Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Education is not just a tool, but it is a complex system to build a better life.
Aula Andika Fikrullah Albalad
Sharing by writing and speaking
I do believe, life isnt about myselfbut its all about us
The world is a book and those who do not travel read only one page
Augustine of Hippo
Go travel.
You will know who you are

Tuesday, 15 August 2017

Pakar Public Speaking, Saifuddin Bantasyam, ditantang ngeblog oleh blogger

Aula Andika Fikrullah Albalad
Saifuddin Bantansyam, dalam presentasinya di flash blogging, Kominfo. 


Kemarin, Selasa, 15 Agustus 2017, 50 blogger Aceh dipaksa ngumpul oleh Kementeri Informasi dan Komunikasi di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di Permata Hati Hotel, Ulee Lheu, Banda Aceh.

Seperti biasa, dua per tiga penghuni ruangan yang berukuran 12*5 meter ini, tak lain adalah masyarakat gaminong blogger atau yang lebih akrab dengan sebutan GIB. Berkumpulnya para blogger kece ini di dunia nyata tak lantas menghilangkan kebisingan di group watsap. Tapi malah sebaliknya.

Selain Gaminong Blogger, ada juga blogger lain seperti Aceh Blogger Community (ABC), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, yang berpartisipasi di acara ini.

Sejak awal dapat undangan, saya dengan terpaksa harus ngasih tau ke teman-teman, blogger, bahwa saya akan telat. Mengingat harus ke kantor urusan agama, Darul Imarah untuk ngurus persiapan menikah kakak. Ada rasa kecewa karena tidak dapat hadir tepat waktu, selain udah komit dengan diri sendiri sejak lama untuk selalu intime. Materi yang akan  disajikan juga sudah pasti renyah dan menarik. Betapa tidak, Kominfo sponsor utamanya. Kebayang dong..

Ternyata, waktu masih berpihak kepada saya. Karena acaranya molor hampir. Kalau ngelirik di group watsap, ini disebabkan karena menunggu pejabat. As usual, kalau kata saya mah. Berdamai dengan waktu, masih menjadi MoU yang sulit dilakukan.

Selain menulis kreatif, oleh Kak Andi dari beritagar.id. Ada Pak Saifuddin Bantasyam, pakar publik speaking, yang sekaligus akademisi Universitas Syiah Kuala, yang memberi materi dalam acara Flash Blogging ini. Pak Saif yang hadir pada sesi II ini menjelaskan tentang peran serta anak muda di Indonesia lebih khususnya di Aceh dalam menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju. Kontribusi para penulis untuk selalu mempositifkan Indonesia adalah salah satu harapannya, siang itu.

"Kemampuan menyajikan tulisan yang renyah meskipun temanya berat, harus bisa dilakukan oleh blogger. Siapa audience dan readers kita harus sudah kita ketahui. Agar tulisan lebih bernas" tutup dosen Fakultas Hukum, Unsyiah ini. 

"Bagaimana caranya agar kita mampu menyajikan tulisan yang ringan meskipun temanya berat, pak" tanya Ihan, sang editor salah satu portal ini.

Pria yang lahir 56 tahun silam itu pun menjawab, bahwa pada dasarnya menulis itu sama dengan berbicara. Kata yang kita keluarkan harus mampu diterjemahkan oleh pendengar. Dalam menulis pun demikian.

Tak puas dengan jawaban itu, pemilik laman www.ihansunrise.com ini kemudian kembali menyelutuk, "maaf pak, apa bapak punya blog?"

Sontak, pertanyaan ka Ihan ini membuat pakar publik speaking ini terkejut. Raut wajah dan body language yang hadir ketika itu, mengisyaratkan bahwa ia kaget. Saya bisa merasakan itu. Alis yang naik ke atas, garis dagu yang berkerut semakin mempertegas hal itu. Saya yang kala itu duduk di bangku paling belakang, cepat-cepat bangun dan setengah berdiri untuk melihat momen ini.

"Saya tidak punya blog, tapi saya menulis. Ada banyak karya tulis yang saya tulis. Termasuk hari ini, presentasi yang saya sajikan ini tidak asal saya tulis. Tapi perlu pendalaman mini riset. Kalau disajikan di blog, saya rasa akan banyak sekali postingannya" jawab pak Saif membela diri dan sesi pun berakhir. 

Meraih Damai Aceh

Aula Andika Fikrullah Albalad
www.google.com

November, 2015 silam. Amukannya seakan hendak merobohkan seluruh bangunan dan perpohonan yang ada di depanku. Sesekali, petir menyapaku yang saat itu tengah menanti kabar yang tak pasti. Angin yang bertiup kencang seakan memberi arahan agar segera ku kembalikan lipatan baju itu ke dalam lemari. Tapi, apa boleh dikata. Janji yang sudah terukir dua minggu sebelumnya tak mungkin terbatalkan, daerah –Aceh Besar— akan menjadi taruhannya. Dan aku tidak mau jika itu terjadi.

Di tengah kerisauanku yang semakin mendalam. Tetiba, Nokia X3-02 yang ku beli sejak 2011 silam itu berbunyi. “DW Ka Nanda” muncul di layarnya. “Yang mana, kakak udah sampai di depan meunasah ini” tanyanya dengan sedikit berteriak.

Depan lagi kak, ada batang mangga di depannya” sahutku. Tak lama, berdirilah sebuah mobil Avanza di seberang jalan. Genangan air yang merendam hampir seluruh taman rumah membuat sepatuku basah. Tak ada celah untuk menghindar saat itu. Amukan dari atas semakin menegaskan aku tidak usah ikut.

“masya Allah, hujannya lebat sekali” ucapku kala menutup pintu mobil.
“Iya, tidak berhenti-henti sejak dari tadi pagi. Kita mau lewat mana nih” Tanya sang supir, yang pada akhirnya aku tau bahwa itu adalah ayahnya ka Nanda.

“Terserah papa aja” sahut ka Nanda yang duduk tepat di bangku belakang.

Lima menit berlalu.

Sampailah kami di depan Hotel Meurah Mulia, Lamnyong, Banda Aceh. Jalanan yang masih becek tak mungkin bagi kami berjalan seakan-akan kami sedang berada di atas red carpet. Tak ada table manner apalagi eleganitas. Lenggok-lenggak sebagaimana terpaparkan selama ini di layar kaca. Hilang. Akibat hujan yang menghadap. 

Kami tak tau, apakah ini akan berpengaruh pada hasil akhir atau tidak. Ntah lah, meskipun sore itu. Kami dengan bangga menyatakan bahwa kami adalah perwakilan kabupaten Aceh Besar dalam pemilihan Duta Damai provinsi Aceh. Yang dipuncak perhelatan nanti, kami akan mendampingi Wakil Presiden Indonesia, Bapak Yusuf Kalla. Di Taman Ratu Saifuddin dalam rangka 10 Tahun MoU Helsinki. 
Kalla, tentu sangat dekat dengan acara ini. Betapa tidak, saat penandatanganan dokumen ini 12 tahun silam, Kalla adalah perwakilan Indonesia yang hadir ke sana. Meskipun, bukanlah Kalla yang menjadi tokoh perdamaian Aceh.

Hujan yang terus menguyur kota Banda Aceh, membawa efek bagi semua, peserta pemilihan Duta Damai Provinsi Aceh. Kasur dan pisang goreng tentu padanan yang pas kala itu. Lagi-lagi apa mau dikata. Hujan membawa menghalangi semuanya. 

10 tahun Aceh damai. Ini kali pertamanya, Aceh memiliki Duta Damai. 
Menjadi seorang Duta Damai bagi daerah yang konflik berkepanjangan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak regulasi kebijakan dan pelajaran yang harus diambil dan dipelajari. Berat, pasti ku rasa. Tapi beban berat hanya akan terasa berat jika dipikirkan namun jika dijalankan dengan ikhlas, tentu akan terasa ringan sendirinya. 

Ini pesan singkat yang terus ku ingat, kala mengikuti setiap kegiatan. 

Pemilihan Duta Damai Aceh ini, diikuti oleh 34 pemuda/i perwakilan kabupaten/kota dan mahasiswa berprestasi asal universitas ternama di Aceh --Unsyaih, UIN ArRaniry, Abulyatama Serambi Mekkah etc--. 

Ku perhatikan satu persatu wajah, ah sebagian besar adalah pemuda/i berprestasi nanggroe. Spritiku kala itu, sempat surut as usual. Tapi kukembalikan pada target awal. 

Aceh Besar, sebagai daerah yang ku wakili tak boleh kecewa. Namanya harus kembali bergaung sebagaiamana bergaung dalam ke pemilihan Duta Wisata Aceh, yang selempang duta wisata Aceh. Kala itu diberikan kepada perwakilan Aceh Besar, Meriza Akbar. 

Ada beban moral besar, memang. Tapi aku mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Perjalanan hari pertama sampai dengan hari ketiga, dihiasi dengan penyampaiannya materi oleh sejumlah pakar, sebut saja materi tentang MoU Helsinki, Syariat Islam, Kepemerintahan, Adat Istiadat dan lain-lain. 

Aku berasa bersyukur bisa hadir dalam forum ini. Sekurang-kurangnya ada ilmu dan teman baru yang ku dapat. Nah, bagaiamana dengan juara? 

Tetap, ia fokus yang utama. Tapi tidak mengesampingkan nilai pertemanan yang terbangun. Bagiku, friend tetap penting. Meskipun, pada saat itu kami sedang berkompetisi satu sama lainnya. 

Namun, siapa sangka. Badai sore selasa, 10 November 2015 silam telah mengantarkan kami sebagai pendamping orang nomor dua di Indonesia. Mahkota sebagai pribadi yang membawa kedamaian dan mampu menjadikan Indonesia yang lebih baik dengan bekerja sama telah tertoreh di kepala ku.

Wakil 1 Duta Damai Aceh, puncak dari segala perjuangan.
                            Klik link ini
    Duta Damai Aceh 2015








Wednesday, 9 August 2017

Dinas Pendidikan Dayah Aceh fasilitasi 40 santri ilmu komputer

Aula Andika Fikrullah Albalad
Doc.pribadi
Secangkir es teh menghiasi meja warung kopi Duek Pakat, Lamteh. Saya yang masih disibukkan dengan laporan harus merelakan kehangatan duduk di warung kopi itu lenyap. Sementara Irfan dan Akhi, dua sahabat saya yang masih jomblo ini, sesekali menghibur diri dengan mengecek notifikasi di telepon pintar milik mereka.

"Lon izin, untuk lon angkat telepon siat beh," pinta saya ke mereka

Dan seperti biasa, Irfan menyelutuk "sibuk that goo," 

Dari layar telepon Nokia X302 yang saya genggam, terlihat nama yang tidak asing. Hingga kemudian Tanggal 08-12 Agustus, ada kegiatan apa Aula. Na undangan nyoe dari Dinas Pendidikan Dayah...” sapa ummi dari kejauhan.

Izin lon kabari entrek malam, jet Ummi.” Izin saya


Secara kebetulan, buku agenda yang biasanya selalu tersedia di dalam tas. Tidak saya bawa pada sore itu. Jadinya saya menunda menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh pimpinan yayasan Nurul Ilmi, Meunasah Kalud, Aceh Besar ini.


Yaa, sedari 2011 dulu, saya telah mengiikrarkan diri untuk well-time management. Meskipun tak jarang, teman-teman sering mengejek akan hal ini. Label a, b dan c sudah sangat sering saya nikmati. But I enjoy every detail it. Karena, saya yakin ke depan ini akan sangat bermanfaat untuk pribadi yang maju dan sekitarnya.


Malamnya, takut jika menganggu, akhirnya saya sms kembali Ummi, dan menyatakan kesediaan saya untuk ikut. Setelah sebelumnya memastikan bahwa di tanggal yang disebutkan oleh Ummi saya tidak ada satu agenda apapun. 

Penyematan tanda peserta



Berbicara tentang era globalisasi sekarang ini, keberadaan telepon pintar sebagai bagian dari teknologi sangatlah membantu memudahkan kehidupan manusia. Teknologi hari ini, telah memaksa kita semua akrab dengan yang namanya android dan bahkan komputer. Bagi mahasiswa, keberadaan laptop atau komputer adalah kebutuhan primer yang wajib dipenuhi tanpa bisa kompromi.

Dinas Pendidikan Dayah (DPD) Aceh, di bawah kepemimpinan Bapak H Bustamin Usman, sepertinya paham dengan betul. Bahwa transformasi dari manual ke sebuah sistem haruslah dilakukan oleh semua elemen masyarakat. Termasuk dalam hal ini, para pegiat keagamaan (tgk/santri). Jika tak dibekali. Maka anak-anak didik DPD akan ketinggalan seribu langkah. Jika sudah begini, saya yakin, pak Bus  juga yang akan kewalahan dalam mereaslisasikan program-program kemasyarakatannya.

Berangkat dari kekhawatiran ini lah, sebanyak 40 santri dayah se-Aceh digaet untuk ikut pelatihan komputer, 08-10 Agustus 2017, bertempat di International Sulthan Hotel, Peunayong, Banda Aceh.

Pak Bus, selaku Kadis Pendidikan Dayah Aceh, dalam kata sambutan yang dibacakan oleh sekretarisnya menyebutkan bahwa, "era teknologi informasi saat ini telah berhasil mengubah segalanya menjadi lebih instan, sebut saja. Jaman kami dulu, mengetik harus dengan mesin tik, yang jika salah ketik satu huruf saja maka akan susah. Berbeda dengan sekarang, saat mengetik dan salah cukup tekan backspace atau delete saja. Jadi tgk-tgk dan ummi-ummi semoga bisa memanfaatkan pelatihan ini dengan baik, sehingga ada yang bisa dibawa pulang ke pondoknya masing-masing. Insya Allah, makan sehari tiga kali, snack dua kali, dan akan ada uang saku dan transport saat selesai acara nanti" tutup beliau dan disambut gelar tawa dari kaum berpeci itu.

Saya yang saat itu, duduk di bangku paling depan juga ikutan tersipu senang dan sangat sepakat dengan pernyataan ini. Terang saja, pesantren dalam peradaban masyakarat Aceh telah melakukan sumbangsih yang sangat besar. Pesantren bukan lagi sekedar rumah  bagi santri yang menimba ilmu di dalamnya. Tetapi, ia telah mentransformasi diri menjadi lembaga amal bagi sejuta umat. Setiap lini persoalan bangsa dan negara dibahas di sini. Sebut saja, ilmu agama dan detailnya yang sudah menjadi makanan pokok, ekonomi, politik, dan kemasyarakatan. Maka sangat disayangkan jika kemudian, besarnya kontribusi yang telah diberikan oleh pesantren bagi kemajuan peradaban manusia tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas penghuni di dalamnya, terutama sekali berkaitan dengan manajemen administratif.
Here my best.



Sebagai pribadi yang concern dan memiliki ketertarikan di bidang Instructional/educational technolgy, saya mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Dayah Aceh, yang telah mau mengelontorkan sedikit dananya untuk menjembatani kebutuhan yang harus dipenuhi oleh masyarakat pesantren. Semoga saja, pelatihan ini masih dapat dilanjutkan dengan materi-materi yang lebih up to date, seperti design grafis and bahkan how to design  the learning-teaching activities by using technology etc.

Coba saja kawan-kawan baca sejumlah jurnal di laman ini,  insya Allah akan semakin gigeh untuk mentransformasikan technology dalam pendidikan di pesantren. Next post, insya Allah saya akan posting proposal penelitian yang telah saya selesaikan terkait dengan isu ini. Mohon doanya, semoga para penyedia beasiswa gigeh untuk menerima saya. Amiiin.


Atau, Dinas Pendidikan Dayah Aceh bersedia menyekolahkan pendidikan magister saya untuk menekuni di bidang ini, masya Allah sujud syukur walhamdulillah wasubhanallah dah jika niat ini bisa terealisasi.  Berhubung, masih belum ada penyedia beasiswa ke luar negeri yang bersedia menerima saya dan juga belum ada alumni pesantren yang menekuni bidang ini... Insya Allah, after completing my master program saya siap abdi dengan baik untuk agama, bangsa dan negara. Pastinya, kemajuan pendidikan wabil khusus pendidikan di pesantren di Aceh bukan lagi sebuah isapan jempol di siang bolong.



Tuesday, 8 August 2017

Pre-Event Saman Pengawal Leuser di mata Lily si Gadis asal Taiwan

Aula Andika Fikrullah Albalad


Suasana Taman Sari, Banda Aceh sore 5 Agustus begitu syahdu. Gemuruh awan hitam yang sedang bertarung di atas sana, tak menyurutkan semangat masyarakat untuk hadir ke taman kebanggaan masyarakat, Banda Aceh yang saat itu sedang berlangsung pre event Saman Pengawal Leuser, di inisiasi oleh USAID Lestari.

Sambil menikmati somai goreng yang saya beli selepas shalat ashar, di Mesjid Raya Baiturrahman, mata saya tertuju pada seseorang. Perawakannya begitu beda diantara pengujung lainnya. Sekilas pikiran saya mengatakan bahwa mereka adalah pendatang.






"Hi," sapanya.

Hi, I am Aula, you?” balas saya

“Lily, el ai el wai, Lily.” Sambil menunjukkan ukiran inai di tangan kirinya.

"Bukan Indonesia." Kata hati saya. 

Saat mengetahui Lily bukan asal Indonesia, dan baru pertama kali ke Indonesia. Saya nyeleneh  dan kemudian menanyakan pertanyaan sejuta umat  kepadanya, "Lily, are you coming to Banda Aceh for a week. What are you doing here?"






Nothing, Aula. We are just enjoying Indonesia" pungkasnya singkat.

"So, how do you feel now. I mean about the event" pertanyaan sejuta umat kedua.

Lily tampak sedikit terkejut, kala pertanyaan ini saya utarakan. Namun ia mencoba tenang meskipun dari patu wajahnya ia tampak kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya itu dalam bahasa inggris.

Lily masih tampak belum begitu familiar dalam berbahasa Inggris, itu tampak saat iya berbicara sedari awal. Namun, ia tetap ingin mengungkapkan kekagumannya akan acara yang dihandle oleh AK Production Event.


Sembari sekali-kali melihat hp miliknya, Lily menyatakan bahwa yang " Saya sangat takjub dengan acara ini. Desain taman yang kreatif. Seakan-akan saya sedang berada langsung di gunung itu sehingga sangat mendukung kampanye penyelamatan akan gunung itu," imbuh singkat Lily.

Belum juga saya menarik nafas. Lily kembali menyambung, "Alam Indonesia itu sangat bagus dan asri, Aula. Sangat disayangkan apabila di kemudian hari terjadi pembabakan liar. Mengingat alam merupakan satu-satunya tempat bernaung satwa-satwa langka. Aceh dan Indonesia patut bangga dengan itu. Saya sebagai warga asing, melihat ini sebagai emasnya dan permata berharga. Andai, di Taiwan sana ada hal seindah dan sebagus Leuser. Saya tidak dapat membayangkan betapa bahagianya masyarakat di sana. Tapi, apa mau di buat. Indonesia jauh lebih beruntung. " Terang Lily dan saya cuma teu tahe-tahe 






Unik dan Kreatif!

Lily mengatakan bahwa dua kata di atas cukup mewakili akan konsep acara pre event Saman Pengawal Lesuer yang digagas oleh USAID Lestari dan AK Production event. Saya sendiri pun menerka bahwa acara ini bukanlah sekedar ceremonial biasa. Terlebih, kala itu saya mengetahui bahwa malam nanti akan akan ada pementasan flashmob oleh 90 penari Saman yang terdiri dari siswa perwakilan SMA di Banda Aceh dan Aceh besar serta masyarakat umum.

Wah, tentu akan semakin menarik acara ini.

Bukan hanya flashmob tari Saman saja yang menghiasi pre event saman pengawal leuser ini. Sejak sore hari saat saya berbincang dengan Lily. Lomba mewarnai untuk anak TK dan SD juga berlangsung, di saat itu pula ada talkshow inspiratif bertema kyang di hadiri oleh pakar ternama, yakni Ampon Yan dan Rajabahri. Tidak berpuas dengan ini saja, Usaid Lestari seperti paham betul bahwa ini era technology, hingga jauh hari sebelumnya mereka juga menyelenggarakan lomba blog, video dan foto bertema merawat konservasi. Yang pengumuman ke semua lomba itu akan diumumkan sesudah penampilan Tari Saman di Taman Bustanul Salatin, ini.

Benar adanya, mengawal Leuser bukanlah kewajiban masyarakat yang ada di kawasan itu saja. Tapi menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua. Karena titah manusia diciptakan oleh Allah adalah sebagai khalifah. Bukan hanya untuk manusia itu sendiri, tapi juga untuk seluruh makhluk Allah yang lain. Dunia ini, salah satunya.



 Jangan sampai kita semakin menebal dompet pribadi lantas mengorbankan kehidupan yang lain. Jika itu terus terjadi, maka tidaklah pantas kita diberi kesempatan untuk hidup. Sebab, manusia yang baik adalah yang selalu membawa manfaat untuk yang lainnya.


"Aula, nice to see you. Bye," Bye dari Lily, si gadis Taiwan berkerudung ungu itu mengakhiri kebersamaan saya di Taman Sari, sore itu.

Lily


Tuesday, 18 July 2017

Cerita Rakyat dari Aceh: Putri Pucuk Geulumpang

Aula Andika Fikrullah Albalad
" Kandungan ku sudah tujuh bulan kanda, " sebut sang istri
" Baiklah, saya akan berangkat hari ini. Jika anak kita sudah lahir, tolong bunyikan rantai tembaga jika jenis kelaminnya perempuan dan bunyikan rantai perak jika ia laki-laki. Aku akan pulang mendengar isyarat itu" kata sang bangsawan sembari menunggangi kuda miliknya.
Ucapan bangsawan ini merupakan inti hasutan yang disampaikan oleh dua temannya, Lesamana dan Pedanelam. Yang menginginkan sang bangsawan melenyapkan keturunannya. Terlebih jika itu adalah anak perempuan.

Dua bulan berlalu.
Sang permaisuri kini telah dikaruniai seorang anak. Alis dan rambutnya nya hitam dan tebal, matanya yang kebiru-biruan serta kulitnya yang putih langsat semakin melengkapi kecantikan sang Putri.
Duduk sambil membelai sang anak, si ibu tetiba teringat akan kandungan yang tersirat dalam amanat suaminya.
Rantai perak adalah isyarat bahwa sang suami akan memenjarakan anaknya. Adapun rantai tembaga adalah isyarat bahwa ia akan membunuh sang anak.
Dalam lamunan panjangnya, istri memikirkan jalan yang akan ia tempuh untuk menyelamatkan sang anak.
Rasa keibuannya itu menghantarkan ia sebuah jalan keluar.
Anaknya yang cantik itu dibawa ke dengan hutan yang lebat. Dipertengahan jalan ia menemukan sebatang pohon geulumpang yang besar. 
Berderaian air mata ia memancat pohon itu dan meletakkan sang buah hati di sana dan berbisik ke sang phon agar menjaga dan merawat anaknya dengan baik.

Di perjalanan pulang, ia menangkap seekor kambing dan menyembelihnya. Daging kambing itu dimasak menjadi gulai. Adapun kepalanya dikuburkan di dekat perapian.
Setelah semua selesai. 
Ia pukul rantai tembaga yang telah ia siapkan dengan sangat kencang. 
Bunyi pukulan ini terdengar hingga ke pulau pinang, tempat sang suami berniaga.

Mendengar loncengan tembaga, sang bangsawan bergegas mengemasi barangnya dan pulang.
Sesampainya di dalam rumah Bangsawan buru-buru menemui istrinya, “Di mana anak kita?” Ujarnya dengan muka merah padam.
Anak kita telah hamba sembelih, Kanda. Inilah dagingnya sudah dibuat gulai untuk kita makan bersama-sama. 

Bagus! Mari kita makan bersama-sama!” Bangsawan Besar mengajak pengiringnya untuk makan bersama.
Mereka makan dengan lahap.

Saat sedang lahap menyantap gulai kambing yang dikira adalah daging putrinya. Terdengar dari luar " klik klik klik, mereka bukan makan daging manusia. Klik klik klik, mereka makan daging kambing" sebut suara sambil menghilang terbawa angin
Bangsawan curiga takkala suara itu kembali terdengar ke sekian kalinya. Kecurigaan itu semakin besar saat ia melihat kepala kambing di dekat perapian.
" Kau bawa ke mana anak ku atau ku bunuh kau" tanya sang bangsawan kepada istrinya dengan lantang.
Dengan muka pucat basi dan badan gemataran si istri pun menjawab " Dia ada di hutan"
" Bawa pulang ia sekarang juga" perintah sang bangsawan.
Tertatih si istri berjalan menuju tempat persembunyian sang anak.
Sesampai di pohon Geulumpang tersebut ia memanggil sang anak dan mengatakan " Anak ku, turun lah. Ayah mu sudah pulang dan membawa perhiasan untuk mu"
" Ibu katakan pada ayah, bahwa aku belum bisa bertemu dengannya. Aku sedang menanam kapas saat ini" jawab sang anak.
Permintaan pertama, kedua, dan ketiga sang anak masih belum mau menemui sang bangsawan.
Hal ini memancing amanah sang bangsawan hingga ia meminta teman-temannya menyiapkan dua puluh bilah pedang yang telah di asah tajam dan soit berserta anak sumpitnya. 
Sesampai di hutan, maka di susun lah pedang-pedang tadi hingga berbentuk menyerupai anak-anak tangga.
" Anakku, ibu datang bersama ayahmh. Kami menjemputmu. Turunlah anakku. Ini tangga sudah  dipasang oleh ayahmu. " bujuk sang ibu dengan suara lirih.
Mendengar suara ibunya dari bawah. Sang anak bersiap-siap turun menemui kedua orang tuanya. Tetapi sebelum melangkahkan kaki menelusuri anak tangga. Ia berpamitan dan mengucapkan terima Kasih kepada sang pohon karena selama ini telah menjaga dan merawatnya.
Saat kaki menyentuh tangga pertama, sumpit yang ditembak dari bawah oleh sang bangsawan mengenai sanggul sang Putri.
" Apa ini Bu? tanya Putri itu.
" itu tusuk sanggul yang dibawa oleh Ayah mu dari Pulau Pinang" Jawab ibunya.
Di tangga ke dua, sumpit itu mengenai telinganya. 
Ditangga ketiga, lehernya. 
Setiap anak tangga yang di injak oleh sang Putri, maka sumpit itu mengenai dada, pinggang, perut, paha dan kaki sang Putri.

Dan di tiap tangga itu pula ia menanyakan " Apa ini bu? "
Ibunya pun selalu menjawab " itu oleh-oleh sang ayah untukmu"
Saat kaki sang Putri menyentuh tanah, tidak sedikitpun tubuhnya terlukai oleh sumpit sang bangsawan.
Mengetahui, cara ini belum berhasil. Di temani kedua temannya, sang mengatur strategi untuk membawa pulang sang Putri ke rumah dengan maksud akan membunuhnya di sana.
Rencana sang bangsawan sedari awal telah tercium oleh sang Putri. Maka dengan tegas ia nyatakan " Ayah, jika engkau mau membunuh ku maka dirikan pohon pisang  di sebelah kiri ku. Karena bila ayah memancung ku secara langsung, sungguh ayah tidak akan sampai hati melakukannya"
" kalau begitu saran mu, aku terima. "
Dibantu oleh Lesamena dan Pedanelam, sang bangsawan menyiapkan sebatang pohon pisang dan disisi kanan berdiri sang Putri.
" Ayah, tolong minta kan kedua teman mu untuk pergi. Aku hanya mau melihat wajah mu saja dan tolong pejamkan mata mu juga" ucap sang Putri.
Sambil memejamkan mata, ia mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat. Disaat pedang berada diatas kepala, sang Putri menyangkut baju dan celana yang ia tenun di ujung pedang tersebut. Setelahnya ia lari dan bersembunyi di semak belukar di sekitarnya.
Ayungan pedang sang bangsawan telah berhasil menghembas Batang pisang menjadi dua. Seketika, ia melihat baju dan celana yang ditenun oleh sang Putri. Dengan muka penuh penyesalan ia memanggil sang Putri " Anakku, Anakku maafkan aku anakku. Aku tidak pernah memberi mu segelas air dan sesuap nasi. Tapi kau memberiku hadiah ini. Betapa setianya engkau. Aku menyesal anakku. Maafkan aku. Hati ku telah tertutup hingga nau mendengar hasutan setan berwajah manusia itu. Kembalilah anakku. "Teriaknya menyesali perbuatannya.
Sambil menangis ia mendatangi Lesamana dan Pedanelam. " Ini untuk mu" sambil menghunus pedang tersebut. 
Setelahnya ia mengayuhkan pedang itu kepda dirinya sendiri

Sang Putri yang bersembunyi di semak belukar tak dapat mencegah ayahnya.



*foto oleh googledotcom

Friday, 14 July 2017

Why I read a book, and why you should too.

Aula Andika Fikrullah Albalad
Its English day, so I want share you my resume after watching a great video I have ever watch last year. I watch this video twice a month to enhance my spirit to the top. Hehehehe.

Reading book has being a part of my life, this hobby has led me to be the Reading Ambassador of Aceh Province or Raja Baca provinsi Aceh, or most people say "duta baca Aceh", at the end of 2014 elected by Government of Aceh.

Actually, this article I adopt from TEDx which told by Tai Lopez. 
 Here I start it

"Everyone wants the good life but not everybody gets the good life. Imaging for a second, if right now. Today, how much more successful could you be if you just start a company 50:50 with Bill Gates as your business partner?  Warren Buffett was your investment advisor, Finding mentors like this is one of the biggest predictors of your future success.As Picasso said, “Good artists copy, great artists steal.”
Imaging how much happier you be today, if the Dalai Lama as your personal guide shown you. How to find the little things f that most people get lost in that. Mentors have the power. But in this talk (article) I would like to tell,  how mentors more powerful to transform our life. In this life, everybody wants get something, but again not everybody gets what they want. I would like to tell a little bit about that, because life is short and not everyone is willing to do what it takes. You must be different. You must do what most won’t.


As Thoreau says, “The mass of men lead lives of quiet desperation. What is called resignation is confirmed desperation.”
So let this talk inspire you to read a little more, search a little harder, find a few more mentors, and rise above a life of mundane compromise and resignation as you stretch further towards the “Good Life.”
In this talk, Tai Lopez, investor, entrepreneur, and Mensa member, shares why he reads one book a day.
Tai says, “Books allow you to simulate the future without having to actually do all the trial and error yourself...”
At age 16, Tai realized that life was too complex to figure out on his own.
So Tai wrote a letter to the wisest person he knew, his grandfather - a scientist - and asked for the answers to life’s hard questions.
Tai was disappointed with his grandfather’s reply. There was no “secret formula.” The letter simply said, "Tai, the modern world is too complicated. You’ll never find all the answers from just one person. If you’re lucky, you’ll find a handful of people throughout your life who will point the way."
But one week later his grandfather sent a package containing an old, dusty set of eleven books with a note, "Start by reading these."
That began Tai’s habit of reading on his search for what he calls the "Good Life”: the balance of the four major pillars of life - health, wealth, love, and happiness.
Over the years, Tai sought out the secrets to that “Good Life” by setting up his life as a series of experiments. He began by first reading thousands of books from the most impactful figures in history: Freud, Aristotle, Gandhi, Charlie Munger, Sam Walton, Descartes, Darwin, Confucius, and countless others.
He spent two-and-a-half years living with the Amish; spent time working at a leper colony in India; and helped Joel Salatin pioneer grass-fed, sustainable agriculture on Polyface Farms.
He then joined the long list of college dropouts-turned-entrepreneurs and ended up completely broke (sleeping on his mom’s couch) until he talked five, multi-millionaire entrepreneurs into mentoring him.


Tai went on to become a Certified Financial Planner and worked in the world of finance before becoming a founder, investor, advisor, or mentor to more than 20 multi-million dollar businesses while settling in the Hollywood Hills.
He appeared on various TV and radio shows, spoke at top global universities like The London Business School and the University of Southern California, and created one of the top downloaded podcasts and YouTube channels,
“The Grand Theory of Everything.”
In order to get feedback from an even larger audience, Tai started what is now one of the world’s largest book clubs which reaches 1.4 million people in 40 countries with his "Book Of-The-Day" free email newsletter.
Tai recently summarized all he has learned from his mentors and compiled them into a series of ‘mentor shortcuts’ he calls, "The 67 Steps."
In this talk, Tai shares a few of these “67 Steps” with you:
1. “Picasso’s Rising Tide and the Law of 33%"
2. “Sam Walton’s Night In A Brazilian Jail”
3. “The New Rules Of Reading”
4. “Stoic vs. Epicurean” "
As a reading ambassador of Aceh, the western province of Indonesia. I would like to ask you, let's start our day by reading a book.
Insya Allah, I do believe  Aceh could be the best province ever..
Lastly, Ayo Membaca, insya Allah, Aceh Berjaya.



Wednesday, 5 July 2017

Ini Sejumlah Tumpuan Harapan Masyarakat untuk Gubernur Baru Aceh, Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah.

Aula Andika Fikrullah Albalad


Judul ini aku rasa tepat, untuk mengambarkan euforia pasca pelantikan oleh Menteri Dalam Negeri, Thaja Kumolo akan gubernur terpilih drh. H. Irwandi Yusuf. M. Sc dan Ir. H. Nova Iriansyah. M. T pada pesta demokrasi Pilkada Aceh beberapa waktu lalu.

Pesta demokrasi Aceh yang telah selesai dihelat awal februari lalu, sejatinya masih meninggalkan banyak kesan mendalam bagi tiap insan di Aceh. Pertarungan enam kandidat dengan latar belakang akar rumah politik yang sama. Telah menjadikan warna pilkada Aceh tahun ini menjadi semakin berwarna layaknya rujak Blang Bintang. 

Sebut saja, ada Muallim dari Partai Aceh (PA), Doto Zaini dari PA, Apa Saman dari PA, dan akhirnya duduk dengan gagah perkasa, Irwandi Yusuf, yang juga "mantan penghuni PA" bersama koleganya Nova Iriansyah sebagai tabuk gubernur Aceh periode 2017-2022.

Kembali terpilihnya Irwandi Yusuf sebagai gubernur Aceh, tentu mengindikasikan bahwa kepemerintahannya di masa lalu berhasil mengukir sebuah senyum di tiap wajah masyarakat Aceh. Sejalan dengan itu semua, masyarakat Aceh telah menanti terobosan-terobosan baru di bawah komandonya.


Berikut ini, harapan-harapan masyarakat Aceh terhadap Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah, yang ku himpun dari group whatapps dan akun facebook.


1. "Harapan ulon tuan, semoga setiap harapan yang diharapkan menjadi kenyataan sesuai dengan yang diimpikan "harapan yang begitu filosofi ini dikemukakan oleh owner catatanfiqih.com yakni, tgk. Saiful Hadi.

2. "Semoga ada bantuan mahar buat pemuda-pemuda yang ingin menikah" harapan baper ini tercetus dengan sadar, terstruktur dan terencana oleh Fery Mardiansyah. Pemuda Ulee Kareng yang dari bau tulisannya akan segera mendaftar ke Kantor Urusan Agama. 

3. "Pak wandi bek kawen le. Kasep nyan terakhir. Sayang ureng agam yg laen  hana le jatah . Abeh di kawen pak wandi mandum." Isu nikah sepertinya masih menjadi topik hangat di warung kopi di Aceh. Terbukti, oleh Khairul Rizal, polisi Aceh Besar ini kembali menularkan perihal yang bikin jomblo ini baper. 

4. "Semoga bapak gub dan wagub yang baru saja di lantik bisa tegas terhadap koruptor, mementingkan rakyat bukan partai, dan jangan hanya tentang bendera tapi sejahtera masyarakat." Aceh yang menduduki peringkat pertama sebagai provinsi paling terkorup di pulau Sumatra, rasanya membuat kekhawatiran bagi pemuda lulusan Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas Syiah Kuala ini. Novianza menaruh harapan besar, semoga Aceh tidak kembali mencapai prestasi memalukan itu. 

5. "Profesional (tidak mementingkan kalangan dan keluarga sendiri tapi lebih mengutamakan masyarakat), tidak korupsi, bisa membangun Aceh ke arah lebih baik dan lebih bersyriah" oleh ka Bety, staff pegawai sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) ini menyatakan dengan tulus hati. Yaa, kita doakan saja. Harapan pengantin baru ini Allah ijabah. 

6. "Harapan saya sama pak gubernur dan wakil gubernur: Pertama, transportasi masal angkutan seperti kereta api dari Banda Aceh samapi Aceh Tamiang di buat, angkot di setiap kota diadakan, dan program yang telah disebutkan saat kampanye dijalankan semua, jurdil dalam memimpin." Oleh Muh Akbar. Amiiin 

7. "Asal gubernur dan wakilnya kompak aja. insya Allah Aceh maju. ini hal yang gak kita jumpai lima tahun yang lalu." oleh Jurnalis, putra Aceh yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan international di Singapure. Sepadan dengannya,  Ka Pustaka Unsyiah, Taufik Abdul Gani juga menyampaikan agar bang Agam "sebutan akrab untuk Irwandi Yusuf" agar jangan berantam bersama wakilnya. 

10. "Listrik beres" Persoalan ini memang menjadi tabuk dari berbagai persoalan di Aceh akhir-akhir ini. Bahkan ramadhan lalu, meskipun sang General Manager PLN Aceh, sudah menyatakan listrik tidak akan pernah padam. Namun tidak dapat dibuktikan dengan tepat janjinya.Mati lagi. Seperti pemuda Sabang ini menjadi langganan kala listrik mati. Sabar ya Rizal, semoga di bawah bang Wandi listrik aman sentausa. 

11. "Beasiswa LPSDM kembali dibuka untuk S2 S3 Dalam Negeri" program ini menjadi andalan utama kala bang Wandi memimpin Aceh dulu. Terbukti, banyak pemuda/i Aceh yang berhasil melanggengkan mimpinya untuk mngecap kursi di universitas di luar negeri. Yaa, M. Reza, berharap agar kembali bisa mengecap mimpinya yang hampir punah itu. 


12. "Pokoknya harapan abang sama dengan harapan Aula" begitu ucapnya tegas, gak pake koma. Assalamualaykum saja untuk mu bang Edi Fadhil.

13. "Kini saya dan warga menanti gebrakan anda bg wandi, khususnya tentang energi listrik.. PLN di Aceh harus direformasi total oleh Gub Aceh, jangan sampai ada lagi pemadaman rutin dan sering di Aceh, demikian juga dengan JKA yang saya rasa jauh lebih bagus dibanding pelayanan BPJS sekarang yang merepotkan rakyat, perluasan lapangan kerja masyarakat, serta beasiswa utk generasi masa depan Aceh." demikian ungkapan politikus Aceh, jebolan Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) Bang Irwansyah S. T sebagaimana terlampir di status facebooknya.

14. "Pengen gubernur penghafal alquran dan jago bahasa Arab. Gak mesti 30 Juz, juz 30 juga oke. Setidaknya ada hafalan dan tau artinya plus dijalankan  isi kandungan akan alqur'an itu." demikian curahan hati, pemuda shaleh menantu idaman Fadhil Ismi melalui akun whatsappnya.

Segala harapan yang tersajikan di atas, hanyalah secuil dari sekian banyak harapan masyarakat Aceh pada tabuk kepemimpinan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah. Sebagai warga yang baik, kita berdo'a saja, semoga Allah karuniakan kebaikan dan ketaatan kepada mereka.

Welcome back captain!

*Foto oleh google

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Aula Andika FA| Templatelib