana. Meskipun, bukanlah Kalla yang menjadi tokoh perdamaian Aceh.

Hujan yang terus menguyur kota Banda Aceh, membawa efek bagi semua, peserta pemilihan Duta Damai Provinsi Aceh. Kasur dan pisang goreng tentu padanan yang pas kala itu. Lagi-lagi apa mau dikata. Hujan membawa menghalangi semuanya. 

10 tahun Aceh damai. Ini kali pertamanya, Aceh memiliki Duta Damai. 
Menjadi seorang Duta Damai bagi daerah yang konflik berkepanjangan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak regulasi kebijakan dan pelajaran yang harus diambil dan dipelajari. Berat, pasti ku rasa. Tapi beban berat hanya akan terasa berat jika dipikirkan namun jika dijalankan dengan ikhlas, tentu akan terasa ringan sendirinya. 

Ini pesan singkat yang terus ku ingat, kala mengikuti setiap kegiatan. 

Pemilihan Duta Damai Aceh ini, diikuti oleh 34 pemuda/i perwakilan kabupaten/kota dan mahasiswa berprestasi asal universitas ternama di Aceh --Unsyaih, UIN ArRaniry, Abulyatama Serambi Mekkah etc--. 

Ku perhatikan satu persatu wajah, ah sebagian besar adalah pemuda/i berprestasi nanggroe. Spritiku kala itu, sempat surut as usual. Tapi kukembalikan pada target awal. 

Aceh Besar, sebagai daerah yang ku wakili tak boleh kecewa. Namanya harus kembali bergaung sebagaiamana bergaung dalam ke pemilihan Duta Wisata Aceh, yang selempang duta wisata Aceh. Kala itu diberikan kepada perwakilan Aceh Besar, Meriza Akbar. 

Ada beban moral besar, memang. Tapi aku mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Perjalanan hari pertama sampai dengan hari ketiga, dihiasi dengan penyampaiannya materi oleh sejumlah pakar, sebut saja materi tentang MoU Helsinki, Syariat Islam, Kepemerintahan, Adat Istiadat dan lain-lain. 

Aku berasa bersyukur bisa hadir dalam forum ini. Sekurang-kurangnya ada ilmu dan teman baru yang ku dapat. Nah, bagaiamana dengan juara? 

Tetap, ia fokus yang utama. Tapi tidak mengesampingkan nilai pertemanan yang terbangun. Bagiku, friend tetap penting. Meskipun, pada saat itu kami sedang berkompetisi satu sama lainnya. 

Namun, siapa sangka. Badai sore selasa, 10 November 2015 silam telah mengantarkan kami sebagai pendamping orang nomor dua di Indonesia. Mahkota sebagai pribadi yang membawa kedamaian dan mampu menjadikan Indonesia yang lebih baik dengan bekerja sama telah tertoreh di kepala ku.

Wakil 1 Duta Damai Aceh, puncak dari segala perjuangan.
                            Klik link ini
    Duta Damai Aceh 2015








Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib